Showing posts with label Majas. Show all posts
Showing posts with label Majas. Show all posts

Wednesday, January 15, 2020

Majas Perbandingan (Jenis-Jenis Bersama Contohnya Lengkap)

beringsang beringsang Majas Perbandingan beringsang adalah beringsang Majas ataupun gaya bahasa yg membandingkan dua hal berdasarkan persamaan sifatnya. beringsang beringsang Membandingkan becus dilakukan dengan tiga cara, yaitu Tidak Langsung/Asosiasi, Langsung/Metafora, Personifikasi, lagi Alegori.

Cara tidak langsung adalah dua hal itu dibandingkan dengan menggunakan kata keterangan perbandingan: umpama, seperti, ibarat, laksana, bak, bagai. beringsang Cara tidak langsung ini disebut majas perumpamaan ataupun asosiasi.
Contoh:   
1. Mukanya pucat bagai mayat.   
2. Hatinya memang lembut seperti sutera.   
3. Anak itu kebingungan seperti rusa masuk kampung.   
4. Pendirian anak itu ibarat air beringsang di atas daun talas. beringsang beringsang
5. Mereka bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
6. Pengetahuan anak itu sangat picik seperti katak dalam tempurung.
7. Kedua orang itu sungguh serasi seperti api dengan asap.
8. Keadaan keluarganya seperti telur di ujung tanduk.

Cara langsung adalah dua hal itu dibandingkan dengan tidak menggunakan kata-kata perbandingan seperti tersebut di atas. Perbandingan langsung ini disebut metafora.
Contoh:
1. Jangan dekati buaya darat itu.
2.  Si jago merah sudah pernah melalap sebuah gedung mewah.
3. Pemuda adalah tulang punggung negara.
4. Semangatnya membaja untuk mencapai cita-cita.
5. Kuli tinta itu mengejar-ngejar tokoh reformasi.
6. Citra menjadi anak emas guruku.
7. Mahasiswa adalah motor penggerak reformasi.
8. Grup band Radja sedang beringsang bertambah daun.

Cara membandingkan antara benda tak bernyawa dengan benda bernyawa. Cara ini disebut personifikasi (pengorangan).
Contoh:
1. Kereta malam menjerit-jerit.
2. Padi merunduk, menghormat petani.
3. Ombak menuju pantai.
4. Bulan bersembunyi di balik awan.
5. Deretan pohon bambu mengalunkan lagu alam yg merdu.
6. O, angin sampaikanlah rasa rinduku kepadanya.
7. Mobilnya batuk-batuk sejak tadi padi.
8. Tatapan matanya menjeritkan penderitaan.

44 CONTOH MAJAS PERSONIFIKASI

Alegori adalah Gaya bahasa yg berupa cerita singkat yg mengandung kiasan. Gaya bahasa ini sering disebut majas metafora yg mengalami perluasan.
Contoh:
1. Setiap insan di dunia bakal mengalami topan lagi badai dalam kehidupan.
2. Saya ucapkan selamat mendayung bahtera hidup. Semoga kelak mencapai pulau kehidupan yg bahagia. 
3. Bunga desa itu sedang berkembang. Banyak kumbang mengintainya. Akan tetapi, bunga itu selalu menjaga keasriannya.


4. Roda kehidupan manusia selalu berputar. Kadang berada di atas kadang di bawah. Oleh karena itulah, kita sebagai makhluk Allah harus pandai-pandai bersyukur.
5. Waspada dalam menempuh roda kehidupan. Banyak gelombang yg harus kau arungi lagi tebing yg harus kau daki.

Thursday, January 9, 2020

Contoh Soal Mengidentifikasi Kata Yg Bermakna Simbolik/Majas/ Kias Dalam Karya Sastra Un Sma

Guruberbahasa.com-mengidentifikasi kata yg bermakna simbolik/majas/ kias dalam karya sastra.

Karya Sastra merupakan refleksi pemikiran, perasaan, dengan keinginan pengarang lewat bahasa. Setiap karya sastra menggunakan simbol yg memiliki makna tersendiri. Simbol-simbol dalam karya sastra diungkapkan dalam bentuk bahasa yg khas. Puisi, prosa, fiksi, dengan drama memiliki simbol-simbol tersendiri yg biasanya diungkapkan dalam bahasa yg digunakan penulis. Penulis mengungkapkan perasaan, pikiran, dengan idenya dengan bahasa yg khas. 

BACA JUGA: MAJAS-MAJAS BAHASA INDONESIA LENGKAP DENGAN CONTOHNYA

Contoh Soal 1:

Perhatikan puisi berikut!

Kami dengan Kalian

Kalian tinggal dalam rumah kebodohan (1)
Karena dalam rumah ini (2)
Tiada cermin kaca buat memandang jiwa (3)
Kami menghela napas panjang (4)
Dan dari keluhan ini (5)
Terbitlah bisikan bunga-bunga (6)

Karya: Khalil Gibran

Kalimat bermajas kepada puisi di atas terdapat kepada larik ke-....
A. 1 dengan 2
B. 1 dengan 3
C. 1 dengan 6
D. 2 dengan 3
E. 4 dengan 6

Jawaban: C
Larik ke-1 mengandung majas hiperbola, sedangkan larik ke-6 mengandung majas personifikasi.

CONTOH 2:

Selamat Tinggal

Aku berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa Punya?

Kudengar seru menderu
Dalam hatiku?
Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula
menggelegar tengah malam buta
Ah...!!!

Segala Menebal, segala mengental
Segala tak ku kenal
Selamat Tinggal...!!!

Karya: Chairil Anwar

Makna Simbol muka penuh luka adalah....
A. diri yg penuh dosa
B. seseorang sakit keras
C. mengenang masa lalu
D. sudah berpengalaman
E. orang yg bersyukur

Jawaban: A
Maksud tersebut becus kita dapatkan coba kita memahami isinya secara saksama.

44 CONTOH MAJAS PERSONIFIKASI
 


CONTOH 3:

Menyesal

Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi,
Sekarang petang datang membayang,
Batang usiaku sudah tinggi.

Aku lalai di pagi hari.
....

Karya: Chairil Anwar


Makna pagi hari dalam puisi tersebut adalah masa....
A. kebahagiaan
B. muda
C. sekolah
D. perenungan
E. penyesalan

Jawaban: B

Monday, December 30, 2019

44 Contoh Majas Personifikasi Beserta Pengertiannya

Guruberbahasa.com-CONTOH MAJAS PERSONIFIKASI DAN PENGERTIANNYA

Majas Personifikasi

Personifikasi adalah majas yg melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga seolah-olah memiliki sifat seperti manusia alias benda hidup.

