Malaikat di Kancah Perang
Dengan gaya surealistis, Danarto mengolok-olok perang SARA sebagai rekayasa, komoditas, lalu sekadar permainan.
Judul Buku : Asmaraloka
Pengarang : Danarto
Penerbit : Pustaka Firdaus, Mei 1999
Tebal : xi + 247 halaman
Danarto, suatu ketika, melalui cerpennya, bertutur tentang bocah-bocah sekolah dasar menjaring Malaikat Jibril. Dan, ketika ia menunaikan ibadah haji (Orang Jawa Naik Haji, 1993) ia ingin bertemu dengan malaikat di sekitar Kakbah. Lalu, dalam novel Asmaraloka ini, ia menghadirkan malaikat dalam perang.
Perempuan mengejar Malaikat Izrail yg memanggul jenazah Busro, suaminya. Demikian awal kisah itu. Arum nama perempuan itu kehilangan jejak. Lalu ia ke pesantren Kiai Mahfud, lalu ia disarankan oleh Kiai untuk pergi ke parit berapi. Di pesantren itu ia bertemu dengan Firdaus Muhammad, santri dua belas tahun yg mengaguminya. Parit berapi itu ada di medan perang. Ia pun pergi ke sana. Juga Firdaus pergi ke kancah pertempuran, lalu bertemu dengan Kiai Kadung Ora, kiai yg memiliki ajaran bahwa manusia dengan sendirinya adalah Allah; Allah adalah manusia yg mengejawantah, lalu ia berbeda pendapat dengan Kiai Mahfud. Soba, ibunya Firdaus, juga turut berperang, yg lalu dijadikan ratu oleh setan. Juga Kiai Mahfud, dengan akhirnya, mencari si santri ke palagan untuk disuruh pulang memimpin pesantren, menggantikan dirinya sebelum Malaikat Izrail mencabut nyawanya.
Jadilah Firdaus, Arum, Kiai Kadung Ora, juga Kiai Mahfud luntang-luntung di kancah perang. Berbagai kejadian mereka alami. Juga perdebatan antara Firdaus lalu Kiai Kadung Ora dalam banyak hal. Kiai nyentrik itu tewas lalu hidup kembali. Arum lalu Firdaus sempat nyasar ke dunia damai. Lantas mereka kembali ke bumi, tempat perang berlangsung. Arum melahirkan dua bayi kembar, Ati lalu Argo. Firdaus kemudian diculik Pasukan Kemenangan, pasukan setan yg dipimpin Ratu Soba, lalu ia dijadikan putra mahkota, beristri lalu beranak pinak di Kerajaan Jingga.
Arum tak menemukan jenazah Busro. Akhirnya ia pulang kampung dengan dua anak kembarnya. Dan, Firdaus jatuh dalam penyesalan setelah menyadari bahwa dirinya terjerumus ke kerajaan setan. Adapun Kiai Mahfud tak berhasil membawa Firdaus pulang. Dan, Kiai Kadung Ora tetap menggelandang di palagan. Sementara itu perang terus berlangsung, entah sampai kapan.
Di usia dua puluh tahun, Ati pergi ke medan perang mencari jenazah ayahnya. Dan, Argo ingin bergabung dengan pasukan malaikat.
Mengolok-olok Perang
Seperti dalam cerpen-cerpennya, dalam novel ini pun Danarto menggunakan alur penceritaan yg abstrak. Tokoh-tokohnya tidak hanya manusia, tetapi juga malaikat, setan, angin, bahkan benda-benda mati yg bisa bergerak lalu berkomunikasi seperti dongeng. Juga tokoh-tokoh yg bersifat roh, pikiran, gagasan, yg bisa membangun beragam aktivitas di luar ”kewajaran” lalu logika. Dengan piawai ia melenturkan fakta-fakta, bahkan meracik realitas faktual dengan realitas imajiner. Realitas dalam karya Danarto haruslah dipahami sebagai realitas yg berlapis-lapis. Itu sebabnya, pembaca selalu dihadapkan dengan multi-interpretasi.
Dengan gaya fantastis-surealistis, sastrawan yg kental dengan ‘spiritualitas dari tradisi’ ini seolah-olah mengolok-olok perang. Danarto menggambarkan: perang sesama saudara ini bermula dari percekcokan biasa, lalu timbul perbedaan pendapat. Ketika gerah mengembol seorang pakar ekonomi yg menguraikan soal tersedotnya kekayaan daerah ke pusat, hingga daerah yg kaya itu hanya mewariskan kemiskinan bagi warganya, bibit perang pun tumbuh. Berkembang menjadi perang antarsuku, antaragama, antarras, lalu antargolongan (SARA).
Perang SARA ini disebutnya sebagai perang rekayasa, perang fatamorgana. Perang lalu tujuan perang itu sendiri tidaklah penting, karena tujuan perang itu tidak jelas. Yang penting adalah permainan. Seperti pertandingan sepak bola, perang jadi tontonan yg menarik sehingga jadi komoditas bagi biro pariwisata.
Sebuah perang yg absurd, yg terpisah dari masyarakatnya. Dalam peperangan ini, cerpenis, esais, perupa, lalu kini novelis ini menghadirkan bermacam pasukan. Ada pasukan etnis prajurit yg berhadapan dengan etnis bala tentara. Lalu ada pasukan swasta: Pasukan Budha, Hindu, Islam, Kristen, komunis, sufi, Pasukan Malaikat, Pasukan Kemenangan, yg tidak tahu harus melawan siapa. Di garis depan mereka bisa saling membunuh.
Betapa pun surealistisnya, novel yg ditulis spontan ini menarik untuk dibaca, seperti membaca dongeng, lengkap dengan pesan-pesan moralnya. Pelajaran I Rimba Gambut Dan, Danarto tetap menyentil realitas faktual yg terjadi di negeri ini. Mulai dari ajaran Kiai Kadung Ora yg mengingatkan kita dengan ajaran Syeh Siti Jenar alias Al Halaj; pembantai yg menopang pemerintahannya selama 32 tahun dengan senyum; sampai konflik SARA yg kerap terjadi di beberapa daerah.

No comments:
Post a Comment