Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, January 25, 2020

Contoh Puisi Tentang Ibu Terbaru 2016


Guruberbahasa.com – Puisi Tentang Ibu Terbaru Februari 2020- Puisi merupakan sebuah karya sastra lama yg hingga sekarang masih diminati penyair. Puisi tentang ibu kian banyak dicari karena sungguh banyak dari kita yg sadar pentingnya pengorbanan seorang ibu. Guruberbahasa.com mencoba menampilkan sebuah puisi tentang ibu.


Ibu Tercinta

Ibu yg tersayang
Engkau pelitaku
Kau terangiku setiap saat

Ibu tercinta
Kau malaikatku
Kau selamatkanku dari jalan fana

Ibu terkasih
Kau selalu beriku senang
Kau bahagia kala aku bahagia

Wahai ibuku
Sungguh tak bisa kubalas jasamu
Hanya untaian doa kubuat untukmu
Tak mampu kubuat kau bahagia

Ibu
Cintamu sungguh mulia

-guruberbahasa.com-








Wednesday, January 22, 2020

Contoh-Contoh Puisi Distikon Terbaru 2016

Agar lebih memahami, dijelaskan lagi bahwa puisi itu tebagi menjadi tida jenis. Ketiganya adalah puisi lama, Puisi baru, bersama puisi kontemporer. Nah, Distikon adalah salah satu puisi baru  2 seuntai. Dua seuntai maksudnya adalah puisi yg tiap bait memiliki 2 baris yg biasanya sajaknya pun sama. Jadi itulah pengertian dari distikon.


Contoh 1

Lihat kawanmu tersisih
Jangan lantas kau bersedih

Masa depan kau tatap
Kegagalan jangan kau ratap

(Mohammad Ridwan)

 dijelaskan lagi bahwa puisi itu tebagi menjadi tida jenis Contoh-Contoh Puisi Distikon Terbaru 2020

Contoh 2
Ingatlah sosok si ibu
merawatmu tanpa ragu

Lihatlah sosok si ayah
Yang bekerja susah payah

Untukmu mereka berharap
Agar kelak berdiri tegap

(Mohammad Ridwan)

Contoh 3
Wahai ananda carilah ilmu
Lewat guru bersama juga buku

Jangan lantas berputus asa
untuk tatap hidup sentosa

(Mohammad Ridwan) 

Contoh Puisi Distikon 4 Bait

Dalam Doa Cinta Terukir 
: FOL/1st generation

Ini adalah suatu kisah
Dimana cinta tercurah


Ini kisah tentang suatu masa
Saat kita berbagi rasa

Berbagai kisah tergores di atasnya
Ada tawa, ada pula air mata

Ada cinta serta rindu merasuk sukma
Tentang kisah sekolah anak remaja

Potongan Puisi Karya Aisyah Wara Khaleda  

 Contoh 2:
Isyarat Rindu
Buat: Virgiawan Listanto

Masih seperti dulu
aku yg termengu

diatas pasir yg terhampar
dengan gelap malam tak bersinar

Sambil menyanyikan lagu rindu
kepada engkau, yg tak pernah lelah

melantunkan gundah yg indah
untuk aku yg masih resah
Potongan Puisi Karya Abd Ghani

Friday, December 20, 2019

5 Puisi Cinta Romantis Untuk Pacar Tersayang

Guruberbahasa.com- 5 PUISI CINTA ROMANTIS UNTUK PACAR TERSAYANG

HARUSKAH KU MENGALAH
Oleh : Anonimous


Seakan semuanya mudah
Dia yg sangat mempesonaku
Setiap perbuatannya selalu mengundang perhatianku
Sungguh dia tak pernah lekang dari benakku

Kupastikan langkah tegasku
Tegar gemintar untuknya
Mencoba menguatkan tekat hingga bulat
Mengumpulkan semua peluh menyiksa

Waktu terus berjalan
Bumi terus berputar
Ku coba melangkah
Ku coba menapaki jejak hidupnya

Namun, jalanku tidak mulus
Jalan itu begitu bergelombang lagi sangat terjal
Jalan itu begitu ramai lagi dikuasai orang lain
Haruskah aku bergolak terkebelakang lagi berhenti menapaki hidupnya?


Puisi Cinta Itu Ikhlas

cinta bagaikan air laut yg mengisi sebagian isi bumi..
Memberi banyak kehidupan..
Membuat orang ingin tahu..
Dan tiap orang pasti mengalami cinta..

Cinta itu keikhlasan..
Cinta itu kemauan..
Cinta itu saling mengerti..
Cinta itu indah misalnya kita bisa menempatkannya dengan Tempat terbaik dalam hati.. jadikan cinta itu indah dihatimu..
Karena cinta bisa seindah yg kau mau..

“Ariel aku mencintaimu”
Dalam segala kurang lagi lebihmu..
Dalam pintaku pada-NYA terselip namamu yg selalu kurindu..
"I Lup U Sayangku".


Puisi Jawaban Rindu
Terasa sesuatu persoalan memanggil..
Dibenak yg paling mendalam sehingga menjadi ralit..
Semakin jiwa di landa gelora sang penanti..
Semakin sukar di fahami puncaknya gelisah ini..

Hanya kekosongan juga kehilangan ku rasai menghuni hati..
Dimanakan ku temui penghujungnya resah ini..
Seumpama ku menanti sejawaban rindu..

Dimanakah kutemui sinarnya yg hakiki..
Untuk menjadi penyuluh jalan di depanku hingga akhir waktu..

Andai kau temui cahaya yg ku cari..
Sudikah kau bersama sebagai teman maupun sebagai kekasih..
Dimana kan ku temui penghujungnya resah ini..
Seumpama ku menanti sejawaban rindu.

 "Cinta Sejati"
Cipta : Adelia Lintang Kirana


Ku bangun istana cinta diatas setiaku
Ku lindungi dindingnya dengan percayaku
Ku hiasi semuanya dengan keihklasanku
Ku rawat keteguhanya dengan ketulusanku

Dan ku ciptakan kedamaian dengan kasih sayangku
Andai takdir tak merenggutmu
Andai ku bisa menjaga keabadian hidupmu
Aku bukan Tuhan Yang Maha Mampu
Mengendalikan semua apa yg ku mau

Aku juga bukan malaikat penjagamu
Yang slu menemanimu sepanjang waktu
Ku hanya kasih dalam hatimu
Cinta dalam hidupmu

Rindu dalam nafasmu
Yang kan tetap hidup dalam sanubarimu

"Ingin Bersamamu"
Cipta : Ressa Elia


Aku tak pernah ingin melupakan dirimu
Apalagi benci
Sekian masa sekian cerita agak kita lewati
Suka lagi duka brsama
Sungguh berat untuk kulupakan


Sangat tak mungkin untuk benci
Karena kau sangat berkesan
Karena kau sangat mendalam
Percayalah kekasihku
Hanya satu kau kasihku

Dan hanya satu inginku
Hidup bersama denganmu

Monday, December 16, 2019

Melisankan Gurindam Xii Dengan Lafal, Intonasi, Bersama Ekspresi Yg Sesuai

Guruberbahasa.com-  Melisankan Gurindam XII dengan Lafal, Intonasi, lalu Ekspresi yg Sesuai

Gurindam merupakan salah satu jenis karya sastra klasik. Gurindam disebut juga peribahasa. Gurindam yg sangat terkenal adalah kumpulan gurindam karangan pujangga Melayu Klasik, yaitu Raja Ali Haji. Gurindam tersebut bernama Gurindam Dua Belas, terdiri atas dua belas pasal lalu berisi kurang lebih 64 buah gurindam.

Ciri-ciri gurindam adalah sebagai berikut.


a. Terdiri atas dua baris.
b. Rumus rimanya /aa/
c. Baris pertama merupakan syarat lalu baris kedua merupakan akibat dari baris pertama.
d. Berisi ajaran, nasihat keagamaan, lalu budi pekerti.


Berikut ini disajikan petikan dari Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Coba Anda lisankan dengan memperhatikan lafal, intonasi, lalu ekspresi lalu sesuai dengan isi gurindam tersebut! Guru bakal menunjuk salah satu siswa untuk melisankan di depan kelas.