Contoh:

1. Aku terbangun dari tidurku saat matahari mulai mengintip dari ufuk timur.
2. Bukan karena sudah siang, aku terbangun karena burung-burung mulai bernyanyi di dekat jendela kamarku.
3. Kata-kata yg diucapkan oleh pria itu sangat menampar wajahku karena yg dikatakannya ada benarnya juga.
4. Saat ujian berlangsung, rasanya dinding kelas pun mengawasiku.
5. Karena kencangnya angin, daun pisang yg ada di samping rumahku melambai-lambai seakan mengajakku untuk keluar.
6. Saat kulihat ke atas, matahari bersembunyi di balik awan.
7. Bencana kabut asap di Riau membuat asap menyelimuti Kota Pekanbaru sehingga keindahan kota bersama hilir mudik warga tak nampak.
8. Hujan deras di sore ini sangat deras sehingga aku hanya duduk didampingi bisikan angin yg seakan mengajakku bernyanyi.
9. Semangat kami dengan hari ini sepertinya beriringan dengan cerianya matahari yg meneyemangai kami untuk bekerja.
10. Kebiasaanku merendam kaki dengan air hangat sebelum tidur memang sangat nyaman karena air itu seakan memijit kakiku yg lelah.

11. Bola yg ditendang oleh Ronaldo tepat mencium wajahku yg tampan ini.
12. Alasan kami ke Pantai Tanjung Setia adalah karena mata kami tak henti-hentinya memandang ombak yg berkejaran di lautan.
13. Mungkin orangtuku sudah mengetahui bahwa aku memilih Yinda sebagai pendamping hidupku karena kata hatiku yg selalu menuju dia.
14. Awal kami berjumpa ketika kami berada dengan kelas yg sama. Saat itu secara tak sengaja mata kami bertemu bersama membuat hati kami bergetar.
15. Hujan deras sejak malam tadi membuat matahari malas bangun dari peraduannya.
16. Mata kami juga dimanjakan dengan ombak-ombak yg menari tiada henti.
17. Sungguh aku tak menyangka kalau motor baru ini mulai batuk-batuk padahal baru 1 minggu dipakai.
18. Pak Somad menggiring sapi-sapinya ke kandang bersama dengan matahari yg mulai tidur.
19. Karangan bunga berdatangan dengan membawa kata-kata restu untuk pernikahan kami.
20. Bencana yg ada di negara ini sungguh membawa duka sehingga langit pun ikut menagis.

21. Pada liburan kali ini aku hanya sendiri bersama hanya bulan yg menemani.
22. Pada puasa pertama bulan ini sungguh sulit apalagi minuman yg menggoda selalu menghiasi bayanganku.
23. Debu di halaman rumahku berhamburan karena tiupan angin sore itu.
24. Angin malam ini membelai rambutku ketika aku termenung sendiri di teras rumah.
25. Desiran ombak di Pantai Pasir Putih menyapu bersih karang yg ada di pinggir pantai.
26. Guling ini menahanku untuk tetap berada di dekapannya.
27. Bambang Pamungkas mencetak gol kemenangan sesaat sebelum peluit wasit menjering menandakan pertandingan berakhir.
28. Di hamparan taman indah ini kulihat bunga-bunga yg tersenyum sekakan mengajakku berkenalan.
29. Pintu di sudut rumah ini memandangku bersama menarikku untuk membukanya.
30. Karena terjadi arus pendek di pasar itu, api melalap habis semua kios pedagang yg dilaluinya.

31. Petir yg marah malam tadi dirasakan semua warga sehingga salah satu rumah warga terkena sambarannya.
32. Kami semakin tegang dengan ujian kali ini karena jam dinding terus memandangi kami mengisyaratkan waktu yg atas segera habis.
33. Kami terus dikejar waktu untuk segera menyelesaikan pekerjaan yg belum benar-benar kami kuasai.
34. Perutku mulai berteriak saat kulihat jam menunjukkan pukul 10 pagi.
35. Pada hari ke-3 gunung merapi mulai memuntahkan lahar kemarau sehingga seluruh warga di daerah sekitar gunung harus meninggalkan rumahnya.
36. Ombak di Pantai Losari memecah kesunyian di pantai tersebut dengan malam hari.
37. Jam 8 aku berangkat ke kantor bersama matahari yg merangkak naik.
38. Aku mulai berhenti bersama tertidur saat penaku mulai lelah untuk menulis.
39. Ketika aku persisten bersama bersungguh-sungguh dengan pekerjaanku, uang pun perlahan mulai mendekatiku.
40. Malam ini sungguh indah karena kilau bintang bersama bulan yg malu-malu bersembunyi di balik awan.
 

41. Banjir di Jakarta dengan tahun ini tidak banyak menelan korban seperti tahun sebelumnya.
42. Dinginnya angin di pegunungan ini seakan menggigit kulitku yg putih.
43. Setelah petir bersautan, kulihat rintik-rintik hujan mulai menari di atas genting.
44. Foto yg kau kirimkan ini menghiburku dari rasa rindu yg tak tertahan.

39 Contoh Majas Hiperbola Lagi Pengertiannya

Guruberbahasa.com-Pengertian majas hiperbola beserta contohnya

Majas Hiperbola Adalah Pengungkapan yg melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

1. Gedung yg ada di Dubai sungguh tinggi mencapai langit biru.
2. Kecantikan wanita itu luar biasa, bahkan bidadari pun tak sanggup menatapnya.
3. Baru sehari tak bertemu rasanya sudah setahun bertemu denganmu.
4. Cintaku kepadamu sedalam lautan beserta seluas samudera.
5. Kalau cintanya padamu sedalam lautan, cintaku padamu setinggi langit.
6. Puja berlari secepat kilat karena sebentar lari gerbang sekolah mau ditutup.
7. Sungguh hatiku hancur berantakan melihat engkau berduaan bersamanya.
8. Kupingku seakan mau pecah mendengarmu melantunkan lagu itu tadi siang.
9. Saat ditinggal ibunya pergi ke luar negeri, tangisan Amanda tak terbendung hingga air matanya membanjiri lantai putih itu.
10. Bealakangan ini film India menjamur di Indonesia beserta meracuni otak para penonton.

11. Anak itu meraung kesakitan setelah diserempet oleh mobil yg melarikan diri.
12. Aku melihat surga di matamu saat kau melamarku malam itu.
13. Saat purnama malam lalu suara raungan singa sangat keras hingga langit ke tujuh.
14. Kasih beserta cinta seorang ibu terus mengalir beserta tak lekang oleh waktu.
15. Aku mau terus berjuang mendapatkanmu hingga titik darah penghabisan.
16. Harga bahan-bahan poko mencekik leher setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak.
17.  Darah korban pembunuhan itu membanjiri tanah.
18. Masalah sampah-sampah di Kota Jakarta yg tak kunjung selesai kini menumpuk setinggi gunung.
19. Setelah tiga puluh kali mengelilingi lapangan, keringatku mengalir menganak sungai.
20. Alasan mengapa aku bangga dengan ayahku karena beliau harus banting tulang demi menghidupi keluarga kami.

