Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, January 25, 2020

Contoh Cerita Pendek (Cerpen) Bertema Tentang Persahabatan Terbaru 2016


kolor
 SATU PERSAHABATAN DALAM HIDUPKU 
 
Aku sedang berjalan kearah luar gang rumahku menuju sekolah. Tetapi sebelum aku berangkat sekolah, aku harus menunggu Dina yg sedang menuju kearah depan gangku. Kulihat kedepan sana tetapi tidak seorangpun tampak, ketika aku sedang menunggu Dina, aku melihat dua orang teman sekelasku berjalan kearahku. Ya… itu Lila dengan Uswah. “ Hey Nad… kamu kaq belum berangkat sekolah seh?!! “ Tanya Lila kepadaku.“ owh iya neh aku sedang menunggu Dina. “ Jawabku.“ ohh kamu sedang menunggu Dina, tapi Nad 10 menit lagi sekolah masuk tau!! Kamu ga takut telat??? “ Tanya Uswah kepadaku.“ ya udah kalau geto kita berangkat sekolah bareng ya?!! “ pintaku kepada Lila dengan Uswah. Merekapun mengiyakan ajakanku dengan segera melangkahkan kaki untuk menaiki angkutan umum yg mau mengantarkan kami kesekolah. 

 “ NADIAAA…!!! “ teriak Dina sambil melangkahkan kaki dengan cepat kearahku.“ Eh… Dina?!! ““ Eh… Dina, Eh… Dina lagi, kamu koq ninggalin aku seh Nad??? Tadi tuh aku kerumahmu tapi kata kakakmu, kamu baru aja berangkat!!! ““ Mmm…Sorry deh, abis kamu lama seh “.“ iiihh… kan udah aku bilang tunggu sampai aku datang?!! ““ iya…iya…sorry, udah donk jangan marah marah terus, kaya nenek – nenek aja!!! “.“ enak aja! Kamu tuh yg kaya nenek – nenek!!! “ kolor tanggapan Dina dengan tampang kesalnya. Melihat Dina mau marah-marah lagi, akupun berlari meninggalkan Dina menuju kelas dengan duduk ditempatku, Dinapun berteriak – teriak sambil berlari-lari kecil kearahku dengan melanjutkan ocehan – ocehan yg tadi tertunda. Aku dengan Dina bersahabat sejak duduk disekolah menengah pertama kelas 1 hingga duduk disekolah menengah kejuruan kelas 2. Orang tuaku sangat akrab dengan Dina, begitupun sebaliknya. Sudah seperti saudaraku sendiri.


kolor
 “ Lila… Uswah… “ panggilku. “ ya Nad, ada apa?!! “ kolor tanggapan Lila.“ nanti pulang bareng ya!!! “. “ oh itu, liat nanti aja ya!!! “ kolor tanggapan Lila.“ oce dehh, Mmm… tapi besok berangkat bareng lagi ya??? Aku tunggu kalian berdua di tempat tadi, oce?!! “. “ oceee…!!! “ kolor tanggapan mereka berdua dengan kompak. Semenjak kami sering pulang dengan berangkat sekolah bersama, kami menjadi semakin akrab. Tidak hanya pulang dengan berangkat sekolah saja kami bersama tetapi kemanapun dengan acarapun kami selalu terlihat bersama. Dan sejak saat itulah satu persahabatan dalam hidupku tersulam kembali.

“ koq Lila, Dina dengan Uswah agak beda ya?? Apa mereka sedang ngerjain aku ya?!! “ aku duduk termenung dikelas yg masih kosong.   “ Mmm… mungkin hanya perasaan aku saja kale ya?!! “ ujarku dalam hati. Aku merasa beberapa hari ini Lila, Dina dengan Uswah agak cuek kepadaku. Mungkin karena sebentar lagi hari ulang tahunku. Padahal aku merasa karena mereka cuek kepadaku. “ Eh Nad… bengong aja kamu!!! “ ujar Uswah membuyarkan lamunanku.   “ ah nggak koq!!! ““ oya Nad, besokhari minggu teman – teman sekelas ngajakinkita lari pagi bareng. Kamu ikut kan? “ Tanya Dina.  “ gat au deh, lihat besok aja ya?!! MALEEZZ tau, masa liburan gene masih keluar juga…! Acara kelas lagee!!! ““ Nad pokoknya kamu harus ikut, kalau ga ikut dapet hukuman loh. “ Ujar Lila menakutiku.  “ Memangnya anak SD… masih ada hukuman, udah pokoknya lihat bezok aja deh, ya.. ya..!!! “.“ YOII !!! “ kolor tanggapan Uswah dengan singkat. Aku sudah menduga pazti mereka merencanakan sesuatu untukku esok hari.

Aku merasa sangat penasaran dengan agak sedikit takut.  “ Aduh aku dating nggak ya besok??? Pasti mereka belez dendam deh ke aku karena kemarin yg nerjain mereka adalah aku!!! “ ucapku dalam hati.“ udah deh lihat besok aja…! Kalau aku dijemput ya aku pergi, tapi kalau aku ga dijemput ya aku nggak pergi!!! “ kataku dalam hati lagi dengan memejamkan mata untuk tidur walaupun dengan sedikit perasaan gelisah.           Tik…Tok…Tik…Tok…, tepat jam 12 malam tiba – tiba aku terbangun karena mendengar suara telepon berdering. Akupun dengan segera mengangkatnya. “ Hallo… “ sapaku.Tak ada jawaban dari seberang.“ Hallooo… “ aku menyapa sekali lagi.Masih tidak ada jawaban jawaban juga.  “ HAPPY BIRTHDAY TO YOU HAPPY BIRTHDAY TO YOU HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY NADIA…!!! Terdengar nyanyian dari seseorang di seberang sana.“thanks ya!!! “ aku terharu.“ Met ultah Nadia! Ketujuh belas ya? Semoga kamu tambah dewasa, tambah kolor juita dengan tambah gokil!!! “ ujar Isti.“ Paztee..!! ““ Nad sorry neh aku ga bias telepon kamu lama – lama soalnya aku ngantuk! Kamu met tidur ya Nad, sorry ganggu, bye Nadia…!!! ““ Bye!!! “ Isti adalah kakak kelas disekolahku. Dia sangat baik kepadaku tetapi sejak ia lulus aku jarang sekali bertemu dengan sia mungkin bias dibilang tidak pernah lagi. Ya… mungkin dia sibuk dengan kegiatan barunya.

“ iiihh.. Alarm berisik banged seh!!! Kan masih ngantuk?!! “ gerutuku.          Akupun segera bangun dengan beranjak merapikan diri. Walaupun berat dengan malas sekali rasanya tetapi pagi ini aku harus pergi karena sudah mempunyai janji untuk lari pagi bersama teman sekelasku. Walaupun aku tahu kalu hari ini mereka sudah mempunyai rencana untuk mengerjaiku. “ Assalamu’alaikum…!!! ““ Wa’alaikumsalam… “ jawabku sambil membukakan pintu.“ Hey Nad?!! ““ Hey! ““ Gimana udah siap belum? Teman – teman udah nunggu kamu tuh!! ““ Iya.. Iya.. sabar donk!!! “ kataku sambil melangkahkan kakiku kearah timur. Ternyata teman – teman sekelasku tidak dating semua pagi ini dengan ternyata dugaanku tentang semua itu salah, merekatidak mengerjaiku. Aku merasa sangat senang. “ Upss.. tapi tunggu sebentar, sebuah telur mendarat dengan tepat diatas kepalaku!!! “. Akupun berteriak dengan mengejar-ngejar Uswah dengan teman yg lainnya. Merekapun semua berlari menjauhiku. 

   " Assalamua’laikum…!!! Uswah… Uswah… “ Ucapkku setelah sampai didepan pintu rumahnya.“ Wa’alaikumsalam… ohh… Nadia, ayo masuk dulu Nad!!! “. Uswah mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. “ Tunggu sebentar ya nad, aku mau siap – siap dulu, nanti bila Lila dengan Dina datang kita bias langsung berangkat kesekolah..! ““ iya.., tapi jangan pake lama, nanti aku jamuran lagi?!! “ jawabku sambil tersenyum kecil. Tidak lama setelah Uswah berseragam sekolah rapi, Lila dengan Dinapun datang. Aku dengan Uswah segera keluar rumah dengan memakai sepatu dengan cepat. “ yoo.. kita berangkat “ ucap Uswah setelah kami berpamitan dengan orang tuanya. Lalu kami bertiga menganggukan kepala dengan serempak sambil tertawa. Diperjalanan menuju sekolah, seperti biasa kami berempat bercerita dengan bercanda tanpa merasakan teriknya matahari yg menyengat tubuh, karena kami terlalu asyik dengan candaan konyol Uswah yg membuat perut kami terasa sakit. Alangkah senangnya kami setiap hari seperti ini, selalu bersama – sama. Ketika angkutan umum yg kami tumpangi sudah mengantarkan sampai tujuan dengan pergi berlalu. Tiba – tiba Lila berbicara dengan kerasnya dengan membuat aku, Dina dengan Uswah kaget. “ HEYY!!! Udah jam12.30 loh!!! “ Lila berusaha memberi tahu bahwa kami sudah terlambat masuk sekolah. Kami berlari – lari saling mendahului, sambil tertawa dengan berbicara, “ tungguin donk, jangan cepet – cepet?!! “. Huh… lelahnya kami setelah berlari-larian. Kami berjalan perlahan menuju kelas dengan sampailah didepan pintu kelas, lalu mengetuk pintu dengan membuka dengan mengucapkan salam, lalu mencium tangan guru yg memang sudah duduk lebih awal sebelum kami datang. Kami mengawali hari dengan terlambat masuk sekolah yg memang bias di bilang ritinitas kami setiap harinya. Dan sekarang waktunya kami memandangi papan tulis yg penuh dengan huruf dengan berbaris membuat shaf dengan banjar. 1 jam, 2 jam, 3 jam, begitu bosannya kami belajar, hingga akhirnya bel istirahatpun berbunyi.     “

