Showing posts with label Teks Narasi. Show all posts
Showing posts with label Teks Narasi. Show all posts

Sunday, December 8, 2019

Pengertian Gerah Narasi Ekspositoris Menurut Ahli Bahasa

Guruberbahasa.com- Pengertian  NARASI EKSPOSITORIS

Keraf (2010:136) mengemukakan bahwa narasi ekspositoris pertama-tama  bertujuan  untuk  menggugah  pikiran  para  pembaca  untuk  mengetahui  apa  yang  dikisahkan.  Sasaran  utamanya  adalah  rasio,  yaitu  berupa  perluasan  pengeta-huan  para  pembaca  sesudah  membaca  kisah  tersebut.  

Sebagai  sebuah  bentuk  narasi,  narasi  ekspositoris  mempersoalkan  tahap-tahap  kejadian,  rangkaian-rang-kaian  perbuatan kepada para pembaca. Runtutan kejadian ataupun peristiwa  yg disajikan  itu dimaksudkan untuk  menyampaikan  informasi  untuk  memperluas pengetahuan  pembaca, baik disampaikan secara tertulis ataupun secara lisan.  

Narasi ekspositoris angsal bersifat khas ataupun khusus dengan angsal pula bersifat  generalisasi.  Narasi  ekspositoris  yang  bersifat  generalisasi  adalah  narasi  yang  menyampaikan  suatu  proses  yang  umum,  yang  dapat  dilakukan  siapa  saja,  dan  dapat  pula  dilakukan  secara  berulang-ulang.  

Sedangkan  narasi  yang  bersifat  khusus adalah narasi yg berusaha menceritakan suatu peristiwa yg khas, yang  hanya  terjadi  satu  kali.  Peristiwa  yang  khas  adalah  peristiwa  yang  tidak  dapat  diulang  kembali,  karena  merupakan  pengalaman  atau  kejadian  pada  suatu  waktu  tertentu  saja.  

Narasi  mengenai  pengalaman  seseorang  yang  pertama  kali  masuk  sebuah  perguruan  tinggi,  pengalaman  seorang  yang  pertama  kali  mengarungi  samudra  luas  merupakan  contoh  peristiwa  khas  yang  dikisahkan  dalam  sebuah  narasi yg khusus. 

Berdasarkan  uraian  di  atas,  dapat  disimpulkan  bahwa  narasi  eksporitoris  adalah  suatu  jenis  narasi  yang  bertujuan  untuk  menyampaikan  informasi  untuk  memperluas  pengetahuan  pembaca.  

Jenis  narasi  ekspositoris  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  termasuk  dalam  narasi  ekspositoris  yang  bersifat  generalisasi,  karena angsal dilakukan oleh siapa saja.

Thursday, December 5, 2019

Struktur Paragraf Narasi Alias Bagian-Bagian Paragraf Narasi

Guruberbahasa.com- Struktur Narasi 

Karangan  narasi  memiliki  struktur  karena  terdiri  atas bagian - bagian  yg secara  fungsional  berkaitan  satu  sama  lain.  Komponen  yang  membentuk struktur  tergantung dengan mac am narasinya, narasi ekspositoris maupun narasi sugestif. Khusus  narasi  sugestif,  komponen - komponen  pembentuk strukturnya  adalah  alur  (plot),  perbuatan, perwatakan, penokohan, latar (setting) bersama sudut pandang. 