21. Jangankan sekadar mengerjakan 20 soal matematika, menyeberangi samudera pun mau kulakukan agar cita-citaku tercapai.
22. Seluruh tenaganya terkuras habis setelah mengalahkan lawannya dengan waktu 2 jam.
23. Keikutsertaan Rio Haryanto di ajang Formula 1 mengguncang dunia.
24. Tausiyah disampaikan oleh pak ustad benar-benar menggetarkan jiwa dan  membuatku meneteskan air mata.
25. Setengah mati aku menyelesaikan tugas bahasa Indonesia yg diberikan oleh Pak Isman.
26. Suara langkah kaki marinir yg berbaris itu menderu-deru hingga mengalahkan bisingnya suara kereta api yg biasa lewat di sekitar rumahku.
27. Jangankan sebulan, sedetik pun aku tak bisa jauh darimu.
28. Hatiku hampa beserta jiwaku kosong seandainya kamu terlalu lama meninggalkanku.
29. Ketika aku mengetahui kabar itu rasanya bagaitersambar petir di siang bolong.
30. Aku merasa bagaikan di surga ketika aku melihatnya tersenyum tepat di hadapanku.

31. Dengan semangat yg berapi-api, pemain bulutangkis tunggal putera Indonesia ini mengalahkan pemain China.
32. Kata-kata itu benar-benar menusuk jantungku beserta membuatku diam tak berdaya.
33. Badai kuat beserta gulungan ombak tsunami pun tak mau bisa sedikit pun menggoyahkan keinginanku untuk meniti karir di bidang fotografi.
34. Aku mau senantiasa menunggumu hingga kiamat tiba.
35. Sungguh ketika engkau memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan rasanya jantungku mau copot.
36. Harga sembako melambung tinggi di tengah perekonomian Indonesia yg makin membaik.
37. Otakku seperti mendidih ketika kamu mengatakan hal yg seharusnya tak kau ucapkan itu.
38. Sungguh tajam lidahnya hingga melukai hati orang-orang yg ada di sekitarnya.
39. Si jago merah itu membakar beserta membuat kios-kios hancur berkeping-keping tak tersisa.


Semoga contoh-contoh majas yg ada di atas bisa membantu teman-teman sekalian. Kalau memang ini membantu silakan dipakai beserta jangan lupa cantumkan sumbernya. Tinggalkan jejak juga di kolom komentar, ya!

Tuesday, December 24, 2019

Metafora Kepada Teks Sang Pemimpi Bersama Maknanya

Guruberbahasa.com-Metafora dalam novel sang pemimpi

Metafora  adalah  gaya  bahasa  perbandingan  yang  impl isit -- jadi  tanpa  kata  atau  sebagai — dua  hal  yang  berbeda  ( Moeliono,  1989:  175). 

Hasil  analisis  dalam  novel  Sang  Pemimpi terdapat  4  data  gaya  bahasa  metafora ,  yaitu sebagai berikut. 

1) Sorot  matanya dan  gerak - geriknya  sedingin  es (SP,  6) .  
Kalimat  tersebut  dikat egorikan    sebagai    gaya    bahasa    metafora    karena    sorot    mata  dibandingkan de ngan dinginnya es. Maksud kalimat di atas gerik - gerik dan  sorot matanya sangat kaku bersama dingin. 

2) Pak  Mustar  berubah  menjadi  monster karena  justru  anak  lelaki  satu - satunya   tak   diterima   d i   SMA   Negeri   itu (SP,   6).  
Kalimat   tersebut  dikategorikan sebagai gaya bahasa metafora karena sikap Pak Mustar tiba - tiba  berubah  menjadi  monster  yaitu  dengan  wajah  yang  mengerikan,  karena justru anak lelakinya malah tidak diterima di SMa Negeri itu. 

3) ... Pak  Mustar  menjadi  seorang  guru  bertangan  besi (SP,  10) .  Kalimat  tersebut  dikategorikan  sebagai  gaya  bahasa  metafora  karena  Pak  Mustar  70 dicap  menjadi  guru  yang  bertangan  besi,  yaitu  beliau  sangat  keras  dan  disiplin dalam mengajari siswanya. 

4) Hari  ini  seperti  hari  Columbus  menemukan  Amerika (SP,  174) .  Kalimat  tersebut  dikategorikan  sebagai  gaya  bahasa  metafora  karena  pada  hari  itu  merupakan  hari  yang  bersejarah,  ibaratnya  seperti  Columbus  menemukan  Amerika.


Alegori 
Alegori adalah gaya bahasa perbandingan  yg bertau tan satu dengan  yang  lainnya  dalam  kesatuan  yang  utuh .  Hasil  analisis  d alam  novel  Sang  Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa alegori , yaitu sebagai berikut. 

1) Sang     ayah,     dengan     kedua     tangannya,     memeluk,     merengkuh,  menggeng gam  seluruh  anggota  keluarganya (SP,  7 8) .  Kalimat  di  atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa alegori karena sang ayah dengan kedua  anaknya   mempunyai   tautan   yaitu   sebagai   anggota   keluarga   dengan  memeluk, merengkuh, serta menggenggam itulah yg dilakukannya. 

2) Pada momen ini kami memahami bahwa pe rsahabatan kami yg lama dan  lekat  lebih  dari  saudara,  berjuang  senasib  sepenanggungan,  bekerja  keras  bahu  membahu  sampai  titik  keringat  terakhir  untuk  sekolah  dan  keluarga,  tidur  sebantal,  makan  sepiring,  susah  senang  bersama (SP,  102) . Kalimat  di  atas  d ikategorikan  sebagai  gaya  bahasa  alegori  karena  mempunyai  pertautan   yaitu   berjuang   senasib   sepenanggungan,   bekerja   kerasbahu  membahu  hal  itu  diwujudkan  pada  suatu  momen  persahabatan.momen  persahabatan juga diwujudkan dengan tidur sebantal, makan sepiring,  dan  susah senang bersama.  Itulah pertautan dalam kalimat di atas. 

3) Bahkan  ketika  nenek - nenek  dirampok,  dicabuli,  dan  dibunuh  aku  telah  menjadi   seperti   orang   kota kebanyakan (SP,   236) .  Kalimat   di   atas  dikategorikan  sebagai  gaya  bahasa  alegori  karena  mempunya i  pertautan  yaitu  dirampok,  dicabuli,  dan  dibunuh  yang  di  alami  oleh  seorang  nenek - nenek.