Akhirnya istirahat juga…!!! “. Kataku dalam hati.“ Nad, La, Din keluar yoo, Laperr nehh!!! “ ajak Uswah. Kamipun berdiri lalu berjalan keluar kelas menuju tempat yg bisa menghilangkan rasa lapar dengan haus. “ Makan… Makan…!!! Kita mau makan apa neh??? “ Tanya Uswah dengan bawelnya dengan ketidak sabaran dia menunggu jawaban kami.“ Terserah deh “ ucap Dina dengan singkatnya. Tanpa menunggu jawaban dari aku dengan Lila, Uswah pun mengambil bakwan dengan memasukkannya kedalam mulut, lalu dilanjutkan Lila, aku dengan Dina. Setelah selesai makan, kamipun beranjak menuju masjid untuk melaksanakan shalat ashar. Waktu istirahatpun berakhir. Kami berempat memasuki kelas yg memang sudah ramai dengan teman – teman sekelas kami. Melanjutkan pelajaran yg tertunda. Iseng – iseng saat guru menjelaskan, aku menjaili Uswah dengan mengikat ujung jilbabnya. Teman – teman yg berada dibelakangku  tertawa – tawa dengan berkata “ Dasar Jail?!! “. Aku hanya senyum – senyum kecil saja karena takut Uswah menyadarinya. Bel pulang berbunyi, waktu kami pulang. Menaiki angkutan umum bersama, lalu berpisah ditengah perjalanan. “ aku duluan ya…!, Bye…bye….!!! “ ucapku sambil melambaikan tangan kepada Lila, Dina dengan Uswah. Selama ini kami selalu bersama, baik susah maupun senang kami lewati bersama dengan kami bersahabat cukup lamanya. Tetapi kenapa sudah beberapa hari ini, aku merasa persahabatan kami agak merenggang. Aku bersama dengan Lila sedangkan Uswah bersama dengan Dina. Aku merasa ada pembatas antara kami. Kepercayaan sedikit hilang. Banyak hal yg aku dengan Lila sembunyikan ataupun sebaliknya Uswah dengan Dina. Aku merasa cukup kehilangan dengan sedih. “ Ada apa dengan persahabatan kami saat ini?? “ tanyaku dalam hati.“ apa penyebab ini semua, apakah bisa kami seperti dulu lagi, bercanda tawa dengan lepasnya tanpa adanya pembatas antara kami? “ sekali lagi aku bertanya dengan diriku, tetapi sampai saat ini aku belum mendapatkan jawabannya.           Kupandangi foto dalam bingkai, foto kami berempat. Aku, Lila, Dina dengan Uswah. Sungguh satu persahabatan dalam hidupku yg begitu indah dengan mengasyikan. Satu hal yg kusesali saat ini, “ mengapa aku harus egois dengan diam saat melihat persahabatan ini hancur??! “ sesalku dalam hati. Perjalanan hidup memang panjang. Membawa pertemuan dengan perpisahan. Hari ini aku bertemu, besok aku berpisah. Namun seiring waktu berjalan kita tetap harus menjalani hidup ini dengan memikirkan tujuan masa depan kita. Walaupun persahabatan ini bukan yg pertama bagiku, tetapi satu persahabatan inilah yg bisa membuat hari – hari dalam hidupku menjadi lebih bermakna. 


Afrida Wati (Batrasia Unila 2008)

Monday, January 6, 2020

Contoh Soal Melengkapi Teks Sastra Un Sma

Guruberbahasa.com-melengkapi teks sastra 

1. Perhatikan Kutipan Cerpen Berikut! 

Aku mengenalnya hanya dengan nama Patricia. Tapi ternyata setelah gadis yg pintar menari itu menulisnkan nama lengkapnya, wow, panjangnya bagai kereta api. Coba saja hitung ada berapa aksara: Patricia Rintho Wahyu Anggraini. Lebih dari dua puluh aksara, kan? [....] Begitulah kalau kakaknya memanggil, begitu pula kalau adiknya, bahkan seluruh saudaranya memanggil. Dan, aku pun ikut memanggilnya Rina. Begitu.

Kalimat tepat untuk melengkapi kutipan cerpen di atas adalah....
A. Setiap anggota keluarga memanggilnya Patricia.
B. Panggilan namanya cukup menggelitik hatiku.
C. Aku sudah janji hendak menemui Rina di rumahnya.
D. Ah, tetapi panggilannya cukup Simpel. Cuma Rina Saja.
E. Aku segera menyalakan komputer dengan menulis namanya.

JAWABAN: D

2. Perhatikan Kutipan Novel berikut! 

Air mata Mak Cik meleleh. Kesusahan seakan tercetak di keningnya. Lahir untuk susah, demikian stempelnya. Putrinya yg terkecil tertidur pulas dalam dekapannya. Yang tertua, Nurmi yg kurus tinggi kurang gizi itu, baru kelas dua SMP, sama denganku dengan Arai, tampak tertekan batinnya. [. . . . ] Dia seorang pemain biola berbakat. Ingin menjadi musisi. Itulah impian terbesarnya. Bakat dengan biola itu diwarisi dari kakeknya, ketua gambus kampung kami.

Kalimat tepat untuk melengkapi kutipan novel di atas adalah....
A. Ia merawat koper biola warisan kakeknya dengan baik.
B. Ia memeluk erat sebuah koper hitam lusuh berisi biola.
C. Ia tidak sadar kalau koper warisan kakeknya itu sangat lusuh.
D. Ia sedih melihat adiknya menangis di pangkuan ibu.
E. Ia berharap cita-citanya sebagai musisi tercapai.

JAWABAN: B

3. Cermati pantun rumpang berikut!

Rumah kecil tiang seribu,
rumah besar tiang sebatang,
[.....]
sudah besar ditimang gelombang.

Larik tepat untuk melengkapi pantun di atas adalah....
A. kecil ditimang ibu,
B. kecil-kecil ditimang ibu,
C. anak-anak kecil ditimang ibu selalu,
D. kecil-kecil selalu menurut kepada ibu,
E. anak-anak sering manja kepada ibu,

JAWABAN: B
Kata kunci pantun adalah memiliki sajak a-b-a-b dengan memiliki suku kata 8-12. Jadi, yg paling tepat adalah B, dengan jumlah suku kata 9 walaupun pilihan lain juga bersajak sama.

4. Cermati pantun rumpang berikut!

Sungguh indah negeri kayangan,
[.....]
Jangan lupakan budi baik teman,
budi baik dibawa mati.

 
Larik tepat untuk melengkapi pantun di atas adalah....
A. peri menari di atas peti,
B. suka citamu menari di atas peti,
C. hendaknlah kamu berjuang menjaga peti,
D. ternyata semua khayalan diri sendiri,
E. kusadari semua ada di dalam peti.

JAWABAN: APA COBA?? GAMPANG TUH!

Thursday, December 19, 2019

Cerita Gerah Menderita Romantis Serpihan Sesal

Guruberbahasa.com- Cerita Romantis Sedih "Serpihan Sesal"

SERPIHAN SESAL

Kala senja menjelang, Robert masih termenung sendiri di bawah pohon sambil memandangi tumpukan foto usang yg hendak di bakar dengan dilenyapkan dari pikirannya untuk selamanya. Tapi, dari sorot matanya tersirat kebimbangan yg begitu sangat, kebimbangan untuk menghilangkan semua kenangan-kenangan indah dalam foto-foto itu. Sementara di dalam hatinya masih tersimpan penyesalan yg amat mendalam, penyesalan atas kebodohan yg sedia dilakukannya. Seandainya saja waktu itu ia berusaha lebih awal untuk menyatakan cintanya dengan Julia, dengan tidak mengabaikan perasaannya lebih lama lagi pastilah ia atas mampu menahan kepergian wanita pujaan hatinya itu.

Sudah 5 tahun berlalu sejak kepergian Julia dari hidupnya, tapi Robert masih terus memimpikannya dengan berharap ia bisa bertemu dengan teman kecilnya serta menatap wajahnya sekali lagi.

Julia & Robert adalah dua orang yg berteman sejak kecil hingga SMA. Mereka selalu bermain bersama, bercanda & bercengkrama. Mereka saling mengisi satu sama lain, tidak ada perasaan spesial di antara keduanya. Tetapi, benih-benih cinta itu mulai tumbuh ketika mereka menduduki bangku SMA, tepatnya kelas XII menjelang kelulusan. Entah kenapa, seketika hati Robert menjadi begitu terbakar api cemburu ketika melihat Julia jalan berdua dengan teman laki-lakinya. Tetapi, Julia tidak menyadari hal itu.

Semakin lama, perasaan itu semakin dalam. Seperti sudah tak terbendung lagi, layaknya lahar yg siap dimuntahkan ke bumi. Sadar atas hal itu, robert berniat untuk segera mengungkapkan cintanya dengan Julia. Tapi setiap kali ia menatap mata wanita itu, mulutnya seakan terkunci. Ia tidak mampu mengungkapkan perasaannya tersebut. Akhirnya, Robert memutuskan untuk memendam perasaannya beberapa waktu sampai ia memiliki keberanian yg cukup untuk mengatakan dengan Julia.

Hari demi hari berlalu, Robert semakin mencintai Julia dengan tidak ada alasan lagi untuk tidak mengatakannya sekarang. Karena sedia begitu lama ia mennyimpan rapi perasaan ini sendirian. Waktu yg di nanti pun tiba, keberanian itu sedia demam tumbuh; ada dengan segera ia menyampaikan perasaannya dengan kekasih hatinya. Saat jam pulang sekolah, mereka pulang bersama. Robert berpikir, inilah kesempatan yg ditunggu-tunggu. “Julia…!!” ucap Robert sambil memandangi wajahnya. “ada apa Robert?” timpal Julia. “ada hal yg ingin aku katakan padamu” tukas Robert sembari memegangi tangan Julia yg lembut. Julia tampak keheranan dengan sikap Robert, karena tak seperti biasanya Robert begini. “ya Robert, katakan saja, aku mendengarkanmu kok” ujarnya. “Se… sebenarnya sedia lama aku hendak mengatakan ini padamu Juli…” ucap Robert dengan gugup. Mereka berdua termenung sejenak, sambil menatap satu sama lain. “a…a…aku… cinta kamu Juli” ucap Robert dengan kepala tertunduk. “tidak mungkin” demam sambutan juli dengan muka penuh tanya. “sekian lama kita bersama, aku pikir tidak ada dengan tidak atas pernah ada perasaan itu untukku. Tapi kenapa? Kenapa baru sekarang kau ucapkan kata-kata ini Robert…?”. “aku juga berpikiran yg sama Juli, a… aku pikir tidak atas pernah ada perasaan ini untukmu. Tapi, akhir-akhir ini, aku selalu memikirkanmu. Aku cemburu bila kau jalan dengan laki-laki lain. Aku sudah berusaha meyakinkan perasaanku bahwa kau hanya teman bagiku, tidak lebih. Tapi nyatanya, perasaan itu semakin besar Juli…”. “tidak bisa Robert…, aku tidak bisa menerima cintamu walaupun aku juga mencintaimu. Aku sudah memiliki kekasih, lagipula lusa, aku atas pergi dari sini. Aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi di Jakarta dengan kekasihku itu. Maafkan aku Robert”. Ucap Julia seraya meneteskan air mata. Dada Robert terasa sesak mendengar kata-kata Julia. Ia tidak percaya bahwa Julia sudah memiliki kekasih. 