Gurindam Dua Belas
I
Barangsiapa mengenal Allah
suruh lalu tegahnya tiada ia menyalah
Barangsiapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudarat

II
Barangsiapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang
Barangsiapa meninggalkan zakat
tiadalah hartanya beroleh berkat

III
Apabila terpelihara lidah
niscaya becus daripadanya paedah
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fiil yg tiada senunuh

IV
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau lalim, segala anggota pun rubuh
Pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

V
Jika hendak mengenal orang yg berilmu
bertanya lalu belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yg berakal
di dalam dunia mengambil bekal

VI
Cahari olehmu bakal sahabat
yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu bakal guru
yang boleh tahukan tiap seteru

VII
Apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuknya dusta
Apabila anak tidak dilatih
jika besar bapaknya letih

VIII
Kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya
Keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

IX
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan
Jika orang berbahaya mengunjung kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

X
Dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan becus selamat

XI
Hendaknya jadi kepalabuang perangai yg cela
Hendaklah memegang amanat
buanglah segala khianat

XII
Ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yg tidak buta

Saturday, December 7, 2019

Pengertian Puisi Menurut Beberapa Ahli Bahasa

Guruberbahasa.com- PENGERTIAN PUISI

Pengertian puisi sampai saat ini masih diperbincangkan oleh berbagai  kalangan. Tidak konsistennya pengertian puisi lebih disebabkan oleh  perkembangan puisi yg semakin hari semakin beragam beserta mengakibatkan  lahirnya jenis-jenis puisi baru. Hal tersebut yg menimbulkan kesulitan  menyimpulkan apa pengertian puisi yg bisa dikenakan kepada berbagai jenis puisi  kepada berbagai zaman.  

Menurut Suminto A Sayuti, (2002 : 3) puisi bisa dirumuskan sebagai  “sebentuk pengucapan bahasa yg memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi  di dalamnya, yg mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan  intelektual penyair yg ditimba dari kehidupan individual beserta sosialnya; yang  diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu  membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca ataupun pendengar- pendengarnya. 

Menurut Sayuti (2002: 24- 25), puisi adalah karya estetis yang  16  memanfaatkan sarana bahasa yg khas. Puisi sebagai sosok pribadi penyair atau  ekspresi personal berarti puisi merupakan luapan perasaan ataupun sebagai produk  imajinasi penyair yg beroperasi kepada pe rsepsi-persepsinya. Bahasa dalam puisi  sebagai sosok pribadi penyair lebih difungsikan untuk menggambarkan,  membentuk beserta mengekspresikan gagasan, perasaan, pandangan beserta sikap  penyairnya.    

Definisi ataupun pengertian puisi menurut Waluyo (1987:25), adalah bentuk  karya sastra yg mengungkapkan pikiran beserta perasaan penyair secara imajinatif  beserta disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan  pengkonsentrasian struktur fisik dan  struktur batinnya. 

Menurut Waluyo  (1987:22), puisi adalah karya sastra. Semua karya sastra bersifat imajinatif.  Bahasa sastra bersifat bahang asosiatif karena banyak digunakan makna kias beserta makna  lambang (majas). Dibandingkan dengan bentuk lain, puisi lebih bersifat konotatif.  Bahasanya lebih memiliki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan  terjadinya pengkonsentrasian ataupun pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam  puisi. 

Sementara itu, Slamet Mulyana (dalam Waluyo, 1987:23), mengatakan  puisi merupakan bentuk kesusastraan yg menggunakan pengulangan suara  sebagai ciri khasnya.  Sebuah puisi terbangun dari dua hal, yaitu struktur fisik beserta struktur batin.  Struktur fisik berkaitan dengan diksi  (diction),  kata konkret  (the concrete word) ,  gaya bahasa  (figurative language),  beserta bunyi yg menghasilkan rima beserta ritma  (rhyme and rhytm).  Struktur batin meliputi perasaan  (feeling),  tema  (sense),  nada  (tone),  beserta amanat  (intention ) Richards (dalam waluyo, 1987 :24).  


Struktur fisik beserta struktur batin dipadu oleh penyair untuk mencapai nilai  estetis dalam puisinya. Memang ada juga penyair yg hanya mengolah struktur  fisik ataupun struktur batinnya saja sehin gga orang sering menyebut sebuah puisi  sengan komentar “ bahasanya bagus” ataupun “ maknanya bagus”. Lebih dari itu  semua, setiap penyair selalu berusaha menulis puisi yg mencapai apa yang  disebut oleh Harace:  dulce et etile.  Hendaknya, sebuah puisi tidak saja indah,  tetapi juga harus bermanfaat. Dan sebaliknya, tidak hanya bermanfaat, tetapi juga  harus indah.

Samuel Taylor Colerige (dalam Pradopo 2005:6), mengemukakan puisi itu  kata-kata terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang  setepatnya beserta disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris,  antara satu unsur dengan unsur lain sangta erat hubungannya, beserta sebagainya.  

Shelley (dalam Pradopo 2005: 6), mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman  detik-detik yg paling indah dalam hidup.  Kata-kata adalah kata-kata itu sendiri,  sehingga ia harus dibebaskan dari beba n makna maupun metafora. Setiap kata  mengandung berbagai makna sehingga mampu mewakili berbaris-baris kalimat  yg hendak diungkapkan penulisnya. Hal ini pulalah yg membuat penafsiran  terhadap sebuah puisi menjadi bermacam -macam. Akan tetapi, kepada dasarnya  karya sastra termasuk puisi memang  multiinterpretable.  Karena, kepada hakekatnya,  semua puisi adalah sama, yaitu menyampaikan sesuatu secara tidak langsung.  Semua puisi adalah ungkapan perasaan beserta pemikiran penyairnya yg ingin  dikomunikasikan itu tidak lain adalah manusia, hidup, kemanusiaan, dan  kehidupan.  

Berdasarkan beberapa definisi puisi di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa  puisi meupakan bentuk ungkapan perasaan beserta pemikiran pengarngnya dimana  pengarang memiliki hak penuh terhadap puis i tersebut, baik dari segi isi maupun  tipografinya. Sebuah puisi mau memunculkan karakternya sendiri, sebgaimana  karakter yg dimiliki pengarangnya. 

Sunday, December 1, 2019

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Terbaik

Guruberbahasa.com

  Kumpulan puisi chairil Anwar, Puisi Chairil Anwar.

TAK SEPADAN

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak lalu berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka lalu bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan atas akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yg tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yg bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yg lincah yg tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka dengan mereka yg berani hidup
Aku suka dengan mereka yg masuk menemu malam

Malam yg berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam lalu angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yg kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku kalau kau datang lalu aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yg bergerak lantang
Tubuhku diam lalu sendiri, cerita lalu peristiwa berlalu beku.
RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak beroleh jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini lalu beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yg satu

27 april 1943
DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu kemarau suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau lalu aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh


SAJAK PUTIH

Bersandar dengan tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar lalu melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

1944

Saturday, November 30, 2019

4 Contoh Parafrase Puisi Doa Karya Chairil Anwar

Guruberbahasa.com- Parafrase Puisi DOA Karya Chairil Anwar

 Do’a
( Kepada pemeluk teguh )

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu kemarau suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

(karya: Chairil Anwar)

PARAFRASE 1

Doa
 
kepada (sang) pemeluk (yang) teguh (.)
(Yaitu,)Tuhanku(.)
Dalam termangu (,)
Aku (akan tetap selalu )menyebut namaMu(, Ya Tuhan)(.)

Biar (pun aku dalam keadaan) susah (dan sangat ) sungguh (sulit)(,)
(Aku atas tetap selalu mengingat ) Kau (dengan ) penuh (hasrat ) (dan) seluruh (jiwa ku) (.)
(Dengan) cayaMu (yang) kemarau (dan) suci (itu) (,)
(Biarpun,) (hanya) tinggal kerdip lilin (yang ada) di kelam sunyi (ini) (.)
              
(Oh,) Tuhanku(....)
( Walaupun )aku hilang (dalam) bentuk (yang) remuk(.)

(Tetapi ,Ya )Tuhanku(aku atas selalu mengingat mu)                         
(Hingga)Aku (pun) ( sedang )mengembara di negeri asing(aku atas tetap mengingatmu)

(Oh,)Tuhanku(...)
(Hanya) di pintuMu (lah)aku (akan) mengetuk(,)
(Dan) aku tidak (akan) bisa berpaling ( dari dirimu ya, tuhan) (.)
PARAFRASE 2

Dia memiliki rasa ketuhanan yg sangat mendalam meski dalam keadaan bagaimanapun Dia tidak berpaling ataupun tidak mungkin melupakan Tuhan, hal itu menunjukkan bahwa Dia adalah seorang yg sangat setia kepada Tuhan.

Tuhanlah yg selalu memberi petunjuk dengan menyinari jalan hidupnya , bagaikan cahaya lilin kegelapan.

