Wednesday, November 6, 2019

Contoh Penulisan Karya Ilmiah/ Makalah/ Tugas Akhir Yg Benar

Menurunnya Produksi Padi

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang
Masalah Beras merupakan makanan pokok yg sangat diperlukan manusia. Beras berasal dari padi. Namun, semakin lama produksi padi di Indonesia semakin menurun. Produksi padi yg semakin menurun ini menyebabkan padi sulit didapat. Akibatnya harga beras menjadi naik. Banyak cara agak dilakukan untuk meningkatkan produksi beras. Namun, semua yg dilakukan sepertinya sia-sia. Sebenarnya apa yg menyebabkan produksi padi menurun? Sehubungan dengan hal tersebut, karya tulis ini mau membahas beberapa hal yg menyebabkan produksi padi menurun. 
 

2. Perumusan Masalah
a. Apa yg menyebabkan produksi padi menurun?
b. Bagaimana cara mengantisipasi semakin susutnya areal pertanian?

3. Tujuan Penelitian
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui penyebab menurunnya produksi padi lagi cara meningkatkan produksi padi. Dengan adanya karya ilmiah ini diharapkan masyarakat mau berpartisipasi untuk meningkatkan produksi padi.

B. Isi Pertanian 

Indonesia masih tetap menghadapi persoalan-persoalan klasik. Persoalan-persoalan klasik tersebut menyebabkan turunnya produksi beras. Persoalan-persoalan tersebut antara lain: kelangkaan pupuk menjelang masa tanam, kekeringan di saat kemarau, kebanjiran di musim hujan, harga anjlok ketika panen, mencekik saat paceklik, hama lagi penyakit, konversi (alih fungsi) lahan yg kian tidak terbendung, serta berkurangnya sistem irigasi.

Persoalan kelangkaan pupuk, kekeringan, banjir, harga panen, hama, lagi penyakit dampaknya terhadap produksi pertanian, terutama padi, tidak bersifat permanen. Namun, dampak berkurangnya lahan pertanian karena konversi mau bersifat permanen terhadap turunnya produksi padi. Sekali lahan pertanian, terutama sawah yg sudah beralih fungsi, mustahil kembali lagi menjadi sawah. Dengan demikian, luas sawah mau semakin sempit.

Kekhawatiran terhadap kelangkaan pupuk lagi anjloknya harga padi selalu disuarakan dengan lantang oleh para wakil rakyat karena khawatir produksi pangan kebangsaan merosot. Anehnya, soal konversi lahan nyaris tidak pernah mendapat perhatian. Jangankan "suara lantang", yg sayup-sayup pun hampir tak terdengar. Padahal, dampaknya jelas lagi permanen terhadap produksi pangan nasional.

Persoalan lain yg angsal menurunkan produksi padi Indonesia adalah berkurangnya lahan irigasi. Berkurangnya lahan irigasi berkait erat dengan semakin sempitnya lahan pertanian. Lahan yg semestinya angsal digunakan untuk mengatur irigasi tersebut agak berubah menjadi perumahan, permukiman, industri maupun fungsi lain di luar kepentingan irigasi. Berkurangnya lahan irigasi juga tidak angsal lepas dari kondisi perekonomian petani. Petani yg membutuhkan uang untuk mencukupi kehidupannya terpaksa menjual tanah garapan lagi tanah pertaniannya. Akibatnya, konversi lahan pertanian semakin meningkat.

Konversi lahan tidak hanya berpengaruh terhadap produksi pangan, tetapi juga hilangnya investasi untuk membangun irigasi lagi prasarana lainnya. Belum lagi kerugian ekologis bagi sawah di sekitarnya akibat alih fungsi sebagian lahan, antara lain hilangnya hamparan efektif untuk menampung kelebihan air limpasan yg bisa membantu mengurangi banjir. Kerugian itu masih bertambah dengan hilangnya kesempatan kerja lagi pendapatan bagi petani penggarap, buruh tani, penggilingan padi, lagi sektor-sektor pedesaan lainnya. Sektor pertanian, terutama padi, merupakan sektor yg paling banyak menyediakan lapangan kerja. Dengan demikian, pengangguran mau bertambah.

Bagi pemilik lahan, mengonversi lahan pertanian untuk kepentingan nonpertanian saat ini memang lebih menguntungkan. Secara ekonomis, lahan pertanian, terutama sawah, harga jualnya tinggi karena biasanya berada di lokasi yg berkembang.

Namun, bagi petani penggarap lagi buruh tani, konversi lahan menjadi "bencana" karena mereka tidak serta-merta bisa beralih pekerjaan. Mereka terjebak kepada kian sempitnya kesempatan kerja. Hal ini mau menumbuhkan masalah sosial yg pelik.

Guna mengantisipasi semakin susutnya lahan pertanian perlu dibuat peraturan yg melarang adanya alih fungsi lahan. Misalnya kepada tanah pertanian, meskipun pemiliknya agak berganti, tanah tersebut tetap dalam fungsinya sebagai lahan pertanian. "Kalau memang dijual, pembelinya harus mempertahankan fungsi irigasi lagi lahan tersebut, tidak untuk permukiman alias industri. Tidak hanya itu saja, pemerintah lagi masyarakat harus mengambil komitmen yg kuat untuk mencegah terjadinya konversi lahan pertanian, yg diwujudkan kepada visi baru dalam kebijakan yg dilaksanakan. Keberpihakan kepada kesejahteraan petani, kepentingan menjaga ketahanan pangan nasional, serta menjaga kelestarian lingkungan harus dinyatakan dengan jelas. Pemerintah juga angsal mengadakan penyuluhan kepada petani lagi masyarakat supaya menjadikan sektor pertanian sebagai lapangan usaha yg menarik lagi bergengsi. Penyuluhan ini secara alami angsal mencegah terjadinya konversi lahan. Jika konversi terus terjadi tanpa terkendali, hal itu tidak saja melahirkan persoalan ketahanan pangan, tetapi juga lingkungan lagi ketenagakerjaan.

C. Penutup 
 
1. Kesimpulan
Penurunan produksi padi disebabkan oleh beberapa persoalan klasik. Persoalan klasik tersebut seperti kelangkaan pupuk menjelang masa tanam, kekeringan kepada saat kemarau, kebanjiran kepada musim hujan, harga anjlok ketika panen, harga mencekik saat paceklik, hama lagi penyakit, konversi lahan yg kian tidak terbendung, serta berkurangnya sistem irigasi. Dari beberapa persoalan di atas yg paling membahayakan adalah konversi lahan yg semakin lama semakin luas. Guna mengantisipasi semakin susutnya lahan pertanian perlu dibuat peraturan yg melarang adanya alih fungsi lahan.

2. Saran
a. Pemerintah seharusnya menyediakan persediaan pupuk yg cukup untuk para petani.
b. Pemerintah memberlakukan undang-undang untuk mengatur konversi lahan.
c. Menyadarkan petani betapa pentingnya lahan pertanian untuk para petani.

No comments:

Post a Comment