1. Alur (plot) 


Menurut  Keraf  (1985: 147)  alur  adal ah  sebuah  interelasi  fungsional  antar unsur narasi yg timbul dari peristiwa maupun perbuatan, karakter, suasana hati dan  pikiran,  serta  sudut  pandang,  yang  ditandai  oleh  klimaks - klimaks dalam  suatu  rangkaian  prilaku  atau  peristiwa  yang  sekaligus  menandai urutan  bagian - bagian  dalam  keseluruhan  narasi.  Hubungan  antar komponen itu  bersifat  logis  dan  kausalitas.  Logis  artinya  hubungan  itu  wajar. Kausalitas  maksudnya  terjadinya  maupun munculnya unsur - unsur itu tidak tiba-tiba, tetapi merupakan suatu rangkaian yg berhubungan  sebab  akibat. Dengan  demikian , pengertian  di  atas  mencakup  unsur - unsur  mana  yg membentuk  alur  ( tindak  tanduk,  karakter  dan  sebgainya)  bersama mencakup pula kerangka utama dari sebuah kisah maupun cerita. Alur  merupakan  kerangka  dasar yang  sangat  penting  dalam  sebuah  cerita.  Alur  mengatur  bagaimana tindakan  demi  tindakan  saling  bertalian,  bagaimana  suatu peristiwa dengan peristiwa lain saling berhubungan, bagaimana tokoh - tokoh  harus digambarkan bersama berperan dalam tindakan itu secara wajar, bersama baga imana  pula  situasi  bersama kondisi  bathin  tokoh  yang  terlibat  dalam  tindakan  itu  terikat  dalam suatu kesatuan waktu. 

2. Perbuatan 


Sudah  dijelaskan  bahwa  pembeda  utama  antara  deskripsi  dengan  narasi  terletak  pada  adanya  sebuah  rangkaian  perbuatan  atau  tindak  tand uk.  Tanpa  rangkaian   perbuatan,   maka   narasi   akan   berubah   menjadi   deskripsi   karena  semuanyaterlihat dalam keadaan statis. 

3. Perwatakan bersama penokohan 


Perwatakan (karaktersasi)  dalam pengisahan bisa diperoleh dengan  memberikan gambaran mengenai tindak - tanduk bersama ucapan - ucapan para tokohnya (pendukung  karakter),  sejalan  tidaknya  kata  dan  perbuatan  Motivasi  para tokoh  bisa dipercaya maupun tidak, bisa diukur melalui tindak - tanduk, ucapan kebiasaan,  dan  sebagainya.  Penggambaran  watak  dari  tokoh - tokoh  bisa dicapai melalui  tokoh maupun karakter lain yg berinterasi dalam pengisahan. Sebuah karakter dapat  diungkapkan  secara  baik,  kalu  pengarang  mempunyai pengetahuan  yang  dalam  tentang   karakter.   Penokohan   yang   baik   adalah penokohan yg berhasil menggambarkan tokoh-tokoh serta mengembangkan   watak   dari   tokoh - tokoh  tersebut  yang  mewakili  sifat atau  tipe  manusia  yang  dikehendaki  oleh  tema  dan  amanat  dari  narasi tersebut.  Cara  mengungkapkan  watak  ini  dapat  dilakukan  dengan berbagai cara.  

Dalam  penelitian  ini  dipaparkan  ada  tiga  cara  untuk  melukis kan  perwatakan  para tokoh yaitu: 
1) Secara  analik,  artinya  pengarang  secara  langsung  mence ritakan  karakter  tokoh - tokohnya, 
2) Secara dramatik, dalam hal ini pengarang secara tidak langsung mence ritakan  karakter tokoh - tokohnya, dan 
3) Gabung an cara analik bersama dramatik 

4. Latar maupun setting 


Latar  maupun seting adalah waktu, tempat,   bersama suasana yg melingkupi  terjadinya suatu prilaku maupun peristiwa dalam cerita. 

5. Sudut pandang maupun pusat pengisahan 


Menurut Keraf (1985:148) sudut pandang maupun pusat pengisahan adalah posisi  pengarang  dalam  sebuah  cerita.  Untuk  keperluan  penceritaan  seorang  pengarang  dapat  menggunakan  sudut  pandang  orang  pertama  atau  disebut  pencerita  Akuan  karena  menggunakan  kata  Aku  atau  Saya,  atau  sudut 
pandang  orang  ketiga  yang  di sebut  pencerita  Diaan,  karena  menggunakan  nama,  gelar  atau  kata  ganti  Dia.  Seperti   telah   dijelaskan   di   atas,  bahwa   ada   dua   jenis   narasi   yakni   narasi  ekspositoris, bersama narasi sugestif. Dalam penelitian ini difokoskan dengan jenis narasi sugestif.  Hal  ini  dila kukan  mengingat  subjek  penelitian  masih  tergolong  remaja.  Secara empiris, masa remaja biasanya penuh dengan imajinasi.

