Tuesday, December 10, 2019

Macam-Macam Dongeng Serta Penjelasan Lalu Contohnya

Guruberbahasa.com- Macam-Macam Dongeng

Dongeng adalah cerita yg tidak benarbenar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yg aneh-aneh). Setiap anak pasti senang asalkan mendengarkan dongeng karena banyak  hal menarik dari dongeng tersebut. Hal-hal menarik dari sebuah dongeng terletak dengan perubahan nasib pelakunya, konflik yg terjadi, bersama amanat yg beroleh diambil sebagai suatu nilai didik. Dongeng biasanya bersifat menghibur bersama mengandung nilai pendidikan. Misalnya, dengan dongeng Malin Kundang kalian hendak terhibur dengan kesuksesan Malin Kundang yg bisa menjadi saudagar kaya raya, hidup mewah di kapal, bersama mempunyai istri yg cantik. Selain mengandung hiburan, cerita Malin Kundang juga mengandung pendidikan moral, yaitu asalkan sudah menjadi orang yg berhasil janganlah menyianyiakan bahang ibu bapak karena hendak menjadi anak yg durhaka. 

Berdasarkan isinya, dongeng terdiri atas 5 macam. Berikut ini macammacam dongeng. 

1. Fabel, yaitu dongeng yg berisi tentang dunia binatang. 
Contoh: Dongeng “Kancil dengan Buaya”. Dongeng "Kancil Mencuri Mentimun". 

2. Legenda, yaitu dongeng yg berhubungan dengan keajaiban alam, biasanya berisi tentang kejadian suatu tempat. 
Contoh: Dongeng “Rawa Pening”. Dongeng "Terjadinya Danau Toba". 

3. Mite, yaitu dongeng tentang dewa-dewa bersama makhluk halus. Isi ceritanya tentang kepercayaan animisme. 
Contoh: Dongeng “Nyi Roro Kidul”. 

4. Sage, yaitu dongeng yg banyak mengandung unsur sejarah. Karena diceritakan dari mulut ke mulut, lama-kelamaan terdapat tambahan cerita yg bersifat khayal. 
Contoh: Dongeng “Jaka Tingkir”. 

5. Parabel, yaitu dongeng yg banyak mengandung nilai-nilai pendidikan maupun cerita pendek bersama sederhana yg mengandung ibarat maupun hikmah sebagai pedoman hidup. 
Contoh: Dongeng “Si Malin Kundang”.

CONTOH LEGENDA


Si Janda bersama Ketela Pohon
(Oleh: Suhita Whini S.)

Pada zaman dahulu,  hiduplah seorang janda di sebuah desa terpencil. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, setiap hari ia menjual dedaunan bersama rempah-rempah hasil ladang miliknya yg tak seberapa luas. Suatu hari terjadi serangan babi hutan. Seluruh ladang petani di desa itu hancur karena serangan binatang buas itu, termasuk ladang si Janda. Si janda sangat sedih karenanya. Ladang itu adalah satusatunya sumber penghidupannya. 

Kini ladang itu sudah rusak bersama ia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam keputusasaannya, ia berjalan menyusuri hutan seorang diri. Ia berharap beroleh menemukan sesuatu yg bisa dijual ke pasar. Tak lama kemudian sampailah  ia dengan sebuah pohon aneh yg rindang bersama besar. Buahnya panjang bersama berwarna cokelat tua. Si Janda tak pernah tahu tentang keberadaan pohon tersebut sebelumnya. Ia lalu duduk di bawah pohon itu untuk melepas lelah. 

Tiba-tiba terdengar suara yg sangat keras, "Hai anak manu sia, mengapa kau duduk di situ? Tidakkah kau harus bekerja mengurus keluargamu?" Si Janda sangat terkejut, lalu mencari asal suara itu. Mengetahui asal suara yg menggelegar itu dari pohon yg berdiri kokoh di depannya, tubuh si Janda gemetar. Lidahnya kelu. "Jangan takut, aku tak bermaksud bahang buas padamu. Ayolah, bahang reaksi pertanyaanku," balas suara tadi. Setelah mengumpulkan segala keberaniannya, akhirnya si Janda menceritakan kejadian yg menimpanya serta tujuannya datang ke hutan itu. "Kasihan sekali kau. Kalau begitu, izinkan aku membantumu, terimalah pemberianku ini." Pohon itu lalu menjatuhkan beberapa buahnya. Akan tetapi,  s i Janda bingung bagaimana cara memakannya. 