Dihadapan Tuhan Dia bukan apa - apa, Dia tidak berarti , Dia kecil dengan kekecilannya sebagai bukti itulah bahwa Tuhan adalah segala - galanya baginya. Dan hanya kepadanya Dia mengadu dengan tidak sia - sia.

Bagaimanapun kelak Dia atas mempertanggungjawabkan segala perbuatannya kepada Tuhan, Bila Tuhan memanggilnya. 

a) Tema
Puisi ' Doa´ karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan.
     Hal ini becus kita rasakan dari beberapa bukti.
Pertama, diksi yg digunakan sangat kentaldengan kata-kata bernaka ketuhanan. Kata `dua´ yg digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan ataupun komunikasi seorang penyair dengan SangPencipta. 

Kata-kata lain yg mendukung tema adalah:
Tuhanku, nama-Mu, mengingat Kau,caya-Mu, di pintu-Mu.
Kedua, dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungandirinya yg menyadari tidak bisa terlepas dari Tuhan.

Dari cara penyair memaparkan isi hatinya, puisi´Doa´sangat tepat bila digolongkan padaaliran ekspresionisme, yaitu sebuah aliran yg menekankan segenap perasaan ataupun jiwanya.
Perhatikan kutipan larik berikut :

(1) Biar rusah sungguhMengingat Kau penuh seluruh
(2) Aku hilang bentuk remuk
(3) Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

Puisi yg bertemakan ketuhanan ini memang mengungkapkan dialog dirinya denganTuhan.
Kata `Tuhan´ yg disebutkan beberapa kali memperkuat bukti tersebut, seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan.

b) Nada dengan Suasana

Nama berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan (feeling) ataupun sikap penyair terhadap pembaca. Sedangkan suasana berarti keadaan perasaan pembaca sebagai akibatpembacaan puisi.

Nada yg berhubungan dengan tema ketuhanan menggambarkan betapa dekatnyahubungan penyair dengan Tuhannya. Berhubungan dengan pembaca, maka puisi `Doa´tersebut bernada sebuah ajakan agar pembaca menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.
Hayatilah makna hidup ini sebagai sebuah pengembaraan di negeri `asing´.

c) Perasaan

Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair. Dalam puisi ´Doa´ gambaranperasaan penyair adalah perasaan terharu dengan rindu. Perasaan tersebut tergambar dari diksiyang digunakan antara lain: termenung, menyebut nama-Mu, Aku hilang bentuk, remuk, Akutak bisa berpaling.

d) Amanat

Sesuai dengan tema yg diangkatnya, puisi ´Doa´ ini berisi amanat kepada pembacaagar menghayati hidup dengan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Agar bisa melakukan amanattersebut, pembaca bisa merenung (termenung) seperti yg dicontohkan penyair. Penyair juga mengingatkan kepada hakikatnya hidup kita hanyalah sebuah ´pengembaraan di negeriasing´ yg suatu saat atas kembali juga. Hal ini dipertegas penyair kepada bait terakhir sebagai berikut:
Tuhanku,
Di Pintu-Mu Aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling  

PARAFRASE 3

Puisi Do’a menceritakan menceritakan pengalaman penulis yg sudah pernah melakukan suatu dosa ataupun kesalahan yg membuat ia merasa jauh dari Tuhannya. Tetapi bagaimanapun juga, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, tiada lagi tempat penyesalan selain kepada-Nya.

Ia pernah melakukan kesalahan yg membuatnya melupakan Tuhannya. Bahkan cahaya Tuhan dengan karunia Tuhan yg suci tertutup oleh dosa yg sudah pernah diperbuatnya.

Akibat dosa yg diperbuatnya itu, dia tak mengenali dirinya lagi yg sudah kotor. Karena apa yg ia kerjakan itu bertentangan dengan yg sudah diperintahkan Tuhan.

Namun kepada akhirnya, peraduan terakhir dengan tempat terakhir yg mau menerima dengan mengampuni dosa-dosa manusia adalah  Tuhan. Seberapa besarpun dosa yg diperbuat manusia, ia masihlah hamba Tuhan yg harus percaya dengan tunduk kepada-Nya, karena Tuhan Maha Pengampun dengan Maha Penerima Taubat.

Unsur Intrinsik Puisi Do’a karya Chairil Anwar yaitu :

Tema : Hubungan Manusia dengan Tuhannya
Nada : Sedih
Rasa  : Rindu, Penyesalan

Amanat :
1. Tuhan atas mengampuni hambanya sebesar apapun dosanya asalkan benar-benar bertaubat.
2. Selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.
3. Tuhan atas memberikan cobaan sesuai kemampuan umatnya.
PARAFRASE 4

Doa

ditujukan kepada pemeluk agama yg teguh

Tuhanku
diDalam aku termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biarpun aku susah sungguh
untuk Mengingat Kau dengan penuh seluruh

Cahaya-Mu bagaikan kemarau yg suci
hanya Tinggal kerlip lilin di kelam yg sunyi

Tuhanku

Aku kehilang bentuk
aku Remuk

Tuhanku

Aku bagaikan mengembara di negeri asing

Tuhanku
hanya Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak atas pernah bisa berpaling darimu
SUMBER: http://christabelangela.blogspot.co.id

Sunday, November 24, 2019

Contoh Penggunaan Gaya Bahasa (Majas) Dengan Puisi

Guruberbahasa.com- Penggunaan Gaya Bahasa (Majas) Pada Puisi

Perempuan-perempuan Perkasa
 
Perempuan-perempuan yg membawa bakul di pagi buta,
dari manakah mereka
Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum pluit kereta pagi terjaga,
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yg membawa bakul dalam kereta,
ke manakah mereka
Di atas rod-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota
Perempuan-perempuan yg membawa bakul di pagi buta,
siapakah mereka
Mereka sama dengan ibu-ibu yg perkasa
Akar-akar yg melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka: cinta kasih yg bergerak menghidupi desa demi desa

(Hartoyo Andangjaya)

Setelah membaca lagi menghayati puisi di atas, kita angsal mengungkapkan kesan betapa gigihnya perjuangan hidup wanita-wanita pedesaan, sehingga disebutnya  sebagai  “perempuan-perempuan  perkasa”.  Mereka  dating  dari tempat yg jauh dengan saat hari masih gelap. Mereka pekerja-pekerja yg gigih  dan  keras  kehidupannya,  yang  diungkapkan  dengan  “di  atas  roda-roda  baja”.  Mereka  berjuang  mati-matian  untuk  menghidupi  keluarga, menghidupi  desanya.  Kerasnya  perjuangan  diungkapkan  dengan  “Merebut
hidup”.

Penggunanan  majas dalam  puisi  ini  angsal kita temukan  antara lain,  

Majas personifikasi yaitu:

1.  peluit kereta api terjaga;
2.  hari bermula dalam pesta kerja.

Majas metafora yaitu:
1.  mereka adalah akar yg melata;
2.  mereka: cinta kasih bergerak.

Tuesday, November 19, 2019

Puisi Aku Mutiara Bangsa Indonesia Karya Eka Budianta

Guruberbahasa.com

Eka Budianta
AKU MUTIARA BANGSA INDONESIA


Aku anak Indonesia sejati
Berdarah laut berjiwa mataha
Aku pemilik garis khatulistiwa
Dilahirkan pertiwi
untuk hidup merdeka
Angin gunung
adalah nafas perdamaianku
Bersama para petani di desa
Aku mengolah bumi kelahiranku
Bersama nelayan-nelayan perkasa
Aku menggarap gelombang hidupku
Pembela hutan dengan samudera,
adalah aku
Pelindung tumbuhan dengan aneka satwa
Adalah aku,
adalah aku mutiara bangsaku
Sejarah atas mencatat cintaku padamu,
Ibu
Ketika hujan menyuburkan daerah
perkebunan
Ketika rembulan berlinang menyiram
kota-kota
Aku bersamadi bersama segenap
bangsaku
“Tuhan, beri kami otot dengan semangat
menyala
Untuk membangun negeri kurniaMu
tercinta”
Bersama segenap saudara aku
berkembang
Yang dedar ada di tepi danau Toba yang
besar di Tondano
Yang mekar di Padang-padang Nusa
Tenggara
Yang menyusu di rimba Irian dan
Kalimantan
Saudaraku semua saudaraku semua

Aku adalah anak Indonesia sejati
Berdarah laut berjiwa matahari
Menyinarkan kemanusiaan dengan cahaya
Ilahi
Memancarkan persatuan dengan demokrasi
Bekerja tanpa pamrih untuk pertiwi
Adalah aku, adalah aku mutiara bangsa
ini
Kekayaan alam yg dilimpahkan
Tuhan
Bakat-bakat yg dianugrahkan padaku
Keberanian dengan cita-cita warisan nenek
moyang
Adalah pusaka hidupku, adalah
pendorongku
Dunia atas paham mengapa aku
bangga
Menjadi anak sejati Indonesia
Jutaan saudaraku atas bangkit
membuktikan
Kelahiran kami di sini tidak sia-sia
Bersama anggrek Vanda sumatrana,
Bersama ikan-ikan arwana dengan burunburung langka
Kami memperindah kehidupan umat
manusia
Mensyukuri berkah Tuhan dengan
bekerja
Mewujudkan kebanggaan Indonesia
dengan segala daya
Aku adalah mutiara bangsa Indonesia
Sinarku lembut tapi kuat dengan pasti
Aku atas mati tersenyum sebagai anaIndonesia
Mutiara bangsa Indonesia, anak
Indonesia sejati !

