Showing posts with label Wacana. Show all posts
Showing posts with label Wacana. Show all posts

Friday, November 22, 2019

Pengertian Wacana Menurut Para Ahli Bahasa

Guruberbahasa.com- Pengertian Wacana


Batasan  maupun definisi  wacana  yang  dikemukakan  oleh para  ahli  bahasa masih  beragam.  Ada  perbedaan  antara  satu  pengertian  dengan  pengertian  yang  lain.  Akan  tetapi  masih  ada  persamaan  antara  teori - teori  tersebut.  Berikut  adalah  beberapa  definisi tentang wacana yg dikemukakan oleh para ahli. 

Harimurti  Kridalaksana  (dalam  Sumarlam,  et,al ,  2005:5)  mengartikan  bahwa  wacana  ( discourse ) adalah  satuan  ba hasa  terlengkap;  dalam  hierarki  gramatikal  merupakan satuan gramatikal tertinggi maupun terbesar.  Dia menegaskan hal yg paling  penting dalam wacana adalah  keutuhan maupun kelengkapan maknanya. Adapun bentuk  kongritnya angsal berupa kalimat, kata, paragraf, karangan utuh. 

Di  dalam  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia  (Edisi  ke - 3) dinyatakan  bahwa  wacana merupakan kelas kata benda (nomina) yg mempunyai arti sebagai berikut. 

a. Komunikasi verbal; percakapan; 
b. keseluruhan tutur yg merupakan suatu kesatuan;  
c. satuan  bahasa yang  terlengkap,  yang  direalisasikan  dalam  bentuk  karangan  atau  laporan yg utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, maupun khotbah; 
d. kemampuan  atau  prosedur  berpikir  secara  sistematis;  kemampuan  atau  proses  memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat ; 
e. pertukaran ide secara verbal (Tim Penyusun, 2002: 1264). 

Di  dalam  buku  Pengajaran   Wacana ,  Henry  Guntur  Tarigan (1987: 27)  memberikan  definisi  sebagai  berikut,  “wacana  adalah  satuan  bahasa  terlengkap  dan  tertinggi maupun terbesar di atas kalimat maupun kluasa dengan koherensi bersama kohesi tinggi  yang  berkesinambungan  yang  mempunyai  awal  dan  akhir  nyata  disampaikan  secara  lisan maupun tertulis.” 

Renkema   (dalam   Sumarlam,  et,al ,   2003:11)   mengemukakan  ‘Discourse  studies is the  ddicipline  devoted to the invesgation  of teh  relationship  between  form  and  function  in  verbal  comunity’. Studi  wacana  adalah  disiplin  (ilmu)  yang  ditekuni  untuk mencari hubungan antara bentuk bersama fungsi di dalam komunikasi verbal. Lebih  lanjut  ia  menjelaskan  dari  definisi  tersebut  angsal diketahui bahwa  studi  wacana  satu  merupakan   disiplin   ilmu   tersendiri   (dalam   dunia   linguistik)   yang   bertujuan  menyelidiki  bukan  hanya  hubungan  bentuk  dan  makna,  melainkan  juga  keterkaitan  antara  bentuk  dan  fungsi  bahasa  dalam  komunikasi  yang  menggunakan  bahasa  sebag ai sarananya. 

Soeseno  Kartomiharjo  (dalam  Sumarlam,  et,al ,  2003:10)  menyatakan  bahwa  “analisis   wacana   merupakan   cabang   ilmu   bahasa   yang   dikembangkan   untuk  menganalisis  suatu  unit  bahasa  yang  lebih  besar  dari  kalimat  dan  lazim  disebut  wacana.   Unit   yang  dimaksud   dapat   berupa   paragraf,   teks,   bacaan,   undangan,  parcakapan, cerpen, bersama sebagainya.”

Thursday, November 21, 2019

Jenis-Jenis Wacana Menurut Para Ahli

Guruberbahasa.com - Jenis - Jenis Wacana 

Tarigan  (1987:57 - 59)  membagi  wacana  berdasarkan  bentuknya  menjadi  tiga,  yaitu  wacana  prosa,  wacana  puisi,  dan  wacana  drama. Wacana prosa  adal ah  wacana  yang  disampaikan  dalam  bentuk  prosa.  Wacana  ini  dapat  tertulis  atau  lisan,  dapat  berupa wacana langsung alias tidak langsung, bisa pula pembeberan alias penuturan.  Contoh  wacana  prosa  tulis  misalnya  cerita  pendek  (cerpen),  cerita  bersambung  (cerbu ng),  novel,  artikel,  dan  undang - undang;  sedangkan  contoh  wacana  prosa  lisan  misalnya pidato, khotbah, beserta kuliah. 

Wacana  puisi  adalah  wacana  yang  disampaikan  dalam  bentuk  puisi,  baik  secara  tertulis  ataupun  lisan.  Puisi  dan  syair  adalah  contoh  jenis  wacana puisi  tulis, sedangkan puitisasi alias puisi yg dideklamasikan, beserta lagu - lagu merupakan contoh  jenis wacana puisi lisan. 

