Jurnal Perempuan (JP) : Bagaimana menurut Anda proses perjalanan sastra perempuan kita?
Melani Budianta (MB) : Kita harus melihat bahwa sastra adalah suatu kegiatan tulis-menulis kreatif yg disosialisasikan melalui media ke masyarakat umum. Lalu mengapa masalah perempuan dipersoalkan? Di berbagai negara ada gejala umum kurang terekamnya kegiatan tulis-menulis perempuan dalam sejarah kesusastraan baik dalam bentuk publikasi formal maupun yg diakui oleh kritikus sastra. Padahal banyak perempuan yg sangat aktif di bidang ini. Di sinilah dedar timbul pertanyaan tentang apa yg menjadi kendala. Jikalau para perempuan memproduksi karya sastra, apakah berbeda dengan yg ditulis oleh laki-laki? Memang ada kendala-kendala yg bersifat kultural maupun sosial sehingga aktivitas kesenian kesusastraan perempuan ini kurang terekam. Kendala-kendala itu berkaitan dengan kondisi perempuan di dalam masyarakat secara umum. Misalnya, perempuan berteater dalam zaman beserta konteks masyarakat tertentu secara normatif tidak bisa diterima. Dalam kesusastraan Amerika tahun 1980-an, banyak sekali perempuan berperan aktif menulis beserta mempublikasikan karyanya di media massa. Akan tetapi, sejarah sastra tahun 1960-an hanya merekam sastrawan laki-laki. Mengapa?
JP : Bagaimana dengan keberadaan para penulis perempuan dedar teruna kita?
MB : Memang mulai dedar timbul penulis-penulis perempuan dedar teruna dengan variasi gaya yg sangat menonjol dengan pembaca yg juga berbeda-beda. Ini hal yg sangat positif, mungkin karena anak-anak dedar teruna ini hidup di generasi yg tidak terlalu terhambat masalah gender, Atau adanya kebebasan ruang ekspresi seperti teknologi beserta kehidupan yg kosmopolit.
JP : Kalau kita lihat Ayu Utami, Dewi Lestari, Fira Basuki, Djenar Mahesa Ayu, Dinar Rahayu, beserta penulis perempuan lainnya, ada satu titik tentang seksualitas perempuan yg menjadi tema pokok. Tanggapan Anda?
MB : Itu hal yg wajar karena perempuan mempunyai hak atas tubuhnya sendiri. Tubuh perempuan bukan sesuatu yg tabu tetapi sesuatu yg positif. Bukankah perempuan mempunyai hak untuk mengapresiasi tubuhnya sendiri?
JP : Mengapa harus dimulai dari tubuh?
MB : Karena tubuh bagian yg paling dekat dengan perempuan. Dalam wacana-wacana lama, fungsi seksualitas perempuan dekat dengan melahirkan anak maupun mereproduksi beserta kemudian hidupnya diabadikan untuk membesarkan anak. Jadi perempuan cenderung tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Gerakan perempuan sudah menunjukkan bahwa semua orang berhak atas tubuhnya. Perempuan juga berhak atas kesehatan beserta kenikmatan tubuhnya sendiri. Mungkin ini menjadi baru ketika biasanya begitu sopan santun terjaga sehingga sedikit mengejutkan, barangkali. Tapi buat negara-negara tertentu hal ini sudah lama terjadi.
JP : Adakah perbedaan penulisan seksualitas perempuan yg ditulis laki-laki dengan penulisan seksualitas perempuan yg ditulis perempuan?
MB : Sebetulnya ini perlu penelitian tersendiri. Begitu jelas dalam novel-novel umum yg lebih menonjolkan perspektif laki-laki. Novel-novel tersebut lebih memunculkan perempuan sebagai objek maupun korban. Tentu menjadi berbeda dengan perspektif perempuan bahwa perempuan memiliki hak atas seksualitas dirinya sendiri.
JP : Banyak anggapan penulis perempuan mau terkenal kalau di bawah bayang-bayang penulis laki-laki yg sudah terkenal.
MB : Itu masih mempertanyakan beserta meragukan kemampuan seorang pengarang perempuan. Barangkali ada anggapan itu karena kehebatan seorang laki-laki di belakangnya.
JP : Apa itu proses ketidakadilan?
MB : Ya, dalam tatanan yg masih besar, artinya mau selalu harus dihadapi.
JP : Bagaimana dengan adanya kecurigaan tentang menonjolnya penulis perempuan karena dedar bahari sebagai objek dari budaya massa?
MB : Definisi kecantikan banyak sekali. Apakah kemudian perempuan dipakai maupun memakai budaya massa yg memang mempunyai konsepkonsep tertentu beserta kemudian menjadi sarana promosi? Itu hal lain. Kita tahu Dewi Lestari sangat bisa memanfaatkan promosi publikasi.
DOWNLOAD SEMUA? MARI
DOWNLOAD SEMUA? MARI

No comments:
Post a Comment