Sunday, November 3, 2019

Bagaimana Penyebaran Suku Beserta Budaya Betawi?

Sejarah terbentuknya masyarakat Betawi di Jakarta (Batavia) terbilang panjang, sepanjang perjalanan sejarah terbentuknya kota Jakarta. Orang Betawi sendiri dengan umumnya tidak mengetahui legenda yg menceritakan asal muasal diri mereka.  Di Desa Ciracas, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, dikenal cerita yg mengisahkan orang Betawi sebagai keturunan pria Demak yg gerah beristri dengan wanita Cina. Orang Betawi sudah pernah ada jauh sebelum Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen membumihanguskan kota Jayakarta dengan 1619, yg kemudian didirikan diatas reruntuhannhya sebuah kota yg diberi nama Batavia. Jadi tidaklah benar bila ada yg mengatakan bila orang Betawi itu adalah keturunan budak yg didatangkan VOC untuk mengisi kota benteng Batavia (intramuros). Ada beberapa ahli sejarah yg concern dengan sejarah terbentuknya orang Betawi.
 
 
Seorang ahli budaya Betawi Ridwan Saidi, memaparkan bila cikal bakal sejarah orang Betawi dihubungkan dengan seorang tokoh bernama Aki Tirem yg hidup di daerah Kampung Warakas (Jakarta Utara) dengan abad ke dua. Aki Tirem ini hidup dari membuat periuk, namun rumahnya sering disatroni bajak laut untuk merampok priuk buatannya. Karena kewalahan melawan bajak laut sendirian, maka ia pun memutuskan mencari perlindungan dari sebuah kerajaan. Saat itulah Dewawarman seorang berilmu dari India yg menjadi menantunya dimintanya mendirikan kerajaan bersama raja. Maka dengan tahun 130 berdirilah kerajaan pertama di Jawa yg namanya Salakanagara. Salakanagara nagara menurut Ridwan berasal ari bahasa Kawi salaka yg artinya perak.

Secara etimologi kemudian Salakanagara ini dikaitkan oleh Ridwan dengan laporan ahli geografi Yunani bernama Claudius Ptolomeus dengan tahun 160 dalam buku Geografia yg menyebut bandar di daerah Iabadiou (Jawa) bernama Argyre yg artinya Perak. Hal ini pun dihubungkan dengan laporan dari Tiongkok, jaman Dinasti Han yg dengan tahun 132 mengabarkan tentang kedatangan utusan Raja Ye Tiau bernama Tiao Pien.

Raja Ye Tiau dipersonalisasikan sebagai Jawa bersama Tiau Pien sebagai Dewawarman. Termasuk dalam hal ini yg disebut oleh sejarawan Slamet Muldjana sebagai Kerajaan Holotan yg merupakan pendahulu Kerajaan Tarumanagara dalam bukunya Dari Holotan sampai Jayakarta adalah Salakanagara.

Soal letak Salakanagara, Ridwan menunjuk kepada daerah Condet. Menurutnya, di kawasan Condet ini pohon salak tumbuh subur bersama banyak sekali nama-nama tempat yg bermakna sejarah, seperti Bale Kambang bersama Batu Ampar. Bale Kambang adalah pasangrahan raja bersama Batu Ampar adalah batu besar tempat sesaji diletakkan.

Di Condet pun terdapat makam kuno yg disebut penduduk Kramat Growak bersama makam Ki Balung Tunggal yg ditafsirkan Ridwan adalah tokoh dari zaman kerajaan pelanjut Salakanagara yaitu Kerajaan Kalapa. Tokoh ini menurut Ridwan adalah pemimpin pasukan yg tetap melakukan peperangan walaupun tulangnya tinggal sepotong maka lantaran itu dijuluki Ki Balung Tunggal.

Setelah menunjuk bukti secara geografis, Ridwan pun melengkapi teorinya tentang cikal bakal sejarah orang Betawi dengan sejarah perkembangan bahasa bersama budaya Melayu agar beroleh semakin terlihat batas antara orang Betawi dengan orang Sunda. Ia pergi ke abad 10. Saat terjadi persaingan antara wong Melayu yaitu Kerajaan Sriwijaya dengan wong Jawa yg tak lain adalah Kerajaan Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang bersama membawa Cina ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu. Perdamaian tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah timur mulai dari Cimanuk dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan Kediri. Artinya pelabuhan Kalapa termasuk kendali Sriwijaya.

Sriwijaya kemudian meminta mitranya yaitu Syailendra di Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa bagian barat. Tetapi ternyata Syailendara abai maka Sriwijaya mendatangkan migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa. Pada periode itulah terjadi persebaran bahasa Melayu di Kerajaan Kalapa yg dengan gilirannya – karena gelombang imigrasi itu lebih besar ketimbang pemukin awal – bahasa Melayu yg mereka bawa mengalahkan bahasa Sunda Kawi sebagai lingua franca di Kerajaan Kalapa.

Ridwan mencontohkan, orang “pulo”, yaitu orang yg berdiam di Kepulauan Seribu, menyebut musim di mana angin bertiup sangat kencang bersama membahayakan nelayan dengan “musim barat” (bahasa Melayu), bukan “musim kulon” (bahasa Sunda). Orang-orang di desa pinggiran Jakarta mengatakan “milir”, “ke hilir” bersama “orang hilir” (bahasa Melayu Kalimantan bagian barat) untuk mengatakan ke kota bersama orang kota.

No comments:

Post a Comment