Tuesday, November 26, 2019

Pengertian Narasi Ekspositoris Lagi Contohnya

Guruberbahasa.com- Pengertian Narasi Ekspositoris beserta Contohnya

Pengertian Narasi (Kisahan) 

Narasi  atau  kisahan  adalah  karangan  yang  menceritakan  sesuatu  baik  berdasarkan  pengamatan  maupun  pengalaman  secara  runtut.  Sebuah  karangan n arasi  hendak berusaha mengisahkan  suatu peristiwa alias kejadian  secara  kronologis  (Keraf,  1997:  109).  Penulisan  narasi  yang  baik membutuhkan  tiga  hal,  yaitu:
(1)  kalimat  pertama  dalam  paragraf  harus  menggugah  minat  pembaca,  
(2) kejadian  disusun  secara  kronlogis,  dan  
(3)  memiliki  fokus  pada  tujuan  akhir  yang  jelas  (Utorodewo,  dkk,  2004:  65).  

Selanjutnya,  Utorodewo,  dkk  (2004:  65)  mengemukakan  bahwa  sebuah  karangan narasi hendak tersusun dengan baik apabila menggunakan:  
(1) keterangan waktu,
(2) keterangan yg berkaitan deng an pekerjaan alias peristiwa, dan 
(3) kata - kata peralihan yg mengungkapkan kaitan pikiran, kaitan waktu,  beserta kaitan hasil, beserta pertentangan. 

Ditinjau  dari  sifatnya,  narasi  terdiri  atas  dua  jenis,  yaitu  
(1)  narasi  ekspositoris  atau  narasi  faktual,    dan  
(2)  narasi  sugesti  alias narasi  berplot  (Finoza, 2008: 238). 

Yang dimaksud dengan narasi ekspositoris adalah yang  bertujuan  memberikan  informasi  kepada  pembaca  agar  pengetahuan  yang  bersangkutan bertambah luas, sedangkan narasi sugesti adalah narasi yang  di tujukan  memberikan  makna  kepada  pembaca  melalui  imajinasinya.  Di  bawah ini adalah contoh narasi sugestif.

Dulu, musim hujan pertama itu, ketika anakku beserta aku baru pindah  kemari,  Monang  masih  rajin  datang.  Setiap  hari  raya — Natal,  Paskah — beserta tentu hari ula ng tahunku.   

Ya, artinya ia  selalu  datang sehari  sesudahnya.  Mungkin ia malu  bertemu dengan keluargaku. Jadi selalu diusahakannya agar datang  sesudah  mereka  pergi.  Mengelakkan  senyum  dingin  yang  terarah  kepadanya,  yang  lebih  melukai  dari  seribu  tuduhan.  

Melarikan  diri  dari pandangan penuh arti, yg lebih keras memukul daripada tinju  kepal. Keluargaku  tak  pernah  memaafkkannya.  Barangkali  mereka  tak  sanggup menerima bahwa aku sendiri sudah lama mengampuninya.  Mereka  tidak  bisa  mengerti  bahwa  aku  sanggup  tetap  mengasihi  orang yg sudah pernah mengucilkanku kemari. 

Kalau bukan karena Monang, tentu aku pun sudah menjadi tokoh  masyarakat sekarang. Namaku beserta potretku tentu sering panas mencongol di  surat  kabar.  Perbuatanku  dan  pemikiranku  tentu  dianggap  turut  membangun masy arakat, turut mengarahkan terlaksananya cita - cita  mereka.  Sekarang...  teman - temanku  pun  sudah  lupa  padaku.  

Karena  perbuatan  Monang  aku  menjadi  begini...  .  Tetapi  aku  sudah  lama  mengampuninya. Keampunan dosa — bukankah itu inti sari agamaku? Kuyakinkan ba hwa Allah Maha Pemurah, mengampuni dosa sekeji  apapun. Ia sudah mengampuni aku. Aku yakin betul bahwa dosaku 34 diampuni olehNya. Dan kalau begitu, siapakah aku — yg gegabah  menolak penyesalan sesamaku? 