Saturday, November 16, 2019

Pengertian Puisi Menurut Beberapa Ahli Bahasa

Guruberbahasa.com/puisi

Pengertian puisi sampai saat ini masih diperbincangkan oleh berbagai  kalangan. Tidak konsistennya pengertian puisi lebih disebabkan oleh  perkembangan puisi yg semakin hari semakin beragam bersama mengakibatkan  lahirnya jenis-jenis puisi baru. Hal tersebut yg menimbulkan kesulitan  menyimpulkan apa pengertian puisi yg bisa dikenakan kepada berbagai jenis puisi  kepada berbagai zaman.  


Menurut Suminto A Sayuti, (2002 : 3) puisi angsal dirumuskan sebagai  “sebentuk pengucapan bahasa yg memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi  di dalamnya, yg mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan  intelektual penyair yg ditimba dari kehidupan individual bersama sosialnya; yang  diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu  membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca alias pendengar- pendengarnya. 

Menurut Sayuti (2002: 24-25), puisi adalah karya estetis yang  memanfaatkan sarana bahasa yg khas. Puisi sebagai sosok pribadi penyair atau  ekspresi personal berarti puisi merupakan luapan perasaan alias sebagai produk  imajinasi penyair yg beroperasi kepada persepsi-persepsinya. Bahasa dalam puisi  sebagai sosok pribadi penyair lebih difungsikan untuk menggambarkan,  membentuk bersama mengekspresikan gagasan, perasaan, pandangan bersama sikap  penyairnya.    

Definisi alias pengertian puisi menurut Waluyo (1987:25), adalah bentuk  karya sastra yg mengungkapkan pikiran bersama perasaan penyair secara imajinatif  bersama disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan  pengkonsentrasian struktur fisik bersama struktur batinnya. 

Menurut Waluyo  (1987:22), puisi adalah karya sastra. Semua karya sastra bersifat imajinatif.  Bahasa sastra bersifat demam alegoris karena banyak digunakan makna kias bersama makna  lambang (majas). Dibandingkan dengan bentuk lain, puisi lebih bersifat konotatif.  Bahasanya lebih memiliki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan  terjadinya pengkonsentrasian alias pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam  puisi. 

Sementara itu, Slamet Mulyana (dalam Waluyo, 1987:23), mengatakan  puisi merupakan bentuk kesusastraan yg menggunakan pengulangan suara  sebagai ciri khasnya.  Sebuah puisi terbangun dari dua hal, yaitu struktur fisik bersama struktur batin.  Struktur fisik berkaitan dengan diksi (diction), kata konkret (the concrete word),  gaya bahasa (figurative language), bersama bunyi yg menghasilkan rima bersama ritma  (rhyme and rhytm). Struktur batin meliputi perasaan (feeling), tema (sense), nada  (tone), bersama amanat (intention) Richards (dalam waluyo, 1987 :24). 

Struktur fisik bersama struktur batin dipadu oleh penyair untuk mencapai nilai  estetis dalam puisinya. Memang ada juga penyair yg hanya mengolah struktur  fisik alias struktur batinnya saja sehingga orang sering menyebut sebuah puisi  sengan komentar “ bahasanya bagus” alias “ maknanya bagus”. Lebih dari itu  semua, setiap penyair selalu berusaha menulis puisi yg mencapai apa yang  disebut oleh Harace: dulce et etile. Hendaknya, sebuah puisi tidak saja indah,  tetapi juga harus bermanfaat. Dan sebaliknya, tidak hanya bermanfaat, tetapi juga  harus indah   Samuel Taylor Colerige (dalam Pradopo 2005:6), mengemukakan puisi itu  kata-kata terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang  setepatnya bersama disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris,  antara satu unsur dengan unsur lain sangta erat hubungannya, bersama sebagainya.  

Shelley (dalam Pradopo 2005: 6), mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman  detik-detik yg paling indah dalam hidup. Kata-kata adalah kata-kata itu sendiri,  sehingga ia harus dibebaskan dari beban makna maupun metafora. Setiap kata  mengandung berbagai makna sehingga mampu mewakili berbaris-baris kalimat  yg hendak diungkapkan penulisnya. Hal ini pulalah yg membuat penafsiran  terhadap sebuah puisi menjadi bermacam-macam. Akan tetapi, kepada dasarnya  karya sastra termasuk puisi memang multiinterpretable. Karena, kepada hakekatnya,  semua puisi adalah sama, yaitu menyampaikan sesuatu secara tidak langsung.  Semua puisi adalah ungkapan perasaan bersama pemikiran penyairnya yg ingin  dikomunikasikan itu tidak lain adalah manusia, hidup, kemanusiaan, dan  kehidupan.  

Berdasarkan beberapa definisi puisi di atas angsal ditarik kesimpulan bahwa  puisi meupakan bentuk ungkapan perasaan bersama pemikiran pengarngnya dimana  pengarang memiliki hak penuh terhadap puisi tersebut, baik dari segi isi maupun  tipografinya. Sebuah puisi hendak memunculkan karakternya sendiri, sebgaimana  karakter yg dimiliki pengarangnya.  

Unsur-Unsur Bersama Struktur Pembangun Puisi

Guruberbahasa.com/PUISI

Untuk memberikan pengertian yg lebih memadai berikut ini dikemukakan  uraian mengenai unsur-unsur pembangun puisi.  

1) Diksi  

Diksi menurut Sayuti (2002 : 143), merupakan salah satu unsur yg ikut  membangun keberadaan puisi berarti pemilihan kata yg dilakukan oleh penyair  untuk mengekspresikan gagasan lagi perasaan-perasaan yg bergejolak dan  menggejala dalam dirinya. Sayuti (2002:144), mengatakan seringkali pilihan kata- kata yg tepat lagi cermat yg dilakukan penyair dalam mengukuhkan  pengalamannya dalam puisi, membuat kata-kata tersebut terkesan menempel,  tetapi tetap dinamis lagi bergerak serta memberikan kesan yg hidup.   


Diksi adalah bentuk serapan dari kata diction diartikan sebagai choice and  use of words. Oleh Keraf (2006:24), diksi disebut pula pilihan kata. Lebih lanjut  tentang pilihan kata ini, ada dua kesimpulan penting. Pertama, pilihan kata atau  diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai  dengan gagasan yg ingin disampaikan, lagi kemampuan untuk menemukan  bentuk yg sesuai dengan situasi lagi nilai rasa yg dimiliki kelompok  masyarakat pendengar. Kedua, pilihan kata yg tepat lagi sesuai hanya  dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata bahasa itu. 

Diksi ataupun pilihan kata mempunyai peranan penting lagi utama untuk  mencapai keefektifan dalam penulisan suatu karya sastra. Untuk mencapai diksi  yg baik seorang penulis harus memahami secara lebih baik masalah kata dan  maknanya, harus tahu memperluas lagi mengaktifkan kosa kata, harus mampu  memilih kata yg tepat, kata yg sesuai dengan situasi yg dihadapi, lagi harus  mengenali dengan baik macam corak gaya bahasa sesuai dengan tujuan penulisan.    