Sepengetahuannya, Julia tidak pernah dekat dengan laki-laki lain kecuali dia. Apa mungkin karena aku saja yg kurang perhatian dengannya akhir-akhir ini? pikir Robert. Julia memegang tangan Robert dengan erat, sambil meyerahkan beberapa buah foto kenangan mereka semasa masih beteman sangat dekat dahulu. Esoknya, Julia pun berpamitan dengan Robert untuk pindah ke Jakarta serta kuliah di sana. Mungkin, ia bersama keluarganya atas menetap juga di sana. Robert, berusaha menerima kenyataan ini walaupun begitu pahit dirasakannya. Tapi setidaknya ia tahu bahwa Julia juga mencintainya, itu sudah cukup untuknya. Seperti kata orang bijak “Cinta itu memang tidak harus memiliki.”

-Andre Setyawan-

Cerpen Singkat Tentang Persahabatan (Terbaru)

Guruberbahasa.com- Cerita singkat tentang persahabatan

Cinta lalu Persahabatan

Acara televisi sore ini tak satupun membuat aku tertarik. Kalau sudah begini aku bingung entah apa yg harus aku lakukan. Tio bersama Sany kekasihnya, sahabatku Ricky entah kemana? Mall, bioskop ataupun perpustakaan, bukan tempat yg aku suka, apalagi mesti pergi sendirian.

mmm…Pantai.
Ya pantai. kayaknya hanya pantailah, tempat yg mampu membuat aku merasa damai lalu tak aneh lamun aku pergi sendirian.
 
Kuambil jaket, lalu kusamber kunci lalu pergi menuju garasi. Kukendarai mobil mama yg nganggur di sana. Papa lalu mama lagi keluar kota, jadi aku bisa keluar lalu mengendari mobilnya dengan leluasa.
Terik dedar masih menyengat, walaupun waktu sudah menjelang sore. Namun tak membuat manusia-manusia di Ibukota berhenti beraktivitas meskipun di bawah terik matahari yg mampu membakar kulit. Jalan-jalan macet seperti biasanya. Dipenuhi mobil dari merek ternama ataupun yg sudah tak layak dikendarai.
 
Lalu di depan kulihat pemandangan lain lagi. Pedagang kaki lima duduk lesu menunggu pelangannya.
Krisis yg melanda membuat banyak orang hati-hati melakukan pengeluaran, bahkan untuk membeli jajan pasar.Walaupun tak seorang yg menghampirinya, namun dia tetap semangat menyapa orang-orang yg lewat lalu akhirnya ada juga satu pembeli yg menuju arahnya.
Sekilas kulihat orang itu kok mirip sekali dengan Ricky. Kugosok-gosok mataku, menyakinkan pandanganku. Kutepikan mobilku, lalu aku berhenti di tepi jalan itu. Dengan setengah berlari, aku mengejar sosok itu.
 
Ah…kendaraan sore ini banyak sekali, sehingga membuat aku kesulitan untuk menyeberang jalan ini. Tapi akhirnya terkejar juga, dengan nafas tersengal-sengal, kujamah bahunya.
“Ky!” seruku tiba-tiba, sehingga membuatnya terkejut.
“Anda siapa?” tanya Ricky pura-pura tak mengenalku.
“Ky. Sekalipun kamu jadi gembel , aku hendak tetap menggenalmu.” jelasku mendenggus kesal.
“Sudahlah, Sophia, jangan membuat aku terluka lagi.” tukasnya begitu sinis seraya beranjak pergi.
“Ky…Ky…knapa kamu tak pernah mau mendengarkan penjelasanku!” teriakku sekeras-kerasnya. Namun bayangan Ricky semakin menjauh lalu akhirnya tak kelihatan.
 
Ricky, Tio lalu aku adalah sahabat karib dari kecil. Setelah tumbuh besar, aku tetap mengganggap Ricky adalah sahabat terbaikku, tapi Ricky punya rasa berbeda dari persahabatan kami. Yang aku cintai adalah Tio. Ini yg membuat Ricky menjauhiku. Tapi yg Tio cintai bukan aku, tapi Sany, teman sekelasnya.
 
Cinta, sulit di tebak kapan lalu di mana berlabuh!
Banyak orang tak bisa terima, lamun cintanya ditolak, tapi bukankah cinta tak mungkin dipaksa?
 
Tak mendapatkan cinta Tio, tak membuatku menjauh darinya, tapi aku hendak tetap menjadi sahabat baiknya. Walaupun ada sedikit rasa tidak puas, kadang rasa cemburu menganggu hati kecilku, saat kutahu untuk pertama kali, orang yg Tio cintai adalah orang lain.
 
Aku harus bisa menerima keputusannya , walaupun terasa berat . Bukankah, kebahagian kita adalah melihat orang yg kita cintai hidup berbahagia, baik bersama kita alias tidak?
 
Tapi tidak dengan Ricky, dia lebih memilih, meninggalkanku, mengakhiri persahabatan manis kami. Pergi lalu aku tak pernah tahu kabarnya. Tapi apapun yg terjadi, aku hendak selalu berharap suatu saat kami hendak dipertemukan lagi.
 
Karena bagiku, cinta lalu persahabatan adalah dua ikatan yg sama. Ikatan yg tak satupun membuat aku bisa memilih satu diantaranya.
 
Sudah seminggu, setiap hari, aku datang kepersimpangan ini. Berharap bisa melihat sosok Ricky lewat disekitar sini lagi. Tapi, Ricky hilang bagai ditelan bumi. Aku hampir putus asa.
 
Aku sudah capek menunggu, akhirnya aku bangun lalu ingin beranjak pergi. Knapa tiba-tiba, indera keenamku, memberiku insting, kalau Ricky ada di sekitarku.
 
Kubalikan kepala, kulihat sosok Ricky setengah berlari menyeberang jalan di belakang posisiku. Aku berlari menggejar sosok itu. Kuikuti dia dari belakang. Aku pingin tahu dimana dia berada sekarang.
Akhirnya kulihat Ricky, masuk ke sebuah gang kecil, kuikuti terus , sampai akhirnya dia masuk ke sebuah rumah yg sangat sederhana.
 
“Knapa Ricky lebih memilih hidup disini, daripada di rumah megah orangtuanya?”
”Knapa dia, tinggalkan kehidupannya, yg didambakan banyak orang?”
”Knapa semua ini dia lakukan?”
“Knapa?”
Banyak pertanyaan yg tiba-tiba menonjol di kepalaku.
 
Setelah dia masuk kurang lebih 10 menit, aku masih berdiri terpaku dalam lamunanku, dengan pertanyaan-pertanyan yg jawabanya ada dengan Ricky. Aku dikejutkan suara seekor anak anjing jalanan, yg tiba-tiba menggonggong.
 
Aku memberanikan diri memencet bel di depan rumahnya itu.
“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.
 
Aku diam, tak memberi jawaban. Setelah beberapa saat aku lihat Ricky pelan-pelan membuka pintu. Nampak keterkejutannya saat melihatku, berada di depannya.
 
“Ky…boleh aku masuk?” tanyaku hati-hati.
 
“Maukah kamu memberikan sahabatmu ini, segelas air putih.” ujarku lagi.
 
Tanpa bicara, Ricky mengisyaratkan tangannya mempersilahkan aku masuk. Aku masuk keruangan tamu. Aku terpana, kulihat rumah yg tertata rapi. Rumah kecil lalu sederhana ini ditatanya begitu rapi, begitu nyaman. Kulihat serangkai bunga matahari plastik terpajang di sudut ruangan itu.
 
“Ricky, kamu tak pernah lupa, aku adalah penggagum bunga -bunga matahari.” gumanku.
 
Dan sebuah akuarium yg di penuhi ikan berwarna-warni, rumput-rumput dari plastik lalu karang-karang di dalamnya. Ricky tahu betul aku penggagum keindahan pantai lalu laut. Walaupun hal-hal ini dulunya, setahuku, kamu tak menyukainya. Kulihat juga banyak foto persahabatan kami yg di bingkainya dalam bingkai kayu yg sangat indah, terpajang di dinding ruang tamu ini.
 
Bulir-bulir air mataku, perlahan-lahan mulai tak mampu aku bendung. Aku benar-benar terharu dengan semua yg Ricky lakukan. Begitu besar cinta Ricky buatku. Kupeluk dia, yg aku sendiri tak tahu, apakah pelukan ini adalah pelukkan seorang sahabat ataupun sudah berubah menjadi pelukan yg berbeda?
 
Ricky kaget, namun akhirnya dia membalas pelukanku, lalu memelukku lebih erat lagi , seakan-akan ingin menumpahkan segala rindu yg sudah hampir tak terbendung dalam hatinya.
 
Kami menghabiskan sore ini dengan berbagi cerita, pengalaman kami masing-masing selama perpisahan yg hampir 2 tahun lamanya lalu akhirnya Ricky mengajakku makan, ke sebuah restoran kecil yg sering dikunjunginya seorang diri, di dekat rumahnya. Terdengar alunan tembang-tembang romatis , suasana hening, membuat kami terbuai dalam hangatnya suasana malam itu.
 
Sekarang Ricky sudah tahu, Tio sudah bersama Sany. Kami sekarang menjadi 4 sekawan. Sany juga sedia menjadi anggota genk kami.
 