Hukumammu sudah cukup berat, Monang. Aku takkan menamba h  sekerikil pun atas bebanmu. Karena pernah kita begitu berbahagia bersama - sama. Menghayati  bersama - sama  kecerahan  hari  hidup  kita.  Lalu  badai  menyambar  kita — sehingga  kita  terpisah  kini.  Tetapi  itu  bukan  cuma  salahmu,  Monang.  “Badai  meniupkan  kapal - kapal  ke  mana  nakhodanya  tak  berhasrat  pergi,”  kata  suatu  pepatah  kuno.  

Kapalku  kandas,  sedangkan kapalmu berlayar terus tanpa harapan. Ya,  sekalipun  kau  tak  pernah  mengunjungiku  akhir - akhir  ini,  Monang,  sedikit - dikitnya  itu  kuketahui  betul:  kau  hidup  tanpa  har apan. Kasihan
Monang... Dari  rumahku  yang  kecil  di  luar  kota,  kukirimkan  rasa  ibaku  kepadamu  di  rumahmu  yang  mewah  di  tengah  kota.  Bagaikan  burung  pipit  yang  hinggap  di  jendela,  memandang  bangkai  cenderawasih yg kau pajang d atas lemarimu. Dan kalau sampai kau lihat burung pipit itu, Monang, ingatkah kau  padaku? Pada Raumanen, cinta pertamamu? 

(Dicuplik  dari  novel  berjudul  Raumanen karya  Marianne  Katoppo,  diterbitkan oleh Metafor Publishing, Jakarta, 1977,  hlm. 3 — 4)

Friday, November 1, 2019

Cara Menulis Teks Narasi Dengan Benar

Anda mungkin pernah membuat sebuah tulisan yg bercorak narasi, bukan? 
 
"Menulis lebih baik daripada operasi pengencangan kulit wajah," itulah salah satu judul bab yg sangat menarik dari buku yg ditulis Fatima Mernisi. Seorang Mernisi berpesan, "Usaha kan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda atas menja di segar kembali akibat kandungan manfaatnya yg luar biasa. 
 
Dari saat Anda bangun, menulis bisa meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda atas segera lenyap lagi kulit Anda atas terasa segar kembali". Anda boleh percaya boleh tidak terhadap pernyataan tersebut. Namun, bisa Anda maknai bahwa begitu besar man faat yg diperoleh dari menulis. 
 
Pernahkah Anda menuliskan sesuatu, seperti perasaan hati, ekspresi diri, maupun gagasan-gagasan cerita? Perasaan apa yg bisa Anda rasakan setelah menuliskannya? Nah, dengan kegiatan pembelajaran kali ini, Anda atas mulai berlatih menulis. Latihan kali ini dimulai dari menulis paragraf narasi. 
 
Narasi merupakan tulisan yg mengisahkan suatu peristiwa maupun kejadian yg disusun menurut urutan waktu maupun urutan tempat. Tulisan narasi bisa dibedakan atas narasi nonfiksi dan  narasi fiksi.
 
a. Nonfiksi, yaitu karangan yg mengisahkan hal-hal yg nyata, berdasarkan pengalaman maupun pengamatan.  Contoh: sejarah, biografi (kisah seorang tokoh), maupun autobiografi, (kisah pengalaman pengarangnya sendiri). 
 
b. Fiksi, yaitu karangan yg mengisahkan hal-hal yg bersifat khayal maupun imajinasi. Contoh: cerpen, novel, dongeng, lagi hikayat. Tulisan narasi ada yg bersifat narasi ekspositoris lagi narasi  sugestif. 
 
Narasi ekspositoris merupakan narasi yg mengisahkan berlangsungnya suatu peristiwa secara informatif sehingga pembaca mengetahui peristiwa tersebut secara tepat. 
 