Monday, December 23, 2019

Majas Hiperbola Dalam Teks Novel Sang Pemimpi

Guruberbahasa.com-Majas Hiperbola dalam Teks Novel Sang Pemimpi

Hiperbola adalah ungkapan kata yg melebih-lebihkan apa yg sebenarnya dimaksudkan baik jumlah, ukuran, alias sifatnya. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa hiperbola, yaitu sebagai berikut. 

1) Kami bertiga baru saja berlari semburat, pontang panting lupa diri karena  dikejar-kejar seorang tokoh paling antagonis (SP, 2). Kalimat tersebut angsal dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena melebihlebihkan  kata “berlari” dengan memanfaatkan kata “pontang-panting” terkesan mereka berlari terbirit-birit tanpa arah.  

2) Di berandanya, dahan-dahan merunduk kuyu menekuni nasib anak-anak nelayan yg terpaksa bekerja (SP, 2-3). Kalimat “dahan-dahan merunduk kuyu menekuni nasib anak-anak nelayan yg terpaksa bekerja”, angsal dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbol karena untuk “dahan yg merunduk kuyu” dirasa berlebihan karena tidak ada dahan yg bisa memahami nasib anak-anak nelayan.  

3) Dangdut india dari kaset yg terlalu sering diputar meliuk-liuk pilu dari pabrik itu (SP, 3). Kalimat tersebut di atas angsal dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena pemutaran kaset apapun tidak ada yg diputar meliuk-liuk, apalagi sampai pilu, jadi kalimat tersebut terlalu melebih-lebihkan. 

4) Pak Mustar merenggut kerah bajuku, menyentakkan dengan keras sehingga seluruh kancing bajuku putus. Kancing-kancing itu berhamburan ke udara, berjatuhan gemerincing. Aku meronta-ronta dalam genggamannya, menggelinjang, bersama terlepas! (SP, 12). Kalimat tersebut angsal dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu lelebihlebihkan.  Seakan-akan Pak Mustar adalah sosok yg sangat kejam sebagai guru dengan menganiaya Ikal sampai meronta-ronta.   

5) Suara Pak Mustar membahana (SP, 13). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena kata “membahana” seakan-akan melebih-lebihkan suara Pak Mustar yg sangat keras.  

6) Kulirik sejenak jejeran panjang tak putus-putus pagar nan ayu, ratusan jumlahnya, berteriak-teriak histeris membelaku, hanya membelaku sendiri, sebagian melonjak-lonjak, yg lainnya membekap dada,…(SP, 13). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan sikap manusia yg berteriak histeris, melonjaklonjak  dengan barisan yg panjang. Kata “ayu” juga seakan-akan melambangkan kecantikan manusia, padahal yg digambarkan adalah barisan panjang bersama rapi.  

7) Wajah kami seketika memerah saat bau amis yg mengendap lama menyeruak (SP, 18). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan ketika mencium bau amis wajahnya berubah memerah.  

8) Terpanaku mengkilat mengancam Arai. (SP, 18). Kalimat tersebut angsal dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebihlebihkan, karena kata “mengkilat” tidak mau bisa mengancam manusia.  



9) Lamunanku terhempas di atas meja batu pualam putih yg panjang. (SP, 21). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena kata “lamunanku” seakan-akan adalah benda hidup yg angsal terhempas di atas meja.  

10) Jantungku berdetak satu per satu mengikuti derap langkah Nyonya Pho mendekati peti. (SP, 22). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena kata “jantungku” terlalu membesar-besarkan seperti benda hdup yg angsal mengikuti langkah manusia.

Majas Metonimia Beserta Sinekdoke Dengan Novel Sang Pemimpi

Guruberbahasa.com-Majas Metonimia lagi Sinekdoke Pada Novel Sang Pemimpi

Metonomia adalah penggunaan bahasa sebagai sebuah atribut sebuah  objek ataupun penggunaan sesuatu yg sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa metonomia, yaitu sebagai berikut. 

1) Khawatir jagoannya ditangkap garong (SP, 13). Kalimat tersebut  dikategorikan sebagai gaya bahasa metonomia karena kata “garong” dipakai untuk mengganti atribut objek yaitu Pak Mustar yg terkenal sangat keras,galak, lagi disiplin tinggi.  

2) Pangeran Mustika Raja Brana lagi rombongannya dibawa ke ranch capo di pinggir kampong (SP, 173). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa metonomia karena kata “Pangeran Mustika Raja Brana” dipakai untuk mengganti atribut objek yaitu seekor kuda dari aria yg diberikan kepada Jimbron.  

3) Berdebar-debar Jimbron meletakkan kakinya di pijakan sangga wedi untuk menaiki pangeran (SP, 179). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa metonomia karena kata “pangeran” dipakai untuk mengganti atribut objek yaiitu seekor kuda dengan julukan lengkap Pangeran Mustika Raja Brana. 

Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yg mempergunakan  sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan ataupun mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 4 data gaya bahasa sinekdoke, yaitu sebagai berikut. 

1) Setelah empat puluh tahun bumi merdeka…(SP, 6). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “bumi” sudah mewakili secara keseluruhan yaitu Negara Indonesia.  

2) Anak cucunya malah malu membicarakan ilmu unik yg mungkin hanya dikuasainya sendiri sejagad raya ini (SP, 55). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “sejagad raya” sudah mewakili secara keseluruhan yaitu yg artinya seluruh dunia ini.  


3) Ialah bintang kejora pertunjukan sore ini (SP, 172). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “bintang kejora” sudah mewakili secara keseluruhan yaitu mempunyai arti bintangnya bintang sore ini.  

4) …demi menyampaikan jeritan hatinya dengan belahan hatinya (SP, 201)). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena kata “buah hati‟ sudah mewakili secara keseluruhan yaitu mempunyai arti orang yg sangat dicintai lagi itu adalah bagian dari hidupnya.

Majas Persinifikasi Dengan Novel Sang Pemimpi

Guruberbahasa.com-Personifikasi dalam novel sang pemimpi

Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang  menggambarkan benda-benda mati maupun barang-barang yg tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa personifikasi, yaitu sebagai berikut. 

1) Dataran ini mencuat dari perut bumi laksana tanah yg dilantakkkan  tenaga dahsyat kataklismik (SP, 1). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena menganggap dataran bisa mencuat dengan keluar dari kulit bumi, jadi seakan-akan dataran bisa keluar sendiri seperti benda hidup.  