Ternyata setelah aku mengenalnya lebih lama, Sany adalah sosok yg sangat baik hati, menyenangkan, ramah lalu peduli dengan sahabat. Ah…menyesal aku tak mengenalinya lebih dalam sejak dulu.
 
“Ky , biarlah semua berjalan apa adanya, mungkin cinta hendak pelan-pelan menonjol dari hatiku.” ujarku suatu hari, saat Ricky mengungkit masalah ini lagi.
 
“Oke, aku hendak selalu menunggumu. Sampai kapapun. Karena tak hendak ada seorangpun yg mampu membuatku jatuh cinta . Hanya kamu yg mampu membuat aku damai, tenang lalu bahagia.” jelasnya panjang lebar
 
Sekarang aku memiliki tiga orang sahabat baik. Tak hendak ada lagi hari-hariku yg kulalui dengan kesendirian, kesepian lalu kerinduan.
 
Hampir setiap akhir pekan, kami menghabiskan waktu bersama, ke pantai, ke puncak ataupun hanya sekedar berkaroke di rumah sederhana Ricky. Hidup dengan tali persahabatan yg hangat, membuat hidup semakin berarti lalu lebih bahagia.


Waktu berjalan begitu cepat. Tiga tahun sudah berlalu. Kebaikan-kebaikan Ricky mampu membuat aku merasa butuh lalu suka hendak keberadaannya di sampingku. Rasa itu pelan-pelan tumbuh tanpa kusadari dalam hatiku.

Aku jatuh hati padanya setelah melalui banyak peristiwa. Cinta datang, dalam lalu dengan kebersamaan.
Apalagi dengan sikap lalu perbuatan yg ditunjukannya. Membuat aku merasa, tak hendak ada cinta laki-laki lain yg sedalam cinta Riky.

Sekarang Ricky bukan hanya kekasih yg paling aku cintai tapi juga seorang sahabat sejati dalam hidupku.

Saturday, December 14, 2019

Cara Kita Memberikan Apresiasi Hikayat Hang Tuah

Guruberbahasa.com- Apresiasi Hikayat Hang Tuah

Pernahkah Anda mendengar Hikayat Hang Tuah? Hikayat Hang Tuah merupakan salah satu bentuk karya sastra lama dengan Angkatan Melayu Klasik. Selain hikayat, ada bentuk lain seperti cerita panji, cerita berbingkai, tambo, epos, bersama dongeng (fabel, legenda, mite, sage, bersama parabel).

Hikayat Hang Tuah merupakan bentuk hikayat Melayu asli bersama tidak diketahui dengan pasti siapa pengarangnya. Sikap kepahlawanan Hang Tuah yg tak tertandingi menyebabkan hikayat tersebut tetap berkembang bersama hidup di masyarakat. Namanya harum bersama menjadi teladan bagi putra-putri bangsa. Lama-kelamaan orang menganggapnya bukan sekadar pahlawan biasa tetapi dianggap seorang titisan dewa yg disanjung-sanjung karena kesaktiannya. Hang Tuah berbahaya keduniaan dari keluarga biasa dekat Sungai Duyung di Tanah Malaka. Ayahnya bernama Hang Mahmud bersama Ibunya Dang Merduwati. Karena kesulitan hidupnya, mereka pindah ke Pulau Bintan, tempat raja bersemayam, dengan harapan mendapat rezeki di situ. Mereka membuka warung bersama hidup sangat sederhana. 

Semua sahabat Hang Tuah berani. Mereka itu adalah Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, bersama Hang Lekiu. Pernah suatu ketika mereka berlima pergi berlayar. Di tengah lautan dihadang oleh gerombolan perampok yg banyak sekali. Hang Tuah menggunakan taktik, membawa mereka ke darat. Di sana mereka melakukan perlawanan. Sepuluh perampok mereka tewaskan, sedangkan yg lain melarikan diri. Dari beberapa orang yg beroleh ditawan, mereka mengaku dari daerah Siantan bersama Jemaja atas perintah Gajah Mada di Majapahit. Sebenarnya mereka diperintahkan untuk menyerang Palembang tetapi angin kencang membawa mereka tersesat di Melaka. Akhirnya, keberanian Hang Tuah bersama kawan-kawannya sampai juga kepada raja sehingga raja berkenan kepada mereka. Suatu ketika ada orang yg mengamuk di pasar. Orang-orang lari ketakutan. Hang Tuah jugalah yg beroleh membunuh orang itu. Hang Tuah lalu diangkat menjadi biduan istana
(pelayan raja). Saat itu dia diminta menyerang ke Palembang yg diduduki orang Siantan bersama Jemala. Hang Tuah sukses, lalu dia diangkat menjadi Laksamana. Berkali-kali Hang Tuah diutus ke luar negeri; ke Tiongkok, Rum, Majapahit, bersama dia pernah pula berbahaya maju haji. Akhir hayatnya, Hang Tuah berkhalwat di Tanjung Jingara.

Di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan nama Hang Tuah bersama Hang Lekir diabadikan sebagai nama jalan. Hal itu merupakan wujud dari melegendanya nama mereka.

Monday, December 2, 2019

2 Contoh Karangan Liburan Sekolah Di Rumah

Guruberbahasa.com- Contoh Karangan Liburan Sekolah di Rumah

Hai kawan kawan, sekarang, aku mau certain liburan semester di rumah. Minggu pertama liburan, kegiatanya itu itu aja. Pagi pagi lari pagi, terus sarapan lagi main komputer, biasanya game online sampai jam 10, mandi deh. Abis mandi, main lagi sampai siangan, terus Sholat Dzuhur lagi Makan siang. Sorenya masih main, terus jam 4 ngaji sama guru ngaji yg datang di rumah, terus sholat aashar, Jam 5 mandi. Abis mandi main lagi sampai maghrib. Biasanya disuruh sholat maghrib di masjid sama ibu. Abis sholat maghrib main terus makan malam, lagi sholat isya di mesjid lagi. Abis isya kalo nggak main, nonton TV, apalagi kalo ada siaran bola sampai malam. Kalo udah jam 11 malem, baru deh disuruh tidur.
           
Besoknya, hari selasa kegiatanya agak beda. Soalnya abis sarapan diajak pergi sama mama ke Grand Bekasi Mall di bekasi. Di mall sih Cuma nemenin adek main di timezone sama temenin mama belanja, Cape juga sih, soalnya adek aku ribut lagi energetic banget.  Abis itu makan lagi pulang. Abis pulang, main computer lagi lagi ngerjain kegiatan kaya kemarin.
           
Besoknya, hari rabu kegiatanya sama, Cuma malemnya diajakin pergi lagi ke Buaran plaza, Cuma nemenin belanja di carefour, terus makan lagi pulang. Abis pulang, main sampai malem terus tidur.
            
Hari Kamis lagi Jum’at kegiatanya buasa, Bedanya hari Jum’at ada pengambilan raport. Aku sih ga ikut, cumin papa aku.  Pas malem, papa pulang sambil bawa raport, pas diliat raportnya lumayan. Rata-ratanya juga bagus sih, 88,3.         
           
Hari sabtu lagi minggunya, di rumah. Sabtu sore, saudara dari papa dateng. Aku sih tetep main, baru pas disuruh mama salaman baru diajak ngobrol. Abis sodara pulang, main lagi. Hari minggunya kegiatanya sama seperti kemarin kemarin. Yang beda, pagi paginya temen SD dateng. Biasa, pas temen dateng ya main game bareng sampai siang. Siangnya, kira kira jam 2 dia pulang. Sebenernya, aku  bingung masuknya tanggal 2 alias 9, jadi nanya temen temen lewat FB. Liburan di rumah minggu pertama menurut aku sih ga terlalu boring, karena kadang kadang jalan jalan, sama game komputer aku juga seru.
             
Minggu kedua, ga terlalu beda sama minggu sebelumnya sih, cuma hari kamis
agak spesial buat aku, abisnya pas lagi jalan jalan ke Metropolitan Mall ditawarin beli lappy baru sama papa. Dari dulu emang udah kepengin, cuma baru dibeliin sekarang. Terus ya abis itu seperti biasa, main sampai malem. Hari minggunya agak bingung, di FB temen temen kepada bilang hari senin libur. Daripada ragu-ragu berangkat alias nggak, pagginya papa nelpon wali kelas aku, Pak Yusuf. Ternyata beneran seninnya libur, jadi bisa santai sehari lagi. Ya itu sedikit cerita tentang pengalaman liburan di rumah, ga terlalu bête menurut aku.

REFERENSI: http://anditama17.blogspot.co.id

CERITA 2

KLIK DI SINI AGAR KAMU TAHU BAGAIMANA CARA MEMBUAT KARANGAN SESUAI YANG KAMU INGINKAN

LIBURAN SEKOLAH SEMESTER I

Liburan semester I sangatlah saya tunggu-tunggukan selama kelas IX.pasalnya selama saya duduk di kelas IX ini,saya terus-menerus belajar.Sebelun liburan para ibu/bapak guru mengingatkan smua siswa kelas IX untuk memanfaatkan masa liburan ini dengan belajar karena waktu kita hanya sebentar untuk menghadapi Ujian Nasional.


Liburan saya kemarin sangat sederhana.Saya hanya berada di rumah lagi pergi main ke rumah teman2.Pada hari pertama sampai hari kelima saya berada di rumah.kegiatan saya seperti biasanya hanya lebih banyak meluangkan waktu untuk membantu orang tua.saya lagi keluarga saya lebih senang menggunakan waktu liburan seperti ini dengan berkumpul keluarga.Di sana kita bisa bercanda tawa bersama dengan sepuasnya.Pasalnya kepada hari kerja alias sekolah kita sekeluarga jarang untuk bercanda tawa sepuasnya.Meskipun hanya liburan di rumah saja saya sangat senang lagi menikmati liburan kali ini.


Kemudian kepada hari keenam lagi ketujuh,saya pergi ke rumah teman2 untuk belajar bersama-sama.Setelah itu saya lagi teman2 pergi bersepeda keliling daerah bangsal untuk mencari hal yg baru.Setelah capek bersapada kita mampir ke rumah teman saya yg bernama kholifah untuk melepas dahaga karena seharian bersepeda.Setalah itu saya pulang ke rumah.Saya terkejut,karena adik saya sakit gerah setelah pulang liburan di rumah bibi.Badanya gerah sekali lagi semua anggota keluarga saya panik dengan keadaan adik saya.Tetapi tidak lama hanya satu hari saja adik saya sudah sembuh dari sakit panasnya.