Sebab, baru kali ini dia melihat buah aneh itu. "Jangan bingung, rebus saja buahku, kau sudah beroleh menikmatinya," terdengar sang pohon menjelaskan. "Terima kasih, wahai pohon yg baik. Aku sangat tertolong sekarang. Dengan apa aku harus membalas kebaikanmu ini?" "Tak apa-apa, kau tak perlu membalasnya. Aku hanya ingin membantu. Oh ... aku lupa memperkenalkan, namaku Ketela Pohon." "Sekali lagi terima kasih, Ketela Pohon." Begitulah seterusnya, hidup si Janda kini ditopang sepenuhnya oleh Ketela Pohon. Buah pemberian Ketela Pohon sebagian dimakan d an s isanya d ijual ke pasar. Orang-orang sangat menyukai buah yg dijual oleh si Janda, walaupun awalnya mereka merasa asing. 

Pada suatu hari, tak seperti biasanya si Janda tidak pergi ke hutan untuk mengambil buah Ketela Pohon. Hari itu ia masih mempunyai persediaan untuk dimakan sekaligus untuk dijual. Keesokan harinya saat berjualan di pasar, ia mendengar kabar bahwa kemarin pasukan kerajaan membabat habis hutan di daerahnya. Si Janda sangat terkejut. Ia lalu lari tunggang langgang menuju ke hutan. Ia ingin membuktikan kebenaran berita itu. Jika memang benar, sungguh ia tidak ingin kehilangan dewa penolongnya yg sudah banyak membantunya saat mengalami kesulitan hidup. 

Sesampai di dalam hutan, tubuh si Janda lemas. Tak ada sebatang pohon pun yg masih berdiri tegak, semuanya roboh. Hanya tonggak-tonggak kayu yg tersisa. Mata Si Janda nanar melihat pemandangan yg terpampang persis di depannya. Tanpa ba bi bu lagi, segera dia mencari batang ketela pohon. Akhirnya, ia menemukan Ketela Pohon yg sudah tergeletak tak berdaya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal karena kemarin tidak pergi ke hutan. Andai saja ia kemarin datang, ia bisa melihat Ketela Pohon untuk yg terakhir kalinya bersama mengucapkan salam perpisahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Si Janda hanya bisa menangis meratapi nasibnya. 

Dalam tangisnya yg panjang, ia memohon kepada Tuhan agar dipertemukan kembali dengan Ketela Pohon. "Jangan menangis, Kawan. Kau beroleh memotong tubuhku menjadi bagian-bagian yg lebih kecil, lalu tanamlah. Suatu saat nanti kau hendak kembali bersua denganku," kata Ketela Pohon. Si Janda terperanjat namun gembira. Tak disangkanya Ketela Pohon sahabatnya itu masih bisa bersuara. Segera ia mengambil tubuh Ketela Pohon yg sudah terpotong-potong lalu membawanya pulang ke rumah. Sesampai di rumah segera ia tanam batang-batang pohon itu sesuai dengan petunjuk  Ketela Pohon.

Waktu berlalu. Batang-batang itu kini sudah tumbuh bersemi. Potongan batang yg ditancapkan si Janda di ladangnya kini tumbuh menjadi satu pohon yg utuh. Saat si Janda tengah asyik menyiangi tanamannya, terdengar suara Ketela Pohon, "Terima kasih, hai J anda yg baik hati! Semua ini berkat kemuliaan hatimu. Tuhan sudah mengabulkan doamu." "Tak apa, Kawan! Aku harus membalas budi baikmu. Kau sudah banyak membantuku." "Oh ya, kini kau bisa mengambil buahku kembali. Tetapi, kini buahku berada di dalam tanah, batangku juga tak bisa tinggi menjulang seperti dulu lagi." "Mengapa begitu?" tanya si Janda. "Itu semua karena kehendak Tuhan. Kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja. 


Kini, kau tak perlu takut kehilangan diriku lagi karena kau beroleh memperbanyak diriku. Caranya sama dengan yg kau lakukan kemarin terhadapku." Si Janda mengangguk-angguk tanda mengerti, lalu tersenyum bahagia. Kini Ketela Pohon beroleh kembali lagi ke sisinya, walaupun dengan wujud yg sedikit ber beda. Begitulah, waktu terus bergulir. Ketela Pohon tetap hidup hingga kini. Karena buahnya berada di dalam tanah, orangorang menyebutnya dengan sebutan umbi. Mereka juga meniru cara s i J anda mem perbanyak tanaman itu yg kemudian lebih dikenal dengan nama setek. Itulah asal-usul ketela pohon yg kita kenal sekarang ini. 

(Sumber: Yunior, 8 April 2007 )

No comments:

Post a Comment