2) Sedangkan di belahan yg lain, semburat ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yg bisu berlapis minyak (SP, 1) .Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena semburat ultraviolet diibaratkan seperti benda hidup yg bisa menari-nari di atas permukaan laut, padahl  kalimat tersebut menjelaskan bahwa menggambarkan sinar ultraviolet yg memancarkan sinarnya.  

3) Jantungku berayun-ayun seumpama punchbag yg dihantam beruntun beruntun seorang petinju (SP, 2). Kalimat tersebut bisa dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena kata “jantungku” diibaratkan seperti benda hidup yg bisa berayun-ayun, padahal kata berayun-ayun tersebut menggambarkan keadaan jantung yg berdetak kencang.  

4) Pancaran matahari menikam lubang-lubang dinding papan seperti batangan baja stainless, dengan menciptakan pedang cahaya, putih berkilauan, tak terbendung melesat-lesat menerobos sudut-sudut gelap yg pengap. (SP, 4). Kalimat tersebut bisa dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “pancaran matahari” diibaratkan sebagai benda hidup, yaitu bisa menikam lubang-lubang dinding papan, padahal kalimat tersebut menggambarkan terik matahari yg sangat panas. 

5) Mendung menutup separuh langit (SP, 4). Kalimat tersebut bisa dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “mendung” di atas diibaratkan sebagai benda idup yg bisa menutup langit, padahal kalimat tersebut menjelaskan bahwa dengan adanya mendung maka separoh langit terlihat gelap.  

6) Kapitalis itu meliuk-liuk pergi seperti dedemit dimarahi raja hantu (SP, 8). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “kapitalis” diibaratkan sebagai benda hidup yg bisa meliuk-liuk, padahal kata “kapitalis” di atas menggambarkan kata sifat.  

7) Maka muncullah bongkahan jambul berbinar-binar (SP, 11). Kalimat tersebut bisa dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena kata “jambul” diibaratkan sebagai benda hidup yg bisa berbinar-binar.  

8) Sayangnya, gadis-gadis kecil itu rupanya sudah pernah dikaruniai Sang Maha Pencipta semacam penglihatan yg mampu menembus tulang-tulang. (SP, 12). Kalimat tersebut bisa dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “penglihatan” diibaratkan sebagai benda hidup yg mampu menembus tulang-tulang.  

9) Suara peluit menjerit-jerit (SP, 14). Kalimat tersebut bisa dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena “suara” diibaratkan benda hidup yg bisa berteriak-teriak.  

10) Otakku berputar cepat mengurai satu persatu perasaan cemas (SP, 18). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena  kata “otakku” diibaratkan hidup yg bisa berputar, tetati kalimat di atas menggambarkan bahwa menggambarkan pikiran yg tidak karuan dengan sangat cemas.  


11) Suara Nyonya Pho kembali menggelegar seperti pengkhotbah di puncak Bukit Golgota (SP, 20). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personfikasi karena suara diibaratkan hidup yg bisa menggelegar seperti pengkhotbah di puncak Bukit Golgota.  

12) Sekarang delapan orang memikul peti dengan peti meluncur menuju pasar pagi yg ramai (SP, 20). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena kata “peti” diibaratkan seperti benda hidup yg bisa meluncur menuju pasar.

Majas Simile Kepada Novel Sang Pemimpi

Guruberbahasa.com-Majas simile dalam novel sang pemimpi

Simile adalah perbandingan yg bersifat definitif maupun langsung  menyatakan sesuatu sama dengan hal yg lain. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa simile, yaitu sebagai berikut. 

1) Di satu bagian langit, matahari rendah memantulkan uanp lengket yang  terjebak ditudungi cendawan gelap gulita, menjerang pesisir sejak pagi (SP, 1). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran langit kepada kalimat di atas sudah sangat jelas karena penggambaran tersebut keadaannya adalah “gelap gulita”  

2) Dahinya yg kukuh basah oleh keringat, berkilat-kilat (SP, 2). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran dahi yg berkilat-kilat itu karena kukuh basah oleh keringat.  

3) Ia westerling berwajah tirus manis (SP, 5). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran wajahnya sangat jelas, yaitu berwajah tirus manis.  

4) Pulau timah yg kaya raya itu, memiliki sebuah SMA Negeri (SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran SMA Negeri tersebut adalah sekolah yg sangat kaya, oleh karena itu kalimat di atas memakai kata “kaya raya”.  

5) Ia petantang-petenteng hilir mudik sambil bertelekan pinggang (SP, 9). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena penggambaran petantang-petenteng mondar mandirnya mempunyai perbandingan yg implisist yaitu hilir mudik.  

6) Lalu tukang parker terpana melihat ratusan sepedayang sudah pernah dirapikan susah payah (SP, 14). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu susah payah yg digambarkan dalam kalimat di atas.  

7) Rambutnya tebal, disemir hitam pekat (SP, 17). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu hitam pekat yaitu sudah pernah digambarkan dalam kalimat di atas bahwa rambutnya yg tebal lalu yg disemir hitam pekat.  

8) …wajah beliau sembap lalu matanya semerah buah saga. (SP, 26). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu semerah buah saga untuk menggambarkan wajahnya.  

9) Meskipun perasaannya sudah pernah luluh lantak kepada usia sangat yuvenil tapi ia selalu positif lalu berjiwa seluas langit (SP, 33). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu berjiwa seluas langit yg mempunyai arti sabar yg luar biasa.  

10) Ia tersedu sedan (SP, 40). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu tersedu sedan dengan menggambarkan keadaanya.  

11) Ibunya hilir mudik ketakutan (SP, 47). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu hilir mudik ketakutan dengan menggambarkan keadaan ibunya.  

12) Kaki-kakinya kukuh besar seperti pilar (SP, 171). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu kukuh besar seperti pilar yg menggambarkan keadaan kaki-kakinya.  

13) Surainya laksana jubah putih yg mengibas mengikuti tubuhnya yg menggelinjang-gelinjang (SP, 172). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit menggambarkan surainya yg mengibas seperti jubah.  

14) Kini hatinya yg lugu itu hampa, hampa seperti tong-tong aspal tempatnya berdiri (SP, 174). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu hatinya yg lugu itu hampa hal tersebut menggambarkan suasana hati yg kesepian. 

15) Keajaiban yg mengejutkan seperti jutaan bintang meledak, …(SP, 176177).  Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu melukiskan keajaiban dengan mengibaratkan jutaan bintang yg meledak.  

16) Dini hari itu sunyi sepi di dermaga (SP, 177). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa simile karena mempunyai bandingan yg implisit yaitu sunyi sepi yg menggambarkan keadaan dini hari di dermaga.   