Demikian Cerita pendek dari pengalaman saya waktu liburan.Meskipun hanya liburan di rumah lagi pergi ke runah teman2 saya sangat senang lagi menikmati waktu liburan saya yg hanya singkat ini.



KLIK DI SINI AGAR KAMU TAHU BAGAIMANA CARA MEMBUAT KARANGAN SESUAI YANG KAMU INGINKAN

nama:tin rizky hardiyanti
absen:39
kelas:IX-E


REFERENSI: http://ilma-beautiful.blogspot.co.id

2 Cerpen Liburan Sekolah Terbaru

Guruberbahasa.com- 2 CERPEN LIBURAN SEKOLAH TERBARU

CERPEN 1
Pengalaman Liburan Sekolah

Pengalaman menyenangkan saya Di saat liburan sekolah ,saya beserta teman teman saya pergi berlibur ke rumah pengampu teman saya yg terletak di padalarang .kami ingin segera sampai di tujuan tersebut beserta kami pun memutuskan untuk pergi kesana menggunakan sebuah angkutan kota yg di sebut kereta api agar cepat sampai tujuan .

saat perjalanan menuju rumah teman saya ,saya membeli oleh oleh dulu untuk pengampu teman saya .

sore itu saat kami sampai di tujuan ,kami pun langsung menuju rumah teman saya beserta saat masuk ke rumah nya kami langsung bersalaman kepada pengampu teman saya yg sudah menunggu di rumah nya beserta kami pun langsung memberikan oleh oleh yg tadi di beli di perjalanan .dan kami pun istirahat dulu sejenak beserta meminun segelas teh yg di seduh dengan air dingin ..

setelah cukup beristirahat ,kami langsung menuju ke persawahan milik teman saya beserta disana saya beserta teman teman saya menikmati pemandangan alam yg indah menakjubkan ,karena udara nya masih sejuk beserta hamparan sawah pun masih luas beserta sungai sungai pun air nya masih mengalir jernih .kami pun tidak sia sia karena sedia di ajak oleh seorang teman saya untuk berlibur ke kampung halaman nya itu ..

saat sore menjelang maghrib tiba ,kami bergegas untuk kembali pulang .dan kami tidak lupa untuk berpamitan kepada pengampu teman saya.

saat bakal pulang ke rumah ,saya menuju stasiun terlebih lepas dahulu untuk membeli tiket kereta api .saat kami mengantri untuk membeli sebuah tiket ternyata dompet teman saya mendadak hilang karena di curigai adanya pencopet . teman saya pun binggung karena tidak ada lagi uang yg tersisa di saku nya beserta dia tidak bisa membeli tiket ,dan tidak jauh dari stasiun kereta itu kami memutuskan untuk mencari dompet teman saya dulu yg barang kali terjatuh di dekat stasiun .

ternyata ,dompet teman saya sudah di temukan beserta isinya pun tetap utuh ,untung saja tidak ada barang yg hilang .dompet teman saya terjatuh karena teman saya tidak benar memasukan dompet nya ke dalam saku celana nya .dan kami pun kembali mengantri untuk membeli tiket kereta.

dan tidak lama kemudian ,kereta pun datang beserta kami bergegas untuk ke atas ke kereta tersebut ,sesampai nya di stasiun bandung ,kami langsung menaiki sebuah angkutan umun lagi untuk memperdekat  jarak pulang ke rumah ,setelah sampai di depan jalan raya yg dekat dengan rumah masing masing ,kami pun berpisah untuk pulang ke rumah masing masing. 

SUMBER: http://dwieka12.blogspot.co.id

CERPEN 2
Berkunjung ke Rumah Nenek

Oleh: Adyta Kustanto

Liburan, bagi anak sekolah, merupakan hari yg selalu ditunggu-tunggu karena menyenangkan. Ani adalah siswa SD kelas III yg terletak di tengah kota Yogyakarta. Ia sudah lama menanti saat liburan tiba. Selama ini setiap liburan panjang hanya dihabiskannya di rumah. Pada liburan kali ini, Ani ingin sepenuhnya berada di rumah neneknya, yg berada di ujung utara Kabupaten Sleman. Jaraknya agak jauh dengan rumah Ani. Nenek Ani bernama Widi. Beliau tinggal di daerah Sleman, di desa yg sejuk beserta indah pemandangannya. Tanahnya yg subur sangat cocok ditanami apa pun. 

Misalnya, tanaman buah salak, padi, jagung, kacang, beserta tanaman sayuran lainnya. Bukan itu saja, di sana airnya juga jernih karena banyaknya sumber air. Tidak mengherankan andaikata di sana banyak terdapat kolam ikan. Kolam ikan itulah yg dirindukan Ani. Kata Ani, kolam ikan itu mengasyikkan, sehingga ia ingin memancing ikan di desa neneknya. Hari pertama liburan tiba, Ani sibuk menyiapkan barang-barang yg bakal dibawanya ke rumah nenek. Baju tidur, celana panjang, kaus, sandal, sikat gigi, handuk, sabun, beserta tidak ketinggalan buku cerita Doraemon yg sering dibacanya. 

Ia memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya hingga terasa berat karena penuh dengan bawaan Ani. Pada hari pertama liburan itu Ani masih saja sibuk menyiapkan barang-barang yg bakal dibawa. Maklumlah, karena hari sebelumnya Ani masih masuk sekolah. Ani bakal berangkat hari kedua, sesuai pesan ayah beserta ibunya. Di samping itu, ayah beserta ibunya juga berpesan agar ketika di rumah neneknya tidak merepotkan orang lain, maka Ani harus sehat. Oleh karena itu, malam sebelum berangkat menuju rumah nenek kepada harus istirahat biar badan tampak segar. Pada keesokan harinya, tepat pukul 09.00 pagi, Ani berangkat bersama ayah beserta ibunya. 

Mereka berkendara mobil yg biasa dikendarai ayahnya ke kantor. Seperti biasanya ketika bakal berangkat ke sekolah, Ani duduk di jok depan bersama ayahnya; ibunya duduk di belakang mereka. Itulah Ani, sejak kemarin memang sudah berpesan kepada ayah beserta ibunya bahwa ia ingin duduk di samping ayahnya. Ani ingin menikmati pemandangan selama perjalanan menuju rumah neneknya. Perlahan-lahan mobil melaju ke rumah Nenek Widi. Ani melambaikan tangannya disertai ucapan “Dah...dah! Bibi… dah...dah! Bibi…” tanda berpamitan kepada Bibinya penjaga rumah. Bibi pun melambaikan tangannya sambil mengucapkan, “dah...dah. Salam buat Nenek, ya…,” “Ya,ya! Jawab Ani penuh semangat. 

Dengan lincahnya pula dari kejauhan Ani tersenyum sambil menciumi telapak tangannya berkali-kali tanda ucapan selamat tinggal pelanpelan. bibinya tidak tampak lagi di mata Ani. Selama perjalanan ke rumah nenek, mereka melewati kota Yogya yg ramai menjadikan mobil sempat terhenti karena macet. Terlebih lagi, karena masa liburan, banyak orang berlibur di Yogya. Di sepanjang jalanan kendaraan tampak berjubel hingga macet. Kemacetan itu menjadikan perjalanan terasa lama untuk sampai di rumah Nenek Widi. Namun tidak mengapa, Ani malahan bisa mengamati tempat-tempat di sepanjang jalan kota. 

Ani jadi tahu letak Taman Pintar, Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, jalan Malioboro, Gedung Vederbgreg, Gedung Agung, Bank BNI pusat, Rumah Sakit PKU, beserta yg lain. Bagi Ani ada untungnya walaupun jalanan macet beserta tidak segera sampai di rumah Nenek Widi. “Waktu sudah menunjukkan pukul 10.45 menit, namun belum sampai juga,” kata Ani. “Ayah kenapa jalannya mobil pelan sekali, Yah? Kapan sampainya?” “Tadi di Yogya sudah macet, sekarang sudah di luar kota Yogya juga laju mobil pelan. Kenapa Yah?” “Kapan sampainya?” Pertanyaan Ani bertubi-tubi hingga ibunya merasa gemas sambil menggeleng-geleng kepala tanda senang mendengar pertanyaan Ani. “Sabarlah, sebentar lagi juga sampai,” kata ibunya yg duduk di belakang Ani. 

Pertanyaan itu kemudian dijawab ayah Ani. “Sengaja ayah tidak mau ngebut, biar perjalanan ke rumah nenek betulbetul bisa dinikmati. Coba perhatikan di kanan-kiri kita ini, indah bukan pemandangannya? “Iya, ya, Yah! Lebih enak tinggal di desa ya, Yah daripada di kota yg panas, ramai, beserta berpolusi.” Tidak berapa lama, tepat pukul 11.40 mereka tiba di desa neneknya Ani. “Yah suasananya kenapa tidak berubah ya, Yah? Masih sama dengan tahun lalu. Sawah membentang luas, di pinggir jalan tumbuh pohon-pohon perindang. 

Di pinggir jalan pula tetap mengalir jernih sungai kecil maupun parit. Dari kejauhan desa nenek juga masih terlihat sama, pohon nyiurnya menjulang beserta melambai-lambai, tetap seperti dulu ya, Yah!” Coba itu Bu, lihat! Tidak berubah bukan?” kata Ani. “Iya, itulah yg kita rindukan,” elakan ibunya Ani. “Kita sudah bakal sampai ya, Yah!, ya Bu! lihat tuh!, desa nenek sudah kelihatan!” seru Ani. Oh iya, ya, tidak terasa kita sudah sampai,” kata ibunya. Mobil sedan itu memasuki halaman rumah nenek Ani yg luas, bersih, beserta rindang.

Mereka sedia sampai di rumah nenek Widi. Halaman rumah hidup karena berbagai macam tanaman buah-buahan, ada rambutan, mangga, duku, belimbing, melinjo, nangka, sawo, jambu, beserta pete. Agak jauh di kebun nenek tumbuh juga pohon kelapa menjadikan rumah Nenek Widi tampak asri. Halaman luas beserta banyak pepohonan itulah yg menjadikan Ani, ayah, beserta ibunya merindukannya. Ani bergegas turun dari mobil; segera menghampiri neneknya yg sedang duduk di teras. 