Wacana drama adalah wacana yg disampaikan dalam bentuk drama, dalam  bentuk  dialog,  baik  secara  tertulis  maupun  secara  lisan.  Bentuk  wacana  drama  tulis  terdapat  pada  naskah  atau  naskah  sandiwara,  sedangkan  bentuk  wacana  drama  lisan  terdapat   pada   pemakaian   bahasa   dalam   pementasan   drama,   yakni   percakapan  antarpelaku dalam drama tersebut. Sumarlam  ( et.al , 2005:16)    berpendapat  bahwa ,  wacana  dapat  dibedakan  menjadi  2  macam berdasarkan  media  yang  digunakannya.  Pertama,  wacana  tulis.  Wacana  tulis  artinya  wacana  yang  disampaikan  dengan  bahasa  tulis  atau  melalui  media  tulis  (Sumarlam,  et.al ,  2005:16).  

Untuk  dapat  menerima  atau  memahami  wa cana tulis maka sang penerima alias pesapa harus membacanya. Di dalam wacana  tulis,  terjadi  komunikasi  secara  tidak   langsung  antara  penulis  dengan  pembaca.  Kedua, Wacana Lisan, wacana ini disampaikan dengan bahasa lisan alias media lisan  (Sumarlam,  et.al .  20 05:16).  Untuk  dapat  menerima  dan  memahami  wacana  lisan  maka sang penerima harus menyimak alias mendengarkannya. Di dalam wacana lisan,  terjadi komunikasi langsung antara pembicara dengan pendengar. Berdasarkan  sifat  atau  jenis  pemakaiannya  wacana  dapat  dibe dakan  antara  wacana  monolog  dan  wacana  dialog  (Sumarlam,  et,al ,  2005:17).  

Wacana  dialog  adalah wacana percakapan yg dilakukan oleh dua orang alias lebih secara langsung.  Wacana  dialog  ini  bersifat  dua  arah,  dan  masing - masing  partisipan  secara  aktif  ikut  b erperan   dalam   komunikasi   tersebut,   sehingga   disebut   komunikasi    interaktif  (interactive  comunication) (Sumarlam,  et.al ,  2005:17).  

Wacana  monolog  artinya  wacana  yang  disampaikan  oleh  seorang  diri  tanpa  melibatkan  orang  lain  untuk  ikut  berpartisipasi  secara  langsung.  Wacana  monolog  ini  sifatnya  searah  dan  termasuk komunikasi    tidak    interaktif  (non - interactive    comunication) (Sumarlam,  et.al ,  2005:17). Mulyana  (2005:  53)  mengklasifikasikan  wacana  berdasarkan  jumlah  penutur  menjadi  dua,  yaitu  wacana  monolog  dan  wacana  dialog.  Wacana  monolog  adalah  jenis wacana yg dituturkan oleh satu orang. Penuturnya bersifat satu arah, yaitu dari  pihak   penutur.  

Beberapa   bentuk   wacana   monolog,   antara   lain,   adalah   pidato,  pembacaan   puisi,   khotbah   jumat,   pembacaan  berita,   dan   seba gainya   (Mulyana,  2005:53).  Wacana  dialog  adalah  jenis  wacana  yang  dituturkan  oleh  dua  orang  atau  lebih.  Jenis  wacana  ini  bisa  berbentuk  tulis  atau  lisan  (Mulyana,  2005:53).  Dalam  kajian  wacana,  istilah  penutur  ( addreser) atau  orang  pertama  (O 1 ),  biasa  dise but  sebagai penyapa, pembicara beserta penulis (wacana tulis). Sedangkan petutur ( addresee) alias orang kedua (O 2 ), sering disamakan dengan sebutan pesapa, mitra bicara,  lawan  bicara, pasangan bicara, pendengar, pembaca (wacana tulis).

Wednesday, November 20, 2019

Pengertian Analisis Wacana Menurut Para Ahli

Guruberbahasa.com - Pengertian Analisis Wacana  


Pengertian  analisis  wacana  terdiri  dari  dua  kata,  yaitu  analisis  dan  wacana.  Analisis  menurut  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia  (KBBI)  adalah  penyelidikan  terhadap  suatu  peristiwa,  penjelasan  sesudah  dikaji  sebaik- baiknya,  penguraian  suatu  pokok  atas  berbagai  bagian,  serta  penguraian  karya  sastra  atau  unsur-unsurnya  untuk  memahami  pertalian  antar  unsur  tersebut. 

Secara  etimologi  istilah  wacana  berasal  dari  bahasa  Sansekerta  wac/wak/uak  yg memiliki arti  „berkata ‟ atau  „berucap‟ .  Kemudian kata  tersebut mengalami perubahan menjadi wacana. Kata  „ana‟  yg berada di  belakang  adalah  bentuk  sufiks   (akhiran)  yang  bermakna  „membendakan‟ (nominalisasi).  Dengan  demikian,  kata  wacana  dapat  dikatakan  sebaga i  perkataan alias tuturan. 