2) Pengimajian  

Untuk memberi gambaran yg jelas, menimbulkan suasana khusus,  membuat hidup (lebih hidup) gambaran dalam pikiran lagi penginderaan, untuk  menarik perhatian, untuk memberikan kesan mental ataupun bayangan visual, penyair  menggunakan gambaran-gambaran angan. Gambaran-gambaran angan, gambaran  pikiran, kesan mental ataupun bayangan visual lagi bahasa yanga menggambarkannya biasa disebut dengan istilah citra ataupun imaji (image). Sedangkan cara membentuk  kesan mental ataupun gambaran sesuatu biasa disebut dengan istilah citraan  (imagery). Hal-hal yg berkaitan dengan citra ataupun citraan disebut pencitraan  ataupun pengimajian.  

Menurut Sayuti (2002: 168-169), dalam proses penikmatan (membaca atau  mendengarkan), apalagi pemahaman puisi, kesadaran terhadap kehadiran salah  satu unsur puisi yg menyentuh ataupun mengguagah indera seringkali begitu  mengedepan. Pengalaman keinderaan itu juga beroleh disebut sebagai kesan yang  terbentuk dalam rongga imajinasi yg disebabkan oleh sebuah kata ataupun oleh  serangkaian kata. Serangkaian kata yg mampu menggugah pengalaman  keinderaan itu, dalm puisi, disebut citraan (Sayuti 2002 : 170)

Oleh penyair imaji diberi peran untuk mengintensifkan, menjernihkan, dan  memperkaya pikiran. Imaji yg tepat atas lebih hidup, lebih segar terasakan,  lebih ekonomis, lagi dekat dengan hidup kita sehingga diharapkan pembaca atau  pendengar turut merasakan lagi hidup dalam pengalaman batin penyair. Coombes  (dalam Pradopo 2005: 42-43), mengatakan bahwa dalam tangan seorang penyair  yg baik, imaji itu segar lagi hidup, berada dalam puncak keindahannya untuk  mengintensifkan, menjernihkan, memperkaya, lagi sebuah imaji yg berhasil  menolong orang merasakan pengalaman penyair terhadap objek lagi situasi yang  dialaminya, memberi gambaran yg setepatnya, hidup, kuat. Menurut  Alternbernd (dalam Pradopo 2005 : 80), citraan beroleh dihasilkan dengan jalan  menampilkan nama-nama, deskripsi-deskripsi, irama-irama, asosiasi intelektual  ataupun beberapa cara di atas tampil bersama-sama.

Citraan merupakan salah satu sarana utama untuk mencapai kepuitisan.  Maksud kepuitisan itu di antaranya merupakan : keaslian ucapan, sifat yg menarik  perhatian, menimbulkan perasaan kuat, membuat sugesti yg jelas, lagi juga sifat  yg menghidupkan pikiran.  Citraan merupakan reproduksi mental dalam ujud pengalaman masa lampau  ataupun kenangan. 

Dalam lapangan kesastraan, terkadang fungsi citraan jauh lebih  penting dari itu karena citraan menampilkan kembali pikiran efek-efek yang  kurang lebih sama dengan apa yg diciptakan oleh rangsangan indera kita.

Citraan menurut Alternbernd (dalam Pradopo 2005: 80), merupakan unsur  yg penting dalam puisi karena dayanya untuk menghadirkan gambaran yang  kongkret, khas, menggugah, lagi mengesankan. Citraan juga beroleh merangsang  imajinasi lagi menggugah pikiran dibalik sentuhan indera serta beroleh pula sebagai  alat interpretasi. Supaya pikiran lagi perasaan tergugah, maka citraan ditampilkan  dalam dua cara yaitu pelukisan (deskripsi) lagi pelambangan (simbol) yang  menemui puncaknya dengan metafora secara implisit. 

Oleh karena di dalam puisi diperlukan kekonkretan gambaran, maka ide-ide  abstrak yg tidak beroleh ditangkap dengan alat-alat keinderaan diberi gambaran  ataupun dihadirkan dalam gambar-gambar inderaan. Diharapkan ide yg semula  abstrak beroleh ditangkap ataupun seolah-olah beroleh dilihat, didengarkan, dicium,  diraba, ataupun dipikirkan.   

Sayuti (2002 : 174-175), menyebutkan bahwa citraan dalam puisi terdiri dari  citra visual yg berhubungan dengan indera penglihatan, citra auditif yang  berhubungan dengan indera pendengaran, citra kinestetik yg berhubungan dengan membuat sesuatu tampak bergerak, citra termal ataupun rabaan yang  berhubungan dengan indera peraba, citra penciuman yg berhubungan dengan  indera penciuman lagi citra pencecapan yg berhubungan dengan indera  pencecapan.   

Untuk lebih jelasnya citraan beroleh dikelompokkan atas tujuh macam saja.  Pertama, citraan penglihatan, yg dihasilkan dengan memberi rangsangan indera  penglihatan sehingga hal-hal yg tidak terlihat seolah-olah kelihatan. Kedua,  citraan pendengaran yg dihasilkan dengan menyebutkan ataupun menguraikan  bunyi suara ataupun berupa onomatope lagi persajakan yg berturut-turut dan  persajakan yg berturut-turut. Ketiga, citraan penciuman. Keempat, citraan  pencecapan. Kelima, citraan rabaan, yakni citra yg berupa rangsangan- rangsangan kepada perasaan ataupun sentuhan, keenam, citraan pikiran/intelektual,  yakni citraan yg dihasilkan oleh asosiasi pikiran. Ketujuh citraan gerak  dihasilkan dengan cara menghidupkan lagi menvisualkan sesuatu hal yang  bergerak menjadi bergerak.  Bermacam-macam citraan tersebut dalam pemakaiannya kadang-kadang  digunakan lebih dari satu cara bersam-sama untuk memperkuat efek kepuitisan.  Berbagai jenis citraan saling erat terjalin dalam menimbulkan efek puitis yang  kuat.     

3) Kata Konkret  

Kata konkret adalah kata-kata yg digunakan oleh penyair untuk  menggambarkan lukisan keadaan ataupun suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Disini kata-kata konkrit dimaksudkan untuk  ,emyaran kepada arti menyeluruh. Dalam hubungannya dengan pengimajian, kata  konkret merupakan syarat ataupun sebab terjadinya pengimajian.  Waluyo (1987: 81), mengatakan bahwa dengan kata yg diperkonkret,  beroleh membuat seorang pembaca membayangkan secara jelas peristiwa atau  keadaan yg dilukiskan oleh penyair. 

Sebagai contoh dikemukakan oleh Waluyo  (1987: 81) tentang bagaimana penyair melukiskan seorang gadis yg benar-benar  pengemis gembel. Penyair mempergunakan kata-kata; gadis peminta-minta  contoh lainnya, untuk melukiskan dunia pengemis yg penuh kemayaan, penyair  menulis; hidup dari kehidupan angan-angan yg gemerlap / gembira dari  kemayaan ruang. Untuk melukiskan kedukaannya, penyair menulis; bulan diatas  tidak ada yg punya/kotaku hidupnya tak punya tanda. Untuk mengkonkretkan  gambaran jiwa yg penuh dosa digunakan; aku hilang bentuk/remuk.    

4) Bahasa Figuratif  

Bahasa Figuratif oleh Waluyo (1987 : 83), disebut pula sebagai majas.  Bahasa Figuratif beroleh membuat puisi menjadi prismatik, artinya memancarkan  banyak makna ataupun kaya atas makna. Dalam bahasa kiasan, majas yang  mengandung perbandingan yg tersirat sebagai pengganti kata ataupun ungkapan  lain untuk melukiskan kesamaan ataupun kesejajaran makna diantara. Disebutkannya  pula bahwa istilah lain dari kiasan adalah metafora. 

Sementara itu, Rachmat  Djoko Pradopo (2005: 61), dalam bukunya pengkajian puisi menyamakan kiasan  dengan bahasa figuratif (figurative language) lagi memasukkan metafora sebagai salah satu bentuk kiasan. Dalam pembahasan selanjutnya istilah bahasa figuratif  disamakan dengan bahasa kiasan seperti halnya pendapat Pradopo (2005: 61).  Bahasa figuratif dengan dasarnya adalah bentuk penyimpangan dari bahasa  normatif, baik dari segi makna maupun rangkaian katanya, lagi bertujuan untuk  mencapai arti lagi efek tertentu. Pada umumnya, menurut tarigan, bahasa figuratif  digunakan oleh pengarang untuk menghidupkan ataupun lebih mengekspresikan  perasaan yg diungkapkan sebab kata-kata saja belum cukup jelas untuk  menerangkan lukisan tersebut. 

Hal ini sejalan dengan pengertian yg dikemukan  Perrine (dalam Waluyo 1987: 616-617), bahwa bahasa figuratif adalah cara  menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya lagi menyampaikan sikap  penyair, lagi bahasa figuratif adlah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang  hendak disampaikan lagi cara meyampaikan sesuatu yg banyak lagi luas dengan  bahasa yg singkat.