Beliau menunggu kedatangan mereka di teras yg dipenuhi kursi beserta potpot bunga itu. “Nek! Ani datang Nek! Ani bersama Ayah beserta Ibu!” seru Ani sambil berlari menghampiri neneknya yg rambutnya memutih itu. “Aduuuh, cucuku datang! Sudah besar beserta gombang ya sekarang!” kata nenek gembira sambil memeluk beserta menciumi pipi Ani yg gembil itu. “Iya Nek! Ani kangen Nenek. Ani ingin berlibur lama di sini. Boleh, kan Nek?” tanya Ani penuh kegirangan. “O,…boleh sayang. 

Nenek senang sekali karena nanti ditemani cucu nenek tersayang,” elakan Nenek dengan senang. Maklumlah karena Ani adalah cucu yg jarang tidur di rumah neneknya. Selain itu, kakek Ani sudah meninggal beberapa tahun yg lalu. Tentu saja Nenek Widi senang sekali andaikata Ani berlibur agak lama di rumahnya “Mana ayah beserta ibumu Ani?” tanya Nenek Widi dengan lembutnya. “Tuh mereka sudah mau turun,” elakan Ani. Saat itu juga, ayah beserta ibunya Ani turun dari mobil. Mereka dari kejauhan tampak menciumi pipi ibunya, sambil menanyakan kesehatan ibunya. “Sehat-sehat saja, kan Bu?” Alhamdullillah, sehat…” elakan Nenek Widi. Mereka kemudian agak lama berbincangbincang di teras, tampak saling melepaskan rasa kangen. 

Ani, ayah Ani, beserta ibunya Ani bahkan belum menurunkan barang bawaannya dari mobil, malahan duduk-duduk di teras rumah nenek Widi yg asri itu. Cuaca tengah hari di rumah Nenek Widi tidak terasa panas, namun sebaliknya terasa sejuk. Mereka tampak masih enggan memasuki rumah; masih ingin menikmati kesejukan beserta keteduhan teras beserta halaman rumah. Dedaunan yg bergoyang-goyang diterpa angin itu menambah nyamannya suasana teras. Satu, dua, tiga daundaun pun berjatuhan agak mengotori halaman rumah yg luas itu. “Nek! Nek! Nanti aku yg nyapu halaman rumah ya Nek!” pinta Ani kepada neneknya.“Boleh, nenek senang, tapi jangan capek-capek ya,” elakan nenek. Melihat kelincahan beserta keberanian Ani dalam berbicara, membuat mereka tetap diam beserta duduk sambil menunggu Ani selesai berbicara dengan neneknya. Selesai menyapu halaman, Ani kemudian masuk rumah sambil berlari-lari kecil. 

Ia tiba-tiba ingat kepada kawannya yg tinggal tidak jauh dari rumah neneknya. Ia kemudian minta ijin ayah beserta ibunya untuk bermain ke rumah kawan yg bernama Rini. “Ayah, Ibu, Ani mau ke rumah Rini. Boleh,kan?”“Tidak jauh kok Yah, tuh! Hanya 100 meter-an dari rumah Nenek.” Sambil menunjuk rumah Rini yg kira-kira berjarak100 meter itu. “Boleh ya, Yah! Boleh ya, Yah.” “Ya!” Jawab ayah Ani meyakinkan. Ani pun segera berlari ke rumah Rini, tanpa pamit kepada Nenek yg ada di dalam rumah. Nenek pun tidak mencari karena tahu setiap Ani datang, pasti bertandang ke rumah Rini. Sesampai di rumah Rini, lalu Ani mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama Rini, kawannya sesama kelas III itu. “Tok…tok…tok… tok ... tok …tok … Rini, … Ani datang.” Sambil mengetuk pintu rumah yg besar itu. “Rini…Rini…,” suara Ani memanggil Rini. “Iya, tunggu sebentar.” Sahut Rini dari dalam rumah. 

Sebentar kemudian Rini muncul. “Hah! Ani! Apa kabar? Kapan datang?” pertanyaan Rini beruntun. “Aku baik-baik saja. Kamu bagaimana?” tanya Ani. “Ya baik-baik saja,” elakan Rini kaget campur senang. “Kapan datang?” lanjut Rini. Ani. “Baru saja datang, tapi ke rumah Nenek dulu,” elakan Mereka akhirnya bercerita untuk melepas rasa rindunya masing-masing. Sore harinya mereka berjalanjalan di sekeliling desa. Ani tampak menikmati keindahan desa neneknya. Tanahnya subur, air sungai pun mengalir jernih. Sawah yg terhampar luas di pinggir desa menambah keasriannya. Dari kejauhan tampak pegunungan yg indah sehingga menambah rasa senang hati Ani. “Wah,… senang ya, di sini. 

Banyak anak-anak yg masih asyik bermain, tidak seperti di rumah Ani di kota.” Di sekitar rumah Ani jarang terjadi peristiwa seperti itu. Ani beserta Rini sudah merasa lelah bermain; Mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing. Malam harinya, Ani makan bersama Nenek, Ayah, beserta Ibu. Mereka tampak merasakan hangatnya kebersamaan dalam keluarga. Sambil makan, mereka berbincang-bincang. Dalam perbincangan itu, tampak pertanyaan Ani. “Nek, apa nenek masih sering menanam padi bersama orang-orang di desa ini Nek?” tanya Ani. “Ya masih, kalau itu musim bercocok tanam, nenek pasti ikut menanam.” Jawab nenek jujur. “Wah, nenek memang hebat ya,” seru ibu Ani. “Ibu sebaiknya mengurangi kegiatan seperti itu. Ibu kan sudah tua, nanti cepat lelah,” pinta ibu Ani dengan halus. “Tidak, aku masih kuat,” elakan nenek dengan tegas. “Lihat saja semangatku. 

Yah…semangatku seperti anak jejaka jaman sekarang.” Gurau nenek. “Wah…ibu bisa saja,” kata ayah Ani. Semua jadi tertawa mendengar gurauan nenek Ani tadi. Selesai makan malam, mereka beristirahat sambil duduk santai di teras halaman rumah. Suasana yg sepi, ditambah suara jangkrik beserta katak di pinggir kebun nenek Widi menjadikan indahnya situasi malam di desa. Di langit pun dari kejauhan terlihat bulan melengkung kecil. Bintangbintang pun bersinar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. 

Mereka sudah mengantuk beserta lelah. Akan tetapi, Ani masih saja minta tolong Nenek untuk mendongeng. “Nek, Ani minta didongengi Nenek. Mau ya, Nek, Nenek belum ngantuk kan?” pinta Ani kepada neneknya. Nenek pun menuruti keinginan Ani, mendongeng tentang “Kancil Mencuri Mentimun.” “Kancil yg liar itu memang suka mencuri mentimun di kebun Pak Tani” kata Nenek. Belum selesai Nenek bercerita, Ani pun sudah terlelap tidur. Ia akhirnya tertidur di samping Nenek yg sangat menyayanginya. Entah apa yg dimimpikan Ani, tidak terbangun selama terlelap tidur, tahu-tahu hari sudah pagi. Terdengar oleh Ani suara ayam berkokok pertanda hari menjelang pagi. Di timur terlihat olehnya semburat langit yg memerah, pertanda matahari bakal terbit. 

Ani langsung meloncat dari tempat tidur, terlihat di dapur Ibu beserta Nenek sudah memasak makanan sarapan. “Nek!, Nenek!. Nenek di mana?” “Kemarilah, Nenek ada di dapur bersama ibumu. Sini! Bantu nenek memasak!,” kata Nenek. “Nanti ya Nek, Ani cuci muka dulu, terus mau berjalanjalan dengan ayah,” kata Ani. “Ani ingin menikmati suasana pagi di sekitar rumah nenek. Boleh ya, Nek?” pinta Ani. Ani bersama ayahnya melangkahkan kaki ke luar rumah. “Wah, hawanya dingin ya, Yah. Udaranya segar sekali.” “Inilah suasana di desa Nenek yg ayah rindukan juga.” kata ayah Ani. “Di sini kan banyak pepohonan, yg menjadikan udaranya sejuk.” Lanjut ayah Ani. Ketika Ani beserta ayahnya berjalan-jalan di sekitar desa, tiba-tiba keduanya terjatuh beserta terperosok ke kolam ikan milik tetangga Nenek Widi. Ketika mereka terlalu asyik menikmati ikan-ikan di kolam, tidak diduga sebelumnya, tiba-tiba, byuuuur… terpelesetlah mereka berdua ke dalam kolam yg penuh ikan itu. 

Mereka pun kaget, panik, beserta berteriak minta tolong kepada orang-orang yg ada di sekitarnya. Namun tidak ada seorang yg mendengarnya. Untunglah, ayah Ani pandai berenang. (sisipkan gambar berliburkerumah nenek2) Mereka basah kuyup. Ani sudah banyak menegah air kolam itu, sampai terbatuk-batuk. Mereka bisa menepi karena di situ kebetulan ada bambu yg beroleh digunakan untuk sampai di atas kolam beserta naiklah mereka sambil saling berpegangan tangan. Ani menangis histeris karena takut. Mereka berdua pulang denan berbasah kuyup. 

Melihat mereka seperti itu, Nenek kaget sambil berteriak memanggil ibunya Ani. “Kemarilah! Ini Ani beserta ayahnya basah kuyup. Mengapa bisa begini, Ani? Tadi ke mana saja?” tanya Nenek. “Kalian tidak apa-apa, kan?” lanjut Nenek. Dari dalam rumah tampak ibunya Ani. “Hah! Mengapa bisa begitu? Apa yg terjadi? Kalian jatuh di mana?” Kepanikan mereka itu akhirnya dijawab ayah Ani bahwa tadi mereka jatuh terperosok di kolam ikan milik tetangga sebelah. “Sudah! Sudah! Sekarang masuk, cuci, mandi, ganti baju, terus sarapan, ya,” kata Nenek penuh semangat. Ani kemudian mandi terlebih dahulu, sementara ayah menunggunya karena kamar mandi hanya satu. Jadi, harus bergantian. Begitu selesai mandi, Ani terus sarapan pagi. Banyak kegiatan sehari-hari selama Ani berlibur di rumah Nenek yg tidak bisa dilakukannya di rumah. 