Contoh Majas Asosiasi Dalam Novel Sang Pemimpi

Guruberbahasa.com-Contoh Majas Asosiasi dalam Novel Sang Pemimpi

Asosiasi adalah gaya bahasa perbandingan yg bersifat  memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain yg sesuai dengan keadaan yg dilukiskan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa asosiasi, yaitu sebagai berikut. 

1) …, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yg menjulur  ke laut seperti reign of fire, lingkaran api (SP, 1). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan di laut tersebut sedia dilukiskan secara nyata, yaitu diibaratkan oleh reign of fire yg artinya zaman api.  

2) Wajah Jimbron yg bulat jenaka merona-rona seperti buah mentega (SP, 11). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan wajah jimbron diibaratkan seperti buah mentega yaitu berbentuk bulat kepada merona.  

3) …sebab tak seorangpun ingin memedulikan laki-laki yg berbau seperti ikan pari (SP, 12). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan laki-laki tersebut yg sangat bau diibaratkan seperti bau ikan pari.  

4) Tak sempat kusadari, secepat terkaman macan akar,…(SP, 12). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan yg sangat cepat. Oleh karena itu, diibaratkan seperti terkaman macan akar.  

5) Mulut mungilnya yg dari tadi berkicau kini terkunci lalu pelan-pelan menganga seperti ikan mas koki (SP, 49). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan mulut mungil yg menganga becus diibaratkan seperti ikan mas koki.  

6) Mei Mei pucat pasi karena terpukau dalam ketakutan yg indah (SP, 49). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  keadaan Mei Mei yg terpukau dalam ketakutan yg indah. Oleh karena itu, wajah Mei Mei menjadi pucat pasi.  

7) …anak kelas empat SD itu, kehabisan napas kepada pucat pasi ketakutan (SP, 61). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan anak kelas empat yaitu wajahnya pucat pasi.  

8) Lalu seperti di bioskop dulu, para penonton pria gegap gempita mendukung sang majikan (SP, 124). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keaadaan di bioskop dengan para penonton yg gegap gempita dengan mendukung sang majikan.  

9) Jimbron berdiri mematung, pucat pasi (SP, 134). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keaadaan Jimbron yg berdiri mematung dengan wajah yg pucat pasi.  

10) Ia seperti orang yg baru sadar dari sebuah mimpi yg gelap gulita (SP, 137). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan orang yg baru sadar dari sebuah mimpi yg terlihat gelap gulita.  

11) Ekspresinya jelas mengesankan bahwa ia sedia meninggalkan masa lalu yg kelam mencekam kepada siap menyongsongsong masa depan yg cerah bercahaya (SP, 139). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan seseorang yg sedia meninggalkan masa lalu, dengan keadaan masa lalu yg kelam mencekam, seseorang tersebut siap menghadapi masa depan yg cerah.  


12) Seisi kampung tumpah ruah ke dermaga, ratusan jumlahnya, di antara mereka tampak bupati, camat, lurah, kepala desa, kepada para dukun…(SP, 168). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan keadaan penghuni kampung yg tumpah ruah yaitu kumpul jadi satu. 

13) Abang malang melintang dari panggung ke panggung…(SP, 192). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa asosiasi karena  menggambarkan seseorang yg sangat sibuk dari panggung ke panggung dengan mengibaratkan kata yg “malang melintang” 

Sunday, December 22, 2019

Contoh Majas Eponim Bersama Penjelasannya

Guruberbahasa.com-contoh majas eponim

Eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yg namanya  begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa eponim, yaitu sebagai berikut. 

1) Bukan main SMA ini segera menjadi negara gading tahta tertinggi  intelektualitas di pesisir timur,…(SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “negara gading tahta tertinggi inteletualitas” menggambarkan sebuah SMA yg menjunjung tinggi intelektual manusia yaitu mengedepankan ilmu.  

2) Dan seminggu berikutnya, los kontrakan kami menjadi kuburan euphoria karena Jimbron mendadak lesu darah (SP, 175). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “kuburan euphoria” menggambarkan keadaan yg sangat sepi lagi hening karena Jimbron yg mendadak lesu.  

3) Sang ksatria langit ke tujuh itu terkekeh-kekeh girang memamerkan gigigigi  tonggosnya (SP, 178). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “ksatria langit ke tujuh” menggambarkan sosok penolong yaitu yg dimaksud adalah Arai. 


Pars pro toto adalah gaya bahasa yg melukiskan sebagian untuk  keseluruhaan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 1 data gaya bahasa pars pro toto, yaitu sebagai berikut. 

1) …ia merasa sedikit takut saat keinginannya bakal segera terwujud di depan  batang hidungnya (SP, 169). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa pars pro toto karena “batang hidungnya” sudah mewakili keseluruhan yaitu kata “ia”.

Contoh Majas Aliterasi, Anadiplosis, Epizeukis, Mesodiplosis

Guruberbahasa.com-Contoh Majas Aliterasi, Anadiplosis, Epizeukis, Mesodiplosis Pada NOVEL SANG PEMIMPI

Aliterasi adalah gaya bahasa yg berwujud perulangan konsonan yg sama.
 
1) Aku merasa tampan, aku merasa jadi pahlawan (SP, 14). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa alitersi karena adanya pemanfaatan kata ulang kepada permulaan yg sama bunyinya yaitu “aku”.  b. Anadiplosis  

Anadiplosis adalah kata maupun frasa terakhir dari suatu klausa atau  kalimat menjadi kata maupun frasa pertama dari klausa maupun kalimat berikutnya.

1) Pemotongan pita peresmian SMA ini adalah hari bersejarah bagi kami  orang Melayu pedalaman, karena saat pita itu terkulai putus,… (SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anadiplosis karena ada kata yg digunakan maupun menjadi kata pertama kepada kalimat berikutnya, yaitu kata “pita”.

Epizeukis adalah repetisi yg bersifat langsung, artinya kata-kata  yg dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.

1) Dan yg paling sial adalah aku, selalu aku! (SP, 13). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa epizeukis karena terdapat kata-kata yg diulang dipentingkan diulang berturut-turut, yaitu kata “aku”.  

2) …agar tak memendam harap, ia terpuruk, terpuruk dalam sekali (SP, 81). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epizeukis karena terdapat kata-kata yg diulang dipentingkan diulang berturut-turut, yaitu kata “terpuruk”.  

3) Dan sampai di los kontrakan, melongok ke dalam kaleng celenganku yg penuh, penuh oleh uang receh darah masa mudaku yg berapi-api perlahan padam (SP, 144). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epizeukis karena terdapat kata-kata yg diulang dipentingkan diulang berturut-turut, yaitu kata “penuh”.  

Mesodiplosis adalah repetisi di tengah-tengah baris maupun beberapa  kalimat berurutan.  