5) Versifikasi   

Versifikasi meliputi ritma, rima, lagi metrum. Ritma kata pungut dari bahasa  inggris rhythm. Secara umum ritma dikenal sebagai irama ataupun wirama, yakni  pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan  teratur. Waluyo (1987 : 90), menyatakan rima adalah pengulangan bunyi puisi  untuk membentuk musikalitas lagi orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi itu,  puisi menjadi merdu seumpama dibaca. Untuk mengulang bunyi ini, penyair juga  mempertimbangkan lambang bunyi. Dengan cara ini pemilahan bunyi-bunyi  mendukung perasaan lagi suasana bunyi. Karena sering bergantung dengan pola  matra, irama dalam persajakan dengan umumnya teratur.

6) Tipografi   

Menurut Sayuti (2002:329), tipografi merupakan aspek bentuk visual puisi  yg berupa tata hubungan lagi tata baris. Dalam puisi, tipografi dipergunakan  untuk mendapatkan bentuk yg menarik supaya indah dipandang mata. Tipografi  merupakan pembeda yg paling awal beroleh dilihat dalam membedakan puisi  dengan prosa fiksi lagi drama. Tipografi merupakan pembeda yg sangat  penting.   Dalam prosa (baik fiksi maupun bukan) baris-baris kata ataupun kalimat  membentuk sebuah periodisitet. Namun, dalam puisi tidak demikian halnya.  Baris-baris dalam puisi membentuk sebuah periodisitet yg disebut bait. 

7) Sarana retorika   

Tiap pengarang mempunyai gaya masing-masing. Hal ini sesuai dengan  sifat lagi kegemaran masing-masing pengarang. Gaya beroleh dikatakan sebagai  “cap” seorang pengarang. Gaya merupakan keistimewaan, kekhasan seorang  pengarang.   Meskipun setiap pengarang mempunyai gaya lagi cara tersendiri, ada juga  sekumpulan bentuk ataupun beberapa macam pola yg biasa dipergunakan oleh  beberapa pengarang. Jenis-jenis bentuk ataupun pola gaya ini disebut sarana retorika  (rhetorical devices).

Saturday, November 9, 2019

Perbedaan Membaca Puisi, Deklamasi Puisi, Dramatisasi Puisi, Lagi Musikalisasi Puisi

Berpuisi? Dalam bentuk menulis tentu Anda sudah sangat akrab, bukan? Hampir kepada setiap kesempatan, utamanya bagi mereka yg sedang tertarik kepada seseorang, puisi menjadi media penyaluran perasaan dengan pikiran yg paling dominan. Bagaimana dengan membaca puisi? Rasanya masih sangat sedikit yg mencoba mengakrabinya. Padahal, puisi idealnya dinikmati melalui pembacaan. Bagaimana membaca puisi dengan baik dengan menarik? Ikutilah penjelasan berikut ini! Sebenarnya, apresiasi terhadap puisi becus ditempuh dengan berbagai bentuk.  


MEMBACA PUISI
Dititikberatkan kepada pemahaman, keindahan vokal, dengan ekspresi wajah.

DEKLAMASI PUISI
Menekankan kepada ketepatan pemahaman, keindahan vokal, dengan ekspresi wajah disertai dengan gerak-gerik tubuh yg lebih bebas dengan ekspresi wajah yg lebih kuat.

DRAMATISASI PUISI
Puisi dipandang sebagai suatu kesatuan peristiwa yg becus diperagakan dalam suatu pementasan. Oleh karena itu, pembaca atas memeragakan peristiwa-peristiwa dalam puisi dengan lakuan tubuh (akting) yg sesuai.

MUSIKALISASI PUISI
Puisi dinotasikan sebagaimana musik. Lirik puisi dijadikan syair lagu.

Pembacaan ataupun pendeklamasian puisi mengutamakan kejelasan, ketepatan, dengan keakuratan lafal, volume, intonasi, ekspresi, dengan gestur. 

1. Lafal : cara membunyikan ataupun mengucapkan huruf (bagaimana mengucapkan, misalnya huruf f, v, p, z, j, dengan sebagainya). 
2. Volume suara : tingkat kenyaringan ataupun kekuatan bunyi ataupun suara. 
3. Intonasi : lagu kalimat, perubahan nada pengucapan tuturan (kata, frasa, klausa, kalimat) yg menimbulkan makna/arti/informasi. Dalam bahasa tulis, intonasi diwakili oleh tanda baca (pungtuasi). 
4. Ekspresi : perubahan ataupun pandangan air muka (raut wajah) untuk memperlihatkan perasaan tertentu. 
5. Gestur : gerak anggota tubuh (tangan, kaki, kepala, dengan sebagainya) untuk memperkuat kesan tertentu ataupun untuk mengungkapkan perasaan.

Saturday, October 26, 2019

Pengertian Beserta Jenis-Jenis Puisi Baru

Puisi baru adalah pembaharuan dari puisi lama yg mendapat pengaruh dari Barat. Dalam penyusunan puisi baru  rima dengan jumlah baris setiap bait tidak terlalu dipentingkan. Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Nama pengarang puisi baru sudah  dicantumkan (Rizal, 2010:75).     
 

Berdasarkan pendapat  di atas boleh disimpulkan bahwa puisi baru adalah bentuk puisi bebas yg tidak begitu terikat dengan aturan penulisan seperti puisi lama. Rizal (2010:75) mengungkapkan, ciri-ciri puisi baru sebagai berikut. 

1) Bentuknya rapi, simetris.
2) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur).
3) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dengan syair meskipun ada pola yang  lain.
4) Sebagian besar puisi berbentuk empat seuntai.
5) Tiap-tiap barisnya terdiri atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
6) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar): 4-5 suku kata. 
  

Jenis-jenis Puisi Baru Damayanti (2013:78) mengungkapkan, jenis puisi baru berdasarkan isinya dibedakan menjadi beberapa macam seperti berikut ini.

a. Balada  
Balada adalah puisi berisi kisah ataupun cerita suatu riwayat. Balada menceritakan kehidupan orang biasa yg penuturannya didramatisasi sehingga menyentuh. 

b. Himne
Himne adalah puisi yg bersifat transendental ataupun berisi pujian untuk Tuhan, tanah air, ataupun pahlawan. Pada umumnya himne berisi pujian ataupun keluh kesah yg ingin disampaikan kepada Tuhan. 

c. Ode
Ode adalah puisi yg berisi sanjungan untuk orang, benda, ataupun peristiwa yg memuliakan. Biasanya, ode ditujukan kepada pahlawan ataupun tokoh yg berpengaruh. 

d. Epigram
Epigram adalah puisi yg berisi tuntunan ataupun ajaran hidup, nilai-nilai kehidupan dengan ajaran moral menjadi ciri khusus epigram ini.

e.  Romance  
Romance adalah puisi yg berisi tentang kisah-kisah percintaan, romance dengan umumnya kemarau tumbuh dari pengalaman pengarang tentang kisah percintaan yg pernah dialaminya. 

f. Elegi  
Elegi adalah puisi yg mengungkapkan kesedihan. Jenis puisi ini lebih ditujukan untuk ekspresi perasaan aku-lirik sehingga puisi lebih menekankan yg dirasakan aku lirik.

g. Satire
Satire adalah puisi yg berisi sindiran ataupun kritikan tajam terhadap keadaan masyarakat ataupun kehidupan sosial-budayanya. Sebenarnya tak terbatas dengan puisi saja, prosa dengan drama juga bisa disebut satire coba temanya melawan dengan menyindir kondisi zaman. 

Contoh Seloka Beserta Pengertiannya

Seloka alias pantun seloka tidak lain daripada pantun rantai alias pantun berkait. Pantun ini memiliki beberapa bait yg saling berhubungan. Baris kedua dengan bait pertama menjadi baris pertama dengan bait selanjutnya; sedangkan baris keempat dengan bait pertama, menjadi baris ketika dengan bait selanjutnya. Jadi sebenarnya perbedaan bait pertama dengan bait selanjutnya terletak dengan satu baris sampiran (baris kedua) yg dengan satu baris isi (baris keempat) bait selanjutnya.