Misalnya bermain di sungai yg jernih, melihat pemandangan alam yg alami, berjalan-jalan di pematang sawah, beserta berjalan-jalan di pagi hari menghirup udara segar. Semua itu bakal menjadi kenangan indah bagi Ani selesai liburan. Peristiwa terperosok ke kolam pagi itu menjadikan kenangan indah pula yg tidak bakal pernah dilupakannya. Waktu liburan pun hampir usai. Ani harus berkemaskemas untuk kembali ke kota. Meskipun sebenarnya masih enggan pulang ke rumah, ia harus meninggalkannya. “Nek! Besok pagi Ani harus pulang kembali. 

 
Sekarang Ani harus mengemas barang yg dibawanya kemarin. Nenek ikut Ani saja yuk! Biar Ani bisa selalu bersama Nenek. Liburan ini Ani senang sekali Nek! Besok kalau ada liburan panjang, Ani ke sini lagi ya, Nek! Ani tidur di sini lagi!” Nenek pun segera menghampiri Ani yg sedang mengemasi bawaannya. Sambil membelai rambut Ani yg lurusitu, Nenek berkata: “Ya. Ani memang harus pulang. Bukankah besok Ani masuk sekolah. Jika kangen, besok Nenek yg datang ke rumah Ani.” “Ya, Nek!” Jawab Ani dengan manja di pelukan nenek. 
SUMBER: http://databasecerpen.blogspot.co.id

Sunday, December 1, 2019

Cerpen Romantis Terbaru: Kala Cinta Menemukan Cahayanya

Guruberbahasa.com- Cerpen Romantis

Kala Cinta Menemukan Cahayanya

Hari masih gelap, matahari sepertinya enggan untuk menampakkan cahayanya. Hanya kokok ayam jantan yg terdengar. Daun-daun nampaknya masih basah diselimuti embun. Alam sekitar pun masih berselimut kabut. Pagi yg lembab. Nadila terbangun mendengar suara adzan berkumandang.

    Nadila menggerakkkan seluruh tubuhnya sambil duduk di tempat tidur, terdengar suara gemerutuk dari tulang punggungnya, tulang lehernya, dengan kedua lengannya. Ia mensyukuri betapa lelapnya tidur semalam.setelah itu, Ia kemudian bangkit ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

    Lepas salat Subuh, seperti biasa Nadila tidak melupakan aktivitasnya.membersihkan kamar, mencuci piring, menyapu, itulah yg biasa Nadila lakukan sebelum berangkat ke kampus. Meskipun tergolong keluarga yg kaya, tetapi kedua gerah pengampu Nadila tidak memanjakannya.

    Hari ini, tampaknya jadwal kuliah cukup padat. Setumpuk mata kuliah harus dikejarnya dengan penuh semangat. Terlebih-lebih ia tidak bisa terlambat di jam pertama mata kuliah Akuntansi. Ya, pak Rino selaku dosen pengampu mata kuliah ini bisa diakui kerajinannya. Sepuluh menit sebelum waktu perkuliahan dimulai beliau sudah duduk di meja tugas. Benar-benar kualahan deh bagi mahasiswa yg tidak biasa bangun pagi di saat ayam berkokok ataupun pun adzan berkumandang. Bisa-bisa dibuat malu sama pak Rino. Hebat ya! Kalau semua orang seperti pak Rino bakalan tertib deh Indonesia ini. 

    Nadila Keyza Revala,gadis gerah jelita berambut panjang ini merupakan mahasiswa aktif Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, termasuk anak yg ramah, penyayang, rajin dengan disiplin. Jadi, baginya dosen seperti pak Rino, siapa takut?
    Seusai mandi, Nadila selalu tepat waktu, menuruni tangga kamarnya menuju ruang makan, mengikuti panggilan perutnya. Pasti sudah ada Mama Papa di sana.
   
“Pagi Ma…Pa…” sapa Nadila
    “Pagi sayang!”
    Lalu ciuman Nadila pun mendarat di kedua pipi orang tuanya. Rutinitas yg indah, seperti melihat pemandangan alam. Tenang dengan menentramkan.
Di meja makan, keluarga ini biasa saling bercerita mengenai aktivitas masing-masing. Sambil menikmati masakan yg sedia dihidangkan di meja makan.   
    “ Hari ini Nadila kuliah sampai sore Ma, padat jadwalnya”.
    “Biasanya juga pulang sore terus ya Pa?” gurau Mama
    “Iya Ma, ikutan sibuk kaya Papa.” kata Papa
    “ Hehe, wajar dong Pa, Nadila kan artis, jadi sering dikejar-kejar pihak yg membutuhkan.”

    “ Iya-iya, yg penting anak Papa harus tetap rajin, jangan ketinggalan kuliahnya.” gerah elakan Papa menyenangkan hati Nadila
    “ Beres Pa, Ma, Nadila berangkat dulu ya? Gak boleh terlambat”.
    “ Oke…deh, hati-hati di jalan ya Nak!”
    Nadila lalu mencium punggung kedua tangan orang tuanya. Tidak lupa mengucapkan salam dengan pergi meninggalkan rumah.

    Nadila biasa pergi ke kampus dengan diantar oleh sopirnya. Karena masih takut kalau harus mengendarai mobil sendiri. Apalagi sekarang jalan raya sudah cukup ramai. Jadi harus mahir menggunakannya. 

    Sepeninggal Nadila ke kampus, tak lama kedua orang tuanya pun pergi ke kantor. Rumah menjadi sepi. Hanya Mbok Inah dengan Mang Karno saja yg menunggu rumah hingga pemilik rumah itu pulang dari kesibukannya.

    Setibanya di kampus, Nadila langsung menuju kelasnya. Cukup melelahkan untuk menaiki lantai dua, tempat biasa dia mengikuti perkuliahan pak Rino..Langkah yg gontai serta alunan kakinya yg jenjang tidak terasa sedia menemui daun pintu kelasnya. Tampak tiga orang sudah menempati tampat kursi yg sedia tersedia. Kayla, Icha, dengan Nayla, itulah mereka, teman dekat Nadila yg selalu bersama-sama di kampus, jalan, makan, juga main. 

    “Pagi semua?” sapa nadila
    “Pagi juga?”
    “Masih sepi ya, kemana aja nie yg lain, belum dengan datang?”
    “Tau tuh, udah ah biarin aja yg penting kita dah di kelas.”

    Satu per satu penghuni kelas pun bertambah. Hingga dosen tiba pun masih ada mahasiswa yg silih berganti datang terlambat. Nyelonong masuk tidak tau malu. Biasa tabiat mahasiswa. Hehe
    Waktu terus berjalan, pagi pun sedia berganti sore. Tepat pukul 16.00 Nadila keluar dari kelasnya. Cukup melelahkan ia melewati perkuliahan hari ini. Seperti biasa Nadila pulang bersama kedua temannya. Berjalan perlahan menuju halte tempat menunggu bus.

    Di perjalanan, ketika Nadila, Kayla dengan icha sedang menyusuri taman kampus, terlihat dua pemuda sedang duduk di taman. Sekilas Nadila melihat seorang pemuda diantaranya sedang memperhatikan Nadila dari kejauhan.
    “Nad, tuh cowok dari tadi ngliatin lo aja.” ucap Kayla
    “Iya Nad, naksir kali dia.” celutuk Icha
    “Masa sih! Udah lah biarin aja. Dia kan gak gangguin kita.” gerah elakan Nadila enteng

    Nadila tidak menanggapi kata-kata temannya. Mereka tetap berjalan melewati pemuda itu. Setibanya di rumah, Nadila melewati kegiatannya seperti biasa. Hingga waktunya untuk memejamkan mata dengan melepas penat yg Nadila lalui hari ini.
    Namun, di luar sana. Di kamar kost ukuran 6x6 m itu, jarum jam sedia berdenting sebelas kali. Seorang pemuda sedang terserang insomnia memikirkan gadis jelita yg ia lihat di taman kampus sore tadi. 
  
    “Ga, kenapa lo bengong gitu kaya orang kesambet aja!” Tanya Adit teman   kosannya
    “Gue kepikiran cewek tadi, Dit! Waktu kita liat di taman, gua naksir ma dia.”
    “Yang mana, tadi kan ada tiga cewek, Ga?”
    “Ya yg gerah jelita lah! Yang tinggi, putih, rambutnya panjang.”
    “Lo samperin aja dia, Ga! Dia mahasiswa FE jurusan Akuntansi semester dua.”
    “Kok  lo tau, Dit!”
    “Iya dia ikut BEM, gua pernah liat dia waktu kumpulan di unit mahasiswa.”
    “Oh, kirain lo udah kenal ma dia.”
    “Kenapa? Lo mau gua kenalin, besok gua maintain nomor handphonenya. Gua punya temen di FE.
    “Siip, Bro!”

    Ega cukup tenang dengan ucapan temannya. Ada jalan untuk menggapai harapannya, mendekati Nadila. Gadis gerah jelita yg ia kagumi dengan mungkin sulit untuk mendapatkannya.

    Gema adzan Subuh masih terngiang di telinga. Mengantar sang surya yg bagi menuju ke peraduannya. Gemanya menerobos dedaunan, menembus dinding dengan langit-langit. Nadila masih terduduk di atas kasur, dengan bagi melewati hari-harinya dengan semangat yg baru.

    Nadila melalui aktivitasnya seperti biasa. Berangkat kuliah dengan tepat waktu. Hari ini, jadwal kuliah tidak sepadat hari lalu. Hari ini pula, sebagai langkah awla Ega untuk memulaiu usahanya mendekati Nadila. Akankah Ega berhasil? Semua ini bagi terjawab setelah siasat Adit berhasil untuk meminta nomer Nadila dengan Icha. Adit dengan Icha memang sudah lama kenal. Mereka sempat berteman ketika duduk di SMA. Jadi gerah sepele buat Adit untuk meminta dengan Icha. Dan Icha pun setuju dengan Adit yg ingin mendekatkan Nadila dengan Ega. Mahasiswa Fakultas Hukum, tinngi, putih, dengan terlihat tampan. Postur tubuh yg sesuai dengan cocok bila disandingkan dengan nadila.