Namun, istilah wacana diperkenalkan lalu digunakan oleh para ahli  linguis   (ahli  bahasa)  di  Indonesia  sebagai  terjemahan  dari  istilah  bahasa  Inggris,  „ discourse ‟ .  Kata  „ deiscourse ‟ sendiri  berasal  dari  bahasa  Latin, discursus  (lari  ke  sana  lari  ke  mari).  Kata  ini  diturunkan  dari  kata  „ dis ‟ (dan/ dalam arah yg berbeda -beda) lalu kata  „ currere ‟  (lari). 

Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, terdapat tiga makna  dari  istilah  wacana.  Pertama,  percakapan,  ucapan,  dan  tutur.   Kedua,  keseluruhan  tutur  atau  cakapan  yang  merupakan  satu  kesatuan.  Ketiga,  satuan bahasa terbesar, terlengkap yg realisasinya dengan bentuk karangan  yg utuh, seperti novel, buku, lalu artikel. 

Definisi klasik wacana berasal dari asumsi-asumsi formalis (dalam  ist ilah Hymes 1974b, “struktural”), mereka berpendapat bahwa wacana  adalah “bahasa di atas kalimat alias di atas klausa” (Stubbs 1983:1). 

Van   Dijk   (1985:4)   mengamati   bahwa   karakteristik   deskripsi  struktural   wacana   pada   beberapa   perbedaan   unit,   kategori   bentuk sistematik  atau  hubungan -hubungan  ya ng  berbeda.  Lanjutnya,  menurut  van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya atas dasar dimensi teks  semata, karena teks tersebut merupakan hasil praktik produksi  yg harus  diamati juga.  Van   Dijk   menyatakan   bahwa   wacana   itu   sebenarnya   adalah  bangun an  teoritis  yang  abstrak  ( the  abstract  theoritical  construct )  dengan  begitu  wacana  belum  dapat  dilihat  sebagai  perwujudan  wacana  adalah  teks. 

Secara ringkas alias sederhana, teori wacana mencoba menjelaskan  terjadinya  sebuah  peristiwa  seperti  terbentuknya  sebuah  kalimat  atau  pernyataan. Wacana sebagai upaya untuk mengungkap makna yg tersirat  dari  subjek  yang  mengungkapkan  pernyataan  tersebut.  Caranya,  adalah  dengan  meletakkan  posisi  pada  si  pembicara  dengan  mengikuti  struktur  makna dari pembicara tersebut.   

Jika   dicoba   untuk   merumuskan,   analisis   wacana   adalah   studi  tentang  struktur  pesan  dalam  komunikasi.  Dalam  pandangan  Littlejohn,  bahwa  menulis  dan  bahkan  bentuk-bentuk  non  verbal  dapat  dianggap  wacana.   Menurutnya,  terdapat  beberapa  untai  analisis  wacana,  bersama- sama  menggunakan  seperangkat  perhatian  ( Littlejohn:  1996).  

Pertama,  seluruhnya  mengenai  cara -cara  wacana  disusun,  prinsip  yang  digunakan  oleh  komunikator  untuk  menghasilkan  dan  memahami  percakapan  atau  tipe -tip e  pesan  lainnya.   Kedua,  wacana  dipandang  sebaga   aksi.  Ia  adalah  cara  melakukan  segala   hal,  biasanya  dengan  kata -kata.  Ahli  analisis  wacana  berasumsi  bahwa  pengguna  bahasa  mengetahui  bukan  hanya  aturan -aturan   tata   bahasa   kalimat,   namun   juga   aturan -aturan   un tuk  menggunakan  unit -unit  yang  lebih  besar  dalam  menyelesaikan  tujuan - tujuan pragmatik dalam situasi sosial. 

Ketiga, analisis wacana adalah suatu  pencarian  prinsip -prinsip  yang  digunakan  oleh  komunikator  aktual  dari  perspektif   mereka;   ia   tidak   memerdulikan    ciri   atau   sifat   psikologis tersembunyi   atau   fungsi   otak,   namun   terhadap   problema   percakapan  sehari-hari yg kita kelola lalu kita pecahkan. 

Littlejohn  lebih  mengarahkan  wacana  kepada  aturan-aturan  tata  bahasa  yang  hadir  dalam  proses  berkomunikasi.  Secara  otomatis,  lebih  terarah kepada makna pesan yg disampaikan oleh komunikator.   Maka,  tetap  saja  dalam  penelitian  lebih  terarah  kepada  tokoh  van  Dijk,  yang  lebih  memaksudkan  bahwa  analisis  wacana  sebagai  suatu  analisis untuk membongkar maksud -maksud lalu makna -makna tertentu.