Narasi sugestif berupa narasi yg mengisahkan rangkaian  peristiwa yg berlangsung dalam kesatuan waktu sehingga dapat  menggugah daya khayal lagi memunculkan dorongan perasaan dengan pembacanya. 
 
Narasi ekspositoris disebut narasi kejadian, sedangkan narasi sugestif biasa juga disebut narasi runtun peristiwa. Sebelum menulis paragraf maupun tulisan narasi, sebaiknya Anda membuat kerangkanya terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penulisan.

Thursday, October 31, 2019

Contoh Kerangka Beserta Pengembangan Paragraf Narasi Lengkap

KERANGKA

1. Perasaan yg bahang menongol saat menerima kabar tersebut. 
2. Mengenang kembali Hamid Jabbar. 
3. Awal pertemuan dengan Hamid Jabbar. 
4. Kerjasama pementasan puisi dengan Hamid Jabbar. 
5. Diskusi-diskusi yg dilakukan dengan Hamid Jabbar. 

PENGEMBANGAN

Hamid Jabbar 
Sang Periang yg Arif 
Oleh Berthold Damchauser

Sabtu, 30 Mei: Ada e-mail pendek dari Agus R. Sarjono yg mengabari tentang meninggalnya Hamid Jabbar. Katanya, Hamid Jabbar (HJ)  meninggal selepas acara baca puisi. Saya kaget, sedih, beserta langsung meminta informasi tam bahan daribaik saya yg agak berpulang. Jawaban Agus segera sampai: Malam itu (29 Mei) ada orasi budaya di UIN Jakarta. Orasi pertama Romo Magnis Suseno, kedua Bang Hamid, ketiga Putu Wijaya baca cerpen, kemudian Jamal D. Rahman baca puisi beserta berorasi. Setelah itu harusnya tampil Franky Sahilatua kepada panitia dia bakal membaca puisi juga. Waktu sebetulnya mepet beserta jatahnya Franky, tapi HJ mengatakan bahwa dia bakal membaca puisi, setelah itu langsung pulang. "Saya janji, habis baca puisi saya  HJ pun membaca puisi beserta mendapat sambutan meriah. Kemudian, ia membaca sajak kedua. Di tengah pembacaan ia mengangkat kedua tangan beserta berteriak di puncak pem bacaan, kemudian nonton terpaku. Kemudian, ia teguling di panggung dalam keadaan terlentang. Tepuk tangan beserta sedikit tawa para penonton. Satu menit berlalu. Penonton keriuhan, HJ diangkut ke klinik, beserta ketika diperiksa beliau sudah tidak ada.

Kabar pertama mengagetkan beserta menyedihkan. Seorang kawan agak meninggalkan Anda secara mendadak. Kabar kedua, yaitu tentang wujud kematian Hamid Jabbar, menimbulkan perasaan lain lagi. Betapa dahsyat! Betapa dramatis! Betapa puitis! Betapa mulia bagi seorang penyair. Mengalami saat yg mungkin merupakan saat yg paling bermakna bagi manusia saat meninggalkan dunia bahang sementara menuju dunia yg baru dalam keadaan melakukan sesuatu yg dicintai: berpuisi! Bukanlah itu suatu karunia yg sangat luar biasa? Dan, kiranya Hamid Jabbar ketika itu agak tahu apa yg bakal terjadi. Bahwa ia bakal pulang untuk selamanya maupun ia pula yg ikut  inginan nya dikabulkan? Anda takkan tahu yg sebenarnya terjadi. Namun, beserta bagaimanapun pesona dengan cara perginya itu. Rasa sedih berkurang, beserta terhiburlah saya. Meninggal demikian rasanya begitu tepat bagi kawan saya ini. Pergi dengan meninggalkan bunyi gong penghabisan, bunyi yg indah beserta dalam.