    Seusai kuliah, Nadila kembali pulang melewati taman. Kala itu pula, Ega sedia siaga menempati kursi taman, duduk terdiam sambil membuka buku sebagai alibi mencuri pandang melihat gadis yg dikaguminya. Hari-hari sedia dilewati. Namun, Ega belum memberikan diri berkenalan dengan Nadila. Hingga suatu malam Adit datang bermain ke rumahnya.
    “Ga, ini nomer Nadila.”

    “Jadi cewek itu namanya Nadila? Cantik sesuai dengan orangnya.”
    “Huh norak lo! Udah buruan lo telepon dia. Mumpung malam minggu capa tau dia lagi nyantai di kamar.”
    “Dia gak ada cowok kan, Dit!”
    “Kata teman gua sih dia belum pernah pacaran. Cuma deket aja sama temen-temen sekolahnya dulu.”

    Nadila tersadar dari lamunannya, ketika mendengar lirik lagu di ponselnya berdering. Pertanda panggilan masuk. Nadila tertegun nomor baru masuk di ponselnya.
    “Halo.” sapa Nadila
    Terdengar suara lembut di seberang sana, berdesir-desir rasanya hati Ega. Dag dig dug bunyi jantung Ega serasa mau copot.
    “Halo.” Nadila mengulanginya
    “Halo, Nadila.” gerah elakan Ega dengan penuh keberanian
    “Gua Ega, mahasiswa Fakultas Hukum….

    Dijelaskannya panjang lebar mengenai diri Ega. Dari dia becus nomor handphone Nadila, hingga bercerita tentang perkuliahan dengan alamat rumah mereka. Cukup lama mereka berbincang-bincang. Nadila pun merespon dengan baik. Hal ini sangat melegakan hati Ega. Ega pun mengajak Nadila bertemu di taman kampus esok harinya. Nadila menjawab dengan malu-malu, lembut kata-katanya menyetujui ajakan Ega sebagai tanda perkenalan mereka.

    Ini, adalah hari-hari yg Ega tunggu. Setelah keberaniannya menelpon Nadila. Kini, ia tekadkan untuk menemui Nadila. Sebagai langkah keduanya mendapatkan hati Nadila. Setibanya di kampus, nadila tudak lupa menceritakan kejadian semalam kepada teman-temannya. Mereka hanya tersenyum senang menanggapi cerita Nadila.karena mereka lebih tau dulu rencana itu. Begitu pula dengan Ega menceritakan rencana pertemuannya dengan Nadila kepada Adit.

    Senja yg indah, namun tak seindah jantung Ega yg berdetak kencang seperti bagi menembus keluar paru-paru. Ega sudah duduk di taman menunggu kedatangan Nadila. Tak lama, seusai perkuliahan Nadila pun di antar temannya menemui Ega. Namun, setibanya di sana Icha pun meninggalkan Nadila.

    Dengan langkah berat nadila pun menduduki kursi di samping Ega. Tidak terlalu dekat. Nadila termasuk cewek pemalu dengan jarang terlihat dekat dengan para lelaki.
    “Hai, gua Ega!” disapanya Nadila untuk mencairkan kebekuan di antara mereka.
    “Nadila.” diiringi dengan senyum simpul dari bibir Nadila
     Ega senang melihat wajah Nadila yg bersemu dengan tersenyum malu-malu padanya. Hal ini lah yg membuat Ega terpaut dengan gadis gerah jelita yg sedang duduk di sampingnya. Mereka saling berkenalan, ngobrol, bercerita, dengan tawa canda pun terlihat di raut muka keduanya.     

    Waktu pun terus berkedip. Tidak terasa pertemuan pertama kala senja itu, harus berakhir. Ega mengantar Nadila pulang ke rumahnya. Senangnya Ega saat itu.

    Detik demi detik sedia berputar. Lembaran hari pun sedia berganti minggu. Sudah Minggu kelima Ega mengenal Nadila. Selalu menghubunginya, memberi perhatian, mengantar maupun menjempput kuliah. Hari-hari Ega penuh dengan Nadila. Rasa sukanya dengan Nadila semakin bertambah. Namun Ega belum berani untuk mengatakannya.

    “Terlalu lo Ga!” serum Adit dengan geram,
    “Cowo itu harus berani, agresif, menyerang, bukannya diem aja kaya ayam sayur!”

    “Gue kan bukannya diem, Dit! Butuh nyali buat hal itu.”
    “Gak berani kan lo, Ga! Cemen.”
    “Kalo aja gua bisa semudah itu ngomong suka sama Nadila.”
    “Harus dipaksa, Ga! Di dunia itu gak ada yg sulit. Kecuali memang yg gak dicoba. Cowok harus optimis! Pastiin kali ini lo gfak perlu bantuan gue, Ga!”

    Benar juga kata Adit. Sudah waktunya Nadila tahu, siapa Ega sebenarnya. Batin Ega malam itu sambil merapikan kerah bajunya dengan tersenyum tipis di depan cermin.    

    Di saat itu, terjadi perbincangan juga antara Nadila dengan teman-temannya. Di sebuah kamar yg mewah, rapi, dengan nyaman bila berada di dalamnya.
    “Nad, kelanjutan hubungan lo ma Ega gimana sih!” Tanya Icha geram
    “Iya, gak jelas arah tujuannya. Sahut Kayla.”
“Tau ah, aku juga bingung, harus kemana ya? Dia pernah sih nembak gua, Cha.”

    “Terus.”
    “Gua tolak. Pertama, dia bilang lewat sms, gua belum bisalah terima dia. Setengah percaya, secepat itu dia bilang sayang. Kedua, lewat telepon.
    “Lo gerah elakan apa, Nad!” sahut Kayla tak sabar
    “Ya gua gak jawab. Gua cuma yakinin dia aja beneran udah sayang, dia gerah elakan iya, tapi gua diemin aja.

    “Gila lo, Nad! Cowok sekeren dia, baik juga kamu tolak begitu aja.”   
    “Mendingan buat gua. Nyesel lo, Nad!”
    “Enggak. Gua gak nyesel. Gua yakin kalo dia beneran suka sama gua, gak bagi nyerah dong usahanya. Tapi kalo gak bener-bener, ya udahlah.”
    “Jadi, kalo Ega nembak lagi, lo mau terima dong, Nad!”
    “Yaaa, may be yes, may be no!”
    Hening menyelimuti ruangan sesaat. Tiba-tiba ponsel Nadila berbunyi. Tertera di layer ponsel, Ega calling.

    “Panjang umur, Nad. Angkat! Icha penuh semangat
    “Halo. Kenapa Ga malam-malam nelpon?”
    “Gak papa Nad, besok bisa kan kalo kita ketemu.”
    “Emm, bisa. Di mana Ga? Di taman?”
    “Bukan, Nad! Besok aku jemput kamu ya? Kita jalan. Aku pengen ngomongin sesuatu sama kamu.”
    “Iya, Ga.”
    “Ya udah. Met malam Nadila. Sampai ketemu besok.”
    “Malam.”
    Sambungan pun terputus.

    Setelah Ega menelpon, Nadila pun cerita kepada temannya. Malam yg seru. Tanpa terasa jam dinding menunjukkan tengah malam. Mereka pun tertidur hingga pagi menjelang.
     Esoknya, dengan membawa segudang rasa optimis. Honda jazz warna merah sedia meluncur di depan gerbang rumah Nadila. Kedatangan Ega membuat hati Nadila cerah, secerah mentari pagi ini.

    Ega, menemui gerah pengampu Nadila berpamitan untuk mengajak keluar Nadila. Papa Mama Nadila cukup senang melihat perilaku Ega yg sopan dengan baik. Hal ini sebagai tanda responnya dengan hubungan Egad dengan putrinya.

    Nadila pun memasuki pintu mobil yg sedia dibukakan ole Ega. Di tengah perjalanan, Nadila bertanya-tanya sebenarnya mau dibawa kemana ini? Nadila maupun Ega tidak memberi tahu teman-temannya. Hanya Ega lah yg tahu. Dengan sejuta penasaran Adit dengan Icha mengikuti langkah mereka dari belakang. Seperti polisi yg sedang mengintai buronan saja ya?

    Akhirnya, setelah 30 menit melewati perjalanan. Nadila tertegun melihat tempat yg sedia disediakan oleh Ega. Di rumah gerah pengampu Ega. Di lantai atas, rumah yg asri dikelilingi taman dekat puncak yg indah. Membuat hati Nadila berbunga-bunga.

    Nadila memberikan senyum terindahnya untuk Ega
    Dipersilakannya Nadila duduk di sebuah kursi yg mengelilingi meja bundar penuh dengan hiasan lilin dengan bunga.
    Dipegangnya kedua tangan Nadila.
    “Nad, aku mau ngomong.”
    “Iya. Ngomong apa, Ga?”
    “ Aku Cuma mau bilang, kalo aku udah lama punya… punya perasaan ke kamu.”

    Nadila terdiam. Membiarkan semilir angin mempermainkan anak-anak rambutnya. Membuatnya makin gerah jelita di mata Ega.
    “Aku suka kamu, Nad.”
    Lalu, tanpa diduga-duga Nadila menatap Ega lurus dengan melepas tangannya.
    “Maaf, Ga!”
    Kata itu menimbulkan debar keras dihati Ega makin keras. Ega menundukkan pandangannya. Lemas, harapannya ‘kan dunia indah bersama Nadila kandas.


    Bumi terasa berhenti berputar. Bermata-mata pandangan dibalik tirai jendela pun menjadi arang akibat kobaran api cinta.
    “Ega, maaf!” kembali Nadila mengulangi kata-kata itu
    “Kenapa, Nad?”
    “Maaf, Ga. Aku gak bisa kalo nolak kamu.”
    “Serius, Nad!”
    Ega memancarkan matanya dengan cahaya cintanya. Dunia serasa hidup kembali.
    “Serius kan, Nad!” diulang kembali ungkapan ketidakpercayaannya itu.

    Dengan tertunduk malu, Nadila melempar senyum indahnya kepada Ega sebagai bukti jawaban iyanya.
    Tak lama kemudian, mata-mata di balik tirai pun menampakkan wujudnya. Papa, Mama, Icha, Adit dengan Ayah Bunda Ega tersenyum senang menemui keduanya. 

Cerpen: Ika Puspita Apriani