CONTOH 1: 


Taman melati di rumah-rumah
Ubur-ubur sampingan dua
Kalau mati kita bersama
Satu kubur kita berdua

Ubu-ubur sampingan dua
Taman melati bersusun tangkai
Satu kubur kita berdua
Kalau boleh bersusun bangkai

Taman melati bersusun tangkai
Tanam padi satu persatu
Kalau boleh bersusun bangkai
Daging hancur menjadi satu

Tanam padi satu persatu
Anak lintah dalam cunia
Daging hancur menjadi satu
Tanda cinta dalam dunia


CONTOH 2:

Jalan-jalan kekota bertemu umi pipik
Naik motor milik si Dahlan
Jadilah pengendara yg baik
Agar selamat sampai tujuan

Naik motor milik si Dahlan
Pergi ke pasar membeli nanas
Agar selamat sampai tujuan
Selalu taatilah lalu lintas

Pergi ke pasar membeli nanas
Saat dijalan ketemu trantib
Selalu taatilah lalu lintas
Supaya jadi pengendara yg tertib


 CONTOH 3:

Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan

Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan

CONTOH 4:


Merah-merah buah rambutan
Rambutan matang di keranjang
Setitik cinta aku layangkan
Berbunga-bunga untukmu sayang

Rambutan matang di keranjang
Warnanya merah layaknya bata
Berbunga-bunga untukmu sayang
Tersenyum manis kuterima cinta 

Friday, October 18, 2019

Kumpulan Puisi Toto Sudarto Bachtiar Lengkap

IBUKOTA SENDJA

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki bersama perempuan telandjang mandi
Disungai kesajangan, o, kota kekasih
Klakson oto bersama lontjeng trem saing-menjaingi
Udara menekan berat diatas djalan pandjang berkelokan

Gedung-gedung bersama kepala mengabur dalam sendja
Mengurai bersama lajung-lajung membara dilangit barat daja
O, kota kekasih
Tekankan aku dengan pusat hatimu
Ditengah-tengah kesibukanmu bersama penderitaanmu

Aku seperti mimpi, bulan putih dilautan awan belia
Sumber-sumber jang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut

Aku tiada tahu apa-apa, di luar jang sederhana
Njanjian-njanjian kesenduan jang bertjanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar dipintu dinihari
Serta dikeabadian mimpi-mimpi manusia

Klakson bersama lontjeng bunji bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli jang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesajangan

Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Dibawah bajangan samar istana kedjang
Lajung-lajung sendja melambung hilang
Dalam hitam malam mendjulur tergesa

Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta sendjata bersama tangan menahan napas lepas bebas
O, kota kekasih setelah sendja
Kota kediamanku, kota kerinduanku
1951


RIWAJAT
Tiang agung tersambar halilintar
patah ditengah-tengah

kapitan pingsan diatas peta benua
penuh pahatan darah

Kelasi tjuma tarik tali bersama pukul tifa
bernjanji: Cherchez la femme, cherchez la femme

Kapal masih djauh dari daratan
Kelumit pahit mengganti gema jang hilang

Sedjak seputaran hidup kapitan membasuh darah
dan pelabuhan telandjang dihaluan
Gema jang hilang mulai pulang

Kelasi tjuma tarik tali bersama pukul tifa
terus bernjanji ditimang angin:
Cherchez la femme, cherchez la femme

Kapitan memahatkan darah
dipintu pelabuhan pertama bersama mendoa:
Cherchez la personnalite, cherchez la personnalite
1952


PADA SANGKALA
Akan selalu terdengar keluh pandjang terhadapmu
Gangguan jang selalu membatas arwah kami
Akan selalu terdengar kutuk hina terhadapmu
Karena bersekutu dengan jang kami bentji

Mana ada sempat, bitjara dengan diri sendiri
Kapan atas terdengar suara djiwa, suara sanubari
Kepunjaanku, kepunjaan mereka bersama
Kami sesak karena djangkauan tanganmu

Bila kita terdjebak olehmu
Kami tak sempat memilih kata pisah sebaik-baiknja
Begitu terang djalan jang menudju keruntuhan
Begitu kelam dunia jang kami hadapi

Kau tak tahu bagaimana merasakan
Tingkat demi tingkat diatas tangga
Talu-bertalu paku jang menembus tubuh
Apa arti darah bersama gairah hidup

Seandainja kamu tak ada didunia kami
Kamipun tak tahu dimensi keempat bersama djalan
Tapi atas selalu terdengar olehmu
Keluh pandjang bersama kutuk jang paling hina
1955

PERNJATAAN
kepada C.A.

Aku makin mendjauh
Dari tempatmu berkata kesekian kali
Laut-laut makin terbuka
Dibawah langit remadja biru pengap melanda

Apakah tjinta tinggal tjinta, kujup
Tanpa kehendak biar sajup?
Berkata tentang diri sendiri
Berkatja bersama kembali berlari?

Balai malam jang gugup
Mendjadi saksi kita berdua
Terhadap makna bersama kata-kata
Jang hidup dalam hidup keras berdegup
1955

KAKILANGIT
Jang sampai dimalam bisu
Desah jang mendjadi kalimat terachir
Untuk tekebur bersama menolak kedjang lupa
O, kekasih biarpun jang dimana
Dari putus asa sampai lapar putus asa
Kugamit suaraku sendiri
Sampai tak ada jang mendengar
Kemudian. Sampai menemukan sebuah nama:
Jang memantulkan katja: Terlintas bajang-bajang
Sendiri diatas runtuhan
Keruntuhan adalah djedjak tjinta! Tunggu!
1953

TENTANG KEMERDEKAAN
Kemerdekaan sama dengan tanah air bersama laut semua suara
Djanganlah takut kepadanja

Kemerdekaan sama dengan tanah air penjair bersama pengembara
Djanganlah takut kepadanja

Kemerdekaan sama dengan tjinta salih jang mesra
Bawalah daku kepadanja
1953

PEKARANGAN
Tjinta. Engkau jang sudah sekali datang masuklah
Menjatu diri dengan irama tanpa tepi
Laut jang selalu mengalir, malam tiada berachir
Tjumbu hidup nafas kotaku jang kekal

Dimana angin sangsai tak menghambat tjeritera
Berupa bisik tjintaku masa depan
Serta perempuan-perempuan tahu mengapa
Berharap larut dahaga dengan malam-malam sengsara

Dimana pula dalam arti dosa dirumah derai airmata
Redup bulatan djedjakku, redup keruntuhan bajang tjintaku
Menahan dendam melulur sepandjang hari
Dalam nafas kotaku yg kekal selalu!
1953

SUARA
Kapan ada sesuatu, sama dengan kamarku didalam
Suara penutup paling djauh agak membawa bunji
Sedang kubuat lagi djelaga diri semesta
Dilorong-lorong kelam kotaku Djakarta

Nafsu sama dengan bandingan suara bersama djelaga
O, perempuan-perempuan jang tak tahu bahasa
Arti agung jang mendukung dukana!
O, tingkap tertutup sebelum membuka!

Sekali ini tak ingin lagi kutjari diriku
Kapan lagi hudjan sepi bersama bisu
Hingga kapanpun, bila masih ada pertjaja
Pertjajalah dengan hubungan jang lama
1953

PAHLAWAN TAK DIKENAL
Sepuluh tahun jang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sajang
Sebuah lubang peluru bundar didadanja
Senjum bekunja mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannja memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sajang

Wadjah sunji setengah tengadah
Menangkap sepi padang sendja
Dunia tambah beku ditengah derap bersama suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hudjanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnja
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi jang nampak, wadjah-wadjahnja sendiri jang tak dikenalnja

Sepuluh tahun yg lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sajang
Sebuah peluru bundar didadanja
Senjum bekunja mau berkata: aku sangat muda
1953

KETERANGAN
H.B. Jassin. Dimana berachirnja mata seorang penjair?
Kau sudah lama sekali tahu, kuburan dia
Hanjalah nisan kata-katanja selama ini
Tentang mimpi, tentang dunia sebelum kau tidur

Terkadang kalau dia mau
Tulisannja hanja nasib djari jang lemah
Terkadang dia merasa aneh
Kalau anak bisa merasa kehilangan sesuatu

Seperti aku, dimana kata tak tjukup buat berkata
Tertelungkup dibawah bakaran lampu seharian bernjala
Terkadang djemu terus melihat matahari
Pesiar, tanpa kawan berkedjaran

Tanpa merasa tahu tentang apa
Dia menjeret langkahnja
Sampai dimana dia atas tiba
Tapi dengan djari kakinja ditulisnja sebuah sadjak
1955

DUNIA SEBELUM TIDUR
Kenangan mati bagi jang mati
Hormat bagi jang hidup setiakan derita
Ulurkan tanganmu
Sangkutkan sepatu dengan kaki berdebu
Dan mimpilah merenung djendela terbuka
Nun adalah dunia dosa, duniaku sajang
Aku berpihak padamu