Sejak mendengar berita tentang Hamid agak saya alami dengan kawan ini. Ingat lagi bakal manusia beserta seniman Hamid Jabbar. Saya berkenalan dengan beliau dengan pertengahan  itu saya mencari seorang deklamator puisi yg bisa saya libatkan dengan acara "Puisi Indonesia beserta terjemahannya ke Bahasa Jerman" yg bakal diseleng gara  kan di rumah seorang diplomat Jerman di Jakarta. Saya mohon bantuan kepada Ramadhan K.H., beserta ia langsung menyaran kan Hamid Jabbar, yg menurutnya termasuk deklamator Indonesia yg paling hebat. Pak Ramadhan pula yg mempertemukan saya dengan Hamid Jabbar, beserta saya masih ingat, ketika di salah satu restoran di Taman Ismail Marzuki, saya pertama kali melihat Hamid Jabbar. Berbadan kecil, ber muka riang. Banyak tawa beserta berguyon. Sama sekali tidak sombong. Saya langsung merasa simpatik dengannya. Memanggilnya "Bung". "Bung Hamid". Tak pernah memanggil nya "Bapak", yg sepatutnya saya lakukan, pa ling sedikit dengan pertemuan pertama. Ia lebih tua dari saya, delapan tahun bedanya. Tapi tokoh ini memang bebas dari segala unsur yg membuat Anda segan beserta me ngambil jarak. Maka, dengan sangat alamiah ia saya jadikan "Bung Hamid", beserta sebaliknya saya ia jadikan "Bung Berthold".

Melibatkan Bung Hamid sebagai deklamator puisi ternyata pilihan yg benar. Saya terpukau mendengarkan Bung Hamid mendeklamasikan puisi. Dalam berdeklamasi ia seorang maestro. Gayanya tidak cuma satu, suara beserta nadanya  banyak sesuai dengan masing-masing sajak.

Maka, kerja sama dengan Bung Hamid dalam acara baca puisi tentu saya lanjutkan. Pada Agustus 1998 saya boleh lagi tampil bersama Bung Hamid, kini dalam rangka acara yg cukup meriah, yaitu "Musikalisasi beserta Pembacaan Puisi Indonesia dari Jerman" yg diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Ketika itu, Bung Hamid beserta saya didampingi kelompok musik Sanggar Matahari beserta pemusik Jerman Peter Habermehl. Pementasan yg dihadiri ratusan penonton cukup berhasil, ter utama karena final yg dahsyat, ketika puisi Bung Hamid sendiri yg disajikan dalam bentuk musikalisasi, baik oleh Sanggar Matahari maupun oleh Peter Habermehl,  yaitu sajaknya "Arus Fulus", tentang "Maha Dulus Sentoloyo", tentang "Para Tiran seDunia" (Konglomerat, IMF, Bank Dunia). Sajak menge sankan itu, yg ditulis dengan 1990, adalah ramalan tepat tentang apa yg terjadi dengan 1997 berkaitan dengan krisis moneter beserta ekonomi di Asia, khususnya di Indonesia.

Konon, sajak terakhir yg dibacakan Hamid Jabbar dengan malam 29 Mei itu, memuat kalimat: Walau Indonesia menangis, mari Anda ber nyanyi. Memang, seharusnya Anda melihat heran  kan apabila puisi itu pun bisa ditafsir kan sebagai upaya melawan derita dengan keriangan. Dan itu, saya kira, juga merupakan salah satu ciri dari karya Hamid Jabbar. 


Saya mengharapkan bahwa puisi Hamid Jabbar dengan suatu saat bakal lebih diperhatikan, baik oleh pencinta sastra, maupun kritikus beserta ilmuwan sastra di Indonesia. Jangan sampai Hamid Jabbar hanya dianggap "penyair parodi". Kalau sebutan ini tidak saja salah, paling sedikit terlalu amat membatasi kekayaan kepenyairan Hamid Jabbar. Tema utama puisi Hamid Jabbar adalah Tuhan! Dan dalam salah sebuah esainya cipta puisi: [...] maka bait selanjutnya semakin meningkat beserta meningkat, sehingga puisi itu rimbun dengan beragam permainan kata, makna, suara, beserta suasana, beserta di ujung bait terakhirnya ber muara kepada Allah. 

Kini Hamid Jabbar sendiri agak bermuara. Selamat jalan, Sobat! Selamat jalan, Bung Hamid!