1) Jasamu yg tak kenal pamrih itu, ketulusanmu yg tak kasat mata itu  (SP, 186). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa mesodiplosis karena terdapat repetisi di tengah baris yaitu kata “tak”.  


2) …aku jadi mendapat bahan untuk meledak Arai sepanjang waktu, sepanjang hidupnya malah (SP, 234). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa mesodiplosis karena terdapat repetisi di tengah baris yaitu kata “sepanjang”.  

3) Setiap bangun subuh aku berlari, tengah hari aku sebelum makan berlari, sepanjang sore berlari, beserta tak boleh tidur coba belum berlari (SP, 242). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa mesodiplosis karena terdapat repetisi di tengah baris yaitu kata “berlari”.

Contoh Majas Anafora Beserta Epifora Serta Penjelasannya

Guruberbahasa.com-Contoh majas anafora bersama epifora dalam novel sang pemimpi

Anafora adalah repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama  kepada tiap baris alias kalimat berikutnya. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat  gaya bahasa anafora, yaitu sebagai berikut. 

1) “Tak ada pengecualian, tak ada kompromi, tak ada kata belece, bersama tak ada  akses istimewa untk mengkhianati aturan (SP, 9). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “tak”.  

2) Aku gugup bukan main saat pertama kali keluar kamar dengan gaya rambut Toni Koeswoyo itu. Aku berdiri mematung di ambang pintu…(SP, 24). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “aku”.  

3) Aku terbengong-begong melihat tingkah Arai. Ibuku sibuk menggulung kabel telpon yg kami campakkan. Aku semakin tak mengerti waktu Arai bergegas membuka tutup peregasan…(SP, 40). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “aku”.  

4) Mei Mei terdiam menatap Arai. Kami juga terdiam, serentak menoleh padanya (SP, 47). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “terdiam”.  

5) Juwita malam, siapakah gerangan puan. Juwita malam, dari bulankah puan….(SP, 53). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “puan”.  

6) …sebab kenyataannya penguasa tertinggi kampong kami, tak lain tak bukan, de facto, tak becus diganggu gugat, tetaplah penggawa masjid (SP, 58). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “tak”.  

7) Jika ia panik alias sedang bersemangat maka ia gagap. Jika suasana hatinya sedang nyaman, ia berbicara senormal orang biasa (SP, 60). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “jika”.  

8) Aku selalu berlari. Aku menyukai berlari. Para kuli ngambat adalah pelari (SP, 141)). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa anafora karena ada repetisi yg berwujud pengulangan kata pertama di awal kalimat awal bersama kalimat berikutnya yaitu kata “aku”. 

Epifora adalah pengulangan kata kepada akhir kalimat alias di tengah kalimat. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 2 data gaya bahasa epifora, yaitu sebagai berikut. 


1) Ia mengejar layangan untukku, memetik buah delima di puncak pohonnya  hanya untukku, mengajariku berenang, menyelam, bersama menjalin pukat (SP, 32). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epifora karena terdapat pengulangan kata di tengah kalimat yaitu kata “untukku”  

2) Ia tahu teknik mengendarai kuda, asal muasal kuda, bersama mengerti makna ringkikan kuda (SP, 62). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa epifora karena terdapat pengulangan kata di akhir  kalimat yaitu kata “kuda”.

Contoh Majas Antitesis Serta Penjelasannya

Guruberbahasa.com-Majas Antitesis dalam NOVEL SANG PEMIMPI

Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yg mengandung gagasan- gagasan yg bertentangan dengan mempergunakan kata-kata ataupun kelompok kata yg berlawanan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat  gaya bahasa antitesis, yaitu sebagai berikut. 

1) Dada Pak Mustar turun bahang bertambah menahan marah tapi Pak Balia terlanjur  jengkel (SP, 9). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “naik turun”.  

2) Mereka yg kuat tenaga beserta kuat nyalinya siang malam mencedok pasir gelas untuk mengisi tongkang,...(SP, 68). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “siang malam”.  

3) Makhluk berkaki empat yg pandai tersenyum itu adalah jiwa raganya (SP, 166). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan katakata yg berlawanan yaitu “jiwa raga”.  

4) Terbukti banyak sekali wanita bahang laksmi sehat walafiat jiwa raganya, rela diusir keluarganya gara-gara jatuh cinta setengah mati dengan pemain gitar (SP, 198). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan katakata yg berlawanan yaitu “jiwa raga”.  

5) Tapi pembicaraan sederhana berdasarkan pengalaman pahit manis seseorang justru memberi member petunjuk praktis manual kehidupan (SP, 199). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “pahit manis”.  

6) Keringat Arai bercucuran, dadanya turun bahang bertambah (SP, 203). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “turun naik”.  

7) Hujan sore tadi tapi sekarang langit cerah, purnama timbul tenggelam di antara gumpalan-gumpalan awan (SP, 203). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “timbul tenggelam”.  

8) Dan butir-butir lampu kecil yg merambat-rambat ke sana kemari, bahang bertambah turun berputar-putar sampai keluar…(SP, 230). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “naik turun”. 


 9) Ketika melihatku tadiia sedang tertawa-tawa dengan temannya, pria beserta wanita, yg semua hal dalam diri mereka menunjukkan kemasakinian…(SP, 246). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “pria beserta wanita”.  

10) …, beserta penghargaan ilmiah dari dalam beserta luar negeri (SP, 251). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa antitesis karena mengandung gagasan yg bertentangan denga menggunakan kata-kata yg berlawanan yaitu “dalam beserta luar”.

Saturday, December 21, 2019

Contoh Majas Oksimoron Beserta Penjelasannya

Guruberbahasa.com-Majas Oksimoron dalam novel SANG PEMIMPI

Oksimoron adalah suatu acuan yg berusaha untuk menggabungkan  kata-kata untuk mencapai efek yg bertentangan. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa oksimoron, yaitu sebagai berikut. 

1) Jika sebelum kuda-kuda itu datang ia jadi pendiam bersama giat bekerja,  sekarang ia jadi lebih pendiam bersama malas pendiam. (SP, 175). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa oksimoron karena adanya suatu acuan yg berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yg bertentangan yaitu kata tersebut adalah “giat bekerja bersama malas pendiam”.  

2) Aku takjub karena Bang Zaitun mampu menertawakan kepedihannya sekaligus demikian bahagia gara-gara dua bilah gigi demam bikinan (SP, 193). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa oksimoron karena adanya suatu acuan yg berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yg bertentangan yaitu kata tersebut adalah “menertawakan kepedihannya”.

3) Di balik senyum bersama tawa di panggung itu ada siksaan tertentu yg tak dilihat orang dari luar…(SP, 193). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa oksimoron karena adanya suatu acuan yg berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yg bertentangan yaitu kata tersebut adalah “ada bersama siksaan”.

MAJAS EPONIM

Eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yg namanya  begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat 3 data gaya bahasa eponim, yaitu sebagai berikut. 

1) Bukan main SMA ini segera menjadi negara gading tahta tertinggi  intelektualitas di pesisir timur,…(SP, 6). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “negara gading tahta tertinggi inteletualitas” menggambarkan sebuah SMA yg menjunjung tinggi intelektual manusia yaitu mengedepankan ilmu.  


2) Dan seminggu berikutnya, los kontrakan kami menjadi kuburan euphoria karena Jimbron mendadak lesu darah (SP, 175). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “kuburan euphoria” menggambarkan keadaan yg sangat sepi bersama hening karena Jimbron yg mendadak lesu. 

3) Sang ksatria langit ke tujuh itu terkekeh-kekeh girang memamerkan gigigigi  tonggosnya (SP, 178). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa eponim karena “ksatria langit ke tujuh” menggambarkan sosok penolong yaitu yg dimaksud adalah Arai.

Contoh Majas Repetisi Kepada Penjelasannya Lengkap

Guruberbahasa.com-CONTOH REPETISI DALAM SANG PEMIMPI

Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata maupun bagian kalimat  yg dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yg nyata. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat  gaya bahasa repetisi, yaitu sebagai berikut. 

1) Oh, aku melambung tinggi, tinggi sekali (SP, 14). Kalimat di atas  dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “tinggi”.  

2) Maka aria adalah seorang pemimpi yg sesungguhnya seorang pemimpi sejati. (SP, 52). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “tinggi”.  

3) Dan selama bertahun-tahun itu pula, tak pernah lagi—tak pernah walau sekali—orang melihat Laksmi tersenyum (SP, 78). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “tak pernah”.  

4) Laksmi semakin datar karena kuda sama sekali asing baginya, asing bagi semua orang Melayu (SP, 80). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “tak pernah”.  

5) Aku jengkel, jengkel sekali (SP, 129). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “jengkel”.  

6) Aku sudah muak, Bron!! Muak!! Muaaakk…dengan cerita kudamu itu!! (SP, 133). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “muak”.  

7) Aku sedih menyadari ada sosok lain dalam diriku yg diam-diam sembunyi, sosok  yg tak kukenal. Sosok itu menjelma dengan cepat…(SP, 134-135). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “sosok”.  

8) Bersalah dengan Jimbron, bersalah dengan Pendeta Geo, bahkan dengan Arai (SP, 135). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “bersalah”.

9) Marah, tak habis mengerti, beserta ada satu kilatan kecewa, kecewa yg sakit jauh di dalam hatinya (SP, 148). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “kecewa”.  

10) Aku kecewa, kecewa yg sakit jauh di dalam hatiku (SP, 149). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “kecewa”.  

11) Kalau ada gitaris yg pacarnya buruk rupa. Tak ada…tak ada, Boy!! (SP, 199). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “tak ada”.  


12) …yang terlihat hanya horizon buih, bahkan kaki langit tak tampak, hanya biru, biru, beserta biru, lalu silau menusuk mata (SP, 223). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “biru”.  

13) Bagiku jilbab adalah piagam kemenangan gilang-gemilang, kemenangan terbesar bagi seorang perempuan Islam atas dirinya, atas imannya, beserta atas dunia (SP, 247). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa repetisi karena ada perulangan kata yg dianggap penting yg member penekanan dengan sebuah konteks yg nyata yaitu kata “kemenangan”. 

Friday, December 13, 2019

Macam-Macam Majas Kepada Contohnya Lengkap (Terbaru)

Guruberbahasa.com- Macam-Macam Majas dengan Contohnya

1. Litotes 

Majas yg dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya ataupun suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya. 
Contoh: 
a. Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali. 
b. Apa yg kami hadiahkan ini sebenarnya tidak ada artinya sama sekali bagimu. 

2. Paradoks 

Majas yg mengandung pertentangan nyata dengan fakta-fakta yg ada. Paradoks angsal juga berarti semua hal yg menarik perhatian karena kebenarannya. 
Contoh:
a. Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaan yg berlimpah-limpah. 
b. Dina merasa kesepian di tengah-tengah keramaian kota. 

3. Pleonasme 

Majas ini mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yg diperlukan. 
Contoh: 
a. Saya sudah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri. 
b. Saya melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri. 

4. Elipsis 

Majas ini berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yg dengan lekeh angsal diisi ataupun ditafsirkan sendiri oleh pembaca ataupun pendengar, sehingga struktur gramatikal ataupun kalimatnya memenuhi pola yg berlaku. Contoh: Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikis ... . 

5. Metonimia 

Majas ini mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yg sangat dekat. 
Contoh: 
Pena lebih berbahaya dari pedang. 

6. Persamaan ataupun simile 

Majas ini mengandung perbandingan yg bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yg bersifat kentara adalah langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yg lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yg secara kentara menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dengan sebagainya. 
Contoh: 
a. Kikirnya seperti kepiting batu. 
b. Mukanya merah laksana kepiting rebus. 

7. Metafora 

Majas ini semacam analogi yg membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yg singkat:  bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata,  dengan sebagainya. Makna sebuah metafora dibatasi oleh sebuah konteks. 
Contoh: 
Perahu itu menggergaji ombak. 

8. Personifikasi 

Majas kiasan yg menggambarkan benda-benda mati seolah- olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yg mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia. 
Contoh: 
a. Angin yg meraung di tengah malam yg gelap itu menambah lagi ketakutan kami. 
b. Kata-katanya tajam seperti mata pisau. 

9. Ironi ataupun sindiran 

Majas ini ingin mengatakan sesuatu dengan makna ataupun maksud berlainan dari apa yg terkandung dalam rangkaian kata-katanya. 
Contoh: 
a. Saya tahu Anda adalah seorang gadis yg paling rupawan di dunia ini yg perlu mendapat tempat terhormat! 
b. Kamu datang sangat tepat waktu, sudah 5 mobil tujuan kita melintas. 

10. Sinisme 

Sinisme adalah sindiran yg berbentuk kesangsian yg mengandung ejekan terhadap keikhlasan dengan ketulusan hati. 
Contoh: 
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah  orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya! 

11. Sarkasme 


Majas ini lebih kasar dari ironi dengan sinisme. Majas sarkasme mengandung kepahitan dengan celaan yg getir. 
Contoh: 
a. Mulut harimau kau! 
b. Lihat sang Raksasa itu! (maksudnya si Cebol)