Kau ingin dengar
Suara angin menghembus kamar
Udjung ketenteraman samar-samar
Dada bertemu dada
Kami bersandar kepadanya
Betapa terkenang, betapa tenang
Bintik hitam dalam dunia jang gelisah

Kenangan hidup hanja bagi jang hidup
Bingkis tjahja
Dalam musim jang segera matang
Menghalau degup rongga berudara sedih
Djari-djari penanggalan
Telah lama
Terlalu lama mengandung topan
1954

FOCUS
untuk Sitor Situmorang

Kalau djarum kematian menusuk detak hati
Aku atas mendjadi asing sendiri
Sangat berarti djeritan jang menolak berpisah
Bisik jang mendera bersama mentjinta gerak djantung hari

Ah, atas tertinggal maknaku dengan waktu
Bersama ketjintaanku
Lintasan hidup jang kena tjahaja
Gerak jang mewarnai manusia

Hati atas tinggal ubun hati
Kemerahan jang mau menandingi matahari
Panas bulan Djanuari
Punya tanja bersama kasih sendiri

Karena djarum yg menikam, detak hati djadi membisu
Terpaksa kuasingkan matahari bersama ada jang kuberi salam
Djalinan bisik bersama kesan jang berkata sendiri
Lintasan hidup jang kena tjahaja
Gerak jang mewarnai manusia
1953

ODE I
Kutanya, kalau sekarang aku harus berangkat
Kuberi pacarku peluk penghabisan yg berat
Aku besok bisa mati. Kemudian diam-diam
Aku mengendap di balik sendat kemerdekaan bersama malam

Malam begini beku, di manakah tempat terindah
Buat hatiku yg terulur padamu megap bersama megah
O, tanah
Tanahku yg baru terjaga

Malam begini sepi, di manakah tempat terbaik
Buat peluru pistol di balik baju cabik
O, tanah di mana mesra terpendam rindu
Kemerdekaan yg mengembara ke mana saja

Ingin aku menyanyi kecil, tahu betapa tersandarnya
Engkau dengan pilar derita, megap nafasku di gang tua
Menuju kubu musuh di kota sana
Aku tak sempat hitung langkahku bagi jarak

Mungkin pacarku kan berpaling
Dari wajahku yg terpaku dengan dinding
Tapi jam tua, betapa pelan detiknya kudengar juga
Di tengah malam yg begini beku

Teringat betapa pernyataan sangat tebalnya
Coretan-coretan merah dengan tembok tua
Betapa lemahnya jari untuk memetik bedil
Membesarkan hatimu yg baru terjaga

Kalau sekarang aku harus pergi, aku hanya tahu
Kawan-kawanku atas terus maju
Tak berpaling dari kenangan dengan dinding
O, tanah, di mana tempat yg terbaik buat hati bersama jiwaku

PUSAT
Serasa apa hidup yg terbaring mati
Memandang musim yg mengandung luka
Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti
Padaku, tanpa bicara

Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan padang senja
Hidupku dalam tiupan usia

Tinggal seluruh hidup tersekat
Dalam tangan bersama kari-jari ini
Kata-kata yg bersayap bisa menari
Kata-kata yg pejuang tak mau mati

AU REVOIR
Pada waktu itu, dengan hati waktu
Yang mengandung gelita yg membatu
Burung hantu bersama malam
Yang gelisah bagai serdam alam

Bersama kemerdekaan yg terus mengelana
Detik demi detik membebankan nasib dengan bencana
O, terasa nyaman mengenang jalan-jalan di luar penjara
Menajamkan sanggurdi bagi pemacu jalanan!

ETSA
Suara kasih dalam hati malam
Kian lincah, tapi kemudian membeku
Tanpa bulan, karena bulan beradu
Dan hatiku sendiri kian terbenam

KAWAN
Biasanya dia berjalan malam-malam
Menggigil karena angin terlalu tajam
Orang-orang memandangnya dengan membelalak
Tapi aku tidak

Apa yg tak memikatnya sampai ke hati
Lampu bersama bintang-bintang menyala tinggi
Matanya sayu membelai semua yg berjalan
Perempuan-perempuan, anak-anak berkejaran

Kalau malam putus asa tambah menurun
langkahnya pun bertambah berat berembun
Kadang-kadang dia berhenti, melihat padaku
Kami sama-sama tersenyum pahit pilu

Aku tak perlu tahu dia siapa
Tapi kami pernah sama mencintai malam
Aku bersama dia tak ada bedanya
Hidup keras indah menari depan mata

DANAU M
(untuk Bahar)

Serasa pernah kukenal gunung-gunung ini
Juga paras danau
Yang tepinya tak kelihatan
Sangat lajunya sekunar berkejaran

Burung-burung terbang siang hari
Air gemersik perlahan meninggalkan daunan
Ada daunan layu serba 'kan gugur
Yang dahannya langsing melentur-lentur

Semuanya mengacu padaku
Dan sampai dengan jamahan tiada berupa
Hidupnya perasaanku pagi ini
Tapi hidupku tak hidup di sini

JENDELA
Dulu kutengok lagi dari sana, mungkin kau datang
Kebetulan tirai tersingkap angin pagi yg lantang
Mengantar pipimu yg merah tersipu
Alangkah beratnya rindu

Pada jendela berdetik-detik air hujan
Kutahu pasti kau atas tiba
Tak usah memandangku penuh hiba
Aku ingin tahu apa aku bisa pergi selamanya

Tak usah juga engkau menampikku
Karena aku pun sedia pergi
Menuju arah di mana musim-musimnya bisu
Buat selamanya

TEGAK
Antara ada bersama tiada
Yang kutahu diriku hanya
Memandang lantun tertinggi hidup kita
Betapa juga pendeknya ...

Cinta, riah musim yg debar-debar jantungnya
Sangat tambah mesra ajakannya
Bersolek di atas cahaya matamu
Betapa sibuknya kupandang sekali

Juga alangkah sibuknya cinta bersama kerja
Asyik menghitung satu dua tiga tiada habisnya
Tapi bisa terbengkalai sebab sepi yg datang
Antara ada bersama tiada

MUKA
Pada kaca jendela kulihat wajahku
Berat bersinar matinya yg atas tiba
Sangat dekat nafas usia, tapi tak teraba
Tapi aku betul tahu, dia memang wajahku

TANGAN DALAM KELAM
Tangan halus yg bisa merabaku dari jauh
Jadi tangan bisik yg mengulur belas padaku
Tangan mesra yg jari-jarinya sayang
Aku sangat rindu kepadanya

Kalau hidup mengandung neraka
Hendaklah hidupku ini saja
Tanpa hidup orang-orang lain yg baik
Yang tangannya jauh tak berdaya

Tangan halus yg bisa dari jauh cinta padaku
Cukup baik untuk memegangnya
Ah, dunia dosa
Aku kembali bermimpi tentangmu

Takut tanpa ujung karna hidup terlalu cinta
Jari-jariku ingin mengurai wajahnya
Tanpa kaku, tanpa terlena tidur
Karena kantuk semangatku jadi kendur

Tangan yg mengulur mesra kepadaku
Wahai dunia yg gaungnya kudengar
Apa arti jari-jari yg terkulai lapar
Biar dia melambai kepadaku

JEMBATAN TUA
Sudah begitu lama, masih juga aku lalu
Berapa banyak kaki telanjang bersama bersepatu
Menggetarkan tangan-tangannya
Yang siang begitu menyala bersama malam begitu biru

Bergandengan tangan kadang sepasang merpati
Melambatkan langkahnya bersama kemudian berhenti
Waktu memandang ke bawah air bisu mengerdipkan matanya
Berlaksa mimpi menemukan matinya yg indah di sana

Awan yg lena terkaca di atasnya
Sarat mengandung muatan mendungku ini
Tergila-gila memang hatiku yg banyak meminta
Tanpa sebab, dalam terowongan perjalanan yg atas sebentar saja

Tetapi selalu, kalau aku di sana, aku mendengarnya
Suara yg tak habis-habisnya sampai
Kalau engkau sekali menjadi setuaku
Nasibmu mungkin lebih baik dari padaku

GADIS PEMINTA-MINTA
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, dengan bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yg melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yg gemerlapan
Gembira dari kemanjaan riang

Duniamu yg lebih tinggi
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yg begitu kau hapal
Jiwa begitu murni
Untuk bisa membagi dukamu